
Tribun Group – Banyak orang mengira hujan sudah cukup untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Ketika langit mendung dan hujan turun deras, wajar kalau kita berpikir, “Aman, api pasti sudah mati.” Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu — terutama ketika yang terbakar adalah lahan gambut. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, fenomena ini terjadi berulang kali: hujan sempat menekan luas kebakaran, tapi begitu cuaca kembali kering, api seolah “bangkit dari mati” dan luas karhutla melonjak lagi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi Kalimantan kembali meningkat setelah sempat mereda. Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi dua wilayah yang paling signifikan mengalami kenaikan luas area terdampak. Penyebab utamanya bukan karena hujan tidak turun, melainkan karena api di dalam lapisan gambut belum benar-benar padam — ia hanya “tertidur” sementara di bawah permukaan tanah.
Situasi ini bukan hal baru, tapi tetap mengkhawatirkan. Tahun demi tahun, pola yang sama berulang: upaya pemadaman dilakukan, hujan datang membantu, publik mulai lega, lalu beberapa waktu kemudian api muncul lagi dengan luas yang tak kalah besar. Lalu apa sebenarnya yang membuat kebakaran gambut begitu sulit ditaklukkan? Dan apa yang perlu kita pahami agar bisa melihat masalah ini dari sudut yang lebih jernih?
Memahami Karakter Unik Kebakaran Gambut
Gambut adalah material organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk selama ribuan tahun di kondisi lembap dan tergenang air. Di Kalimantan, lapisan gambut bisa mencapai kedalaman belasan meter. Nah, inilah inti masalahnya.
Api yang Membakar dari Dalam, Bukan dari Atas
Kebakaran gambut berbeda dari kebakaran hutan biasa. Kalau kebakaran hutan tropis pada umumnya membakar vegetasi di permukaan — daun, ranting, semak — kebakaran gambut justru membakar lapisan tanah itu sendiri dari dalam. Api merambat perlahan di bawah permukaan, mengonsumsi bahan organik yang tersimpan di dalam gambut dengan cara yang nyaris tidak terlihat dari luar.
Bayangkan seperti bara di dalam arang. Kalau Anda menyiram air di permukaan arang yang membara, bagian luarnya memang akan padam. Tapi kalau inti di dalamnya masih menyimpan panas, begitu kondisi kering kembali, bara itu akan hidup lagi. Itulah yang terjadi di lahan gambut Kalteng dan Kaltim. Hujan membasahi permukaan, tapi api di lapisan bawah tetap membara dengan pelan dan setia menunggu giliran untuk muncul kembali.
Mengapa Gambut Sangat Rentan Terbakar?
Gambut yang sehat seharusnya jenuh air — basah, lembap, dan sulit terbakar. Masalah muncul ketika gambut mengalami drainase berlebihan akibat pembukaan lahan, pembuatan kanal, atau perubahan tata kelola air. Ketika gambut mengering, kandungan organiknya menjadi bahan bakar yang sangat efisien. Satu kali terkena api — baik dari pembakaran lahan yang disengaja maupun dari sumber lain — gambut bisa terbakar berbulan-bulan tanpa henti.
Inilah kenapa upaya pemadaman karhutla gambut membutuhkan strategi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar memadamkan api di permukaan. Tim pemadam harus memastikan air meresap jauh ke dalam lapisan gambut, bukan hanya membasahi bagian atasnya.
Pola yang Berulang: Hujan Datang, Luas Berkurang, lalu Meningkat Lagi
BNPB menjelaskan bahwa hujan yang turun di beberapa wilayah Kalteng sebelumnya memang sempat membantu menurunkan luas area karhutla. Ini hal yang positif dan disambut baik oleh tim penanggulangan di lapangan. Namun, begitu intensitas hujan berkurang dan kondisi cuaca kembali kering, titik api yang sebelumnya “tersembunyi” di bawah gambut kembali menyala dan meluas.
Faktor Cuaca dan Musim Kemarau
Kalimantan memang sedang berada dalam periode rentan kebakaran. Musim kemarau yang panjang, ditambah dengan anomali cuaca yang membuat hujan tidak merata, menciptakan kondisi ideal bagi karhutla untuk terus berkembang. Ketika curah hujan tidak cukup untuk membasahi gambut secara menyeluruh, pemadaman alami dari hujan hanya bersifat sementara.
Para ahli meteorologi mengingatkan bahwa curah hujan harian yang rendah, meski turun setiap hari, belum tentu cukup untuk memulihkan kelembapan gambut yang sudah sangat kering. Dibutuhkan hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi cukup panjang untuk benar-benar “mematikan” api gambut dari dalam.
Peran Angin dalam Penyebaran Api
Selain faktor curah hujan, angin juga berperan besar. Di musim kemarau, angin kencang bisa membawa bara dan percikan api ke area yang belum terbakar, memperluas front kebakaran secara signifikan dalam waktu singkat. Kombinasi gambut kering dan angin kencang adalah skenario terburuk yang bisa terjadi di lapangan.
Apa yang Dilakukan BNPB dan Tim Penanggulangan?
BNPB bersama instansi terkait, termasuk Manggala Agni, TNI, Polri, dan pemerintah daerah, terus berupaya menekan laju kebakaran. Beberapa langkah yang umum dilakukan antara lain pemadaman darat dengan mengerahkan personel ke titik api, operasi water bombing menggunakan helikopter untuk membasahi area yang sulit dijangkau secara langsung, serta operasi hujan buatan (teknologi modifikasi cuaca) untuk mendorong pembentukan hujan di wilayah terdampak.
Namun, semua upaya ini tetap menghadapi tantangan besar ketika berhadapan dengan gambut yang sudah terlanjur sangat kering. Pemadaman yang efektif di lahan gambut memerlukan teknik khusus seperti penyuntikan air langsung ke dalam lapisan gambut menggunakan selang panjang — sebuah proses yang memakan waktu, tenaga, dan sumber daya yang tidak sedikit.
Pentingnya Pencegahan Sejak Dini
Para praktisi penanggulangan bencana sepakat bahwa mencegah jauh lebih efisien daripada memadamkan. Mempertahankan tinggi muka air gambut agar tetap lembap sepanjang tahun, terutama menjelang musim kemarau, adalah kunci utama pencegahan. Program pembasahan kembali gambut (rewetting) yang dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menjadi salah satu upaya jangka panjang yang diandalkan untuk mengurangi risiko kebakaran gambut di masa mendatang.
Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Karhutla Gambut
Apakah kebakaran gambut selalu disebabkan oleh manusia?
Tidak selalu, tapi mayoritas kasus karhutla di Indonesia — termasuk di Kalteng — melibatkan aktivitas manusia, baik yang disengaja (pembakaran lahan untuk pertanian atau perkebunan) maupun tidak disengaja (percikan dari aktivitas di sekitar lahan gambut). Kebakaran gambut akibat petir atau faktor alam murni jarang terjadi di Indonesia.
Seberapa lama gambut bisa terus terbakar?
Ini yang membuat banyak orang terkejut: gambut bisa terbakar selama berbulan-bulan, bahkan melewati musim hujan, jika api sudah cukup dalam meresap ke lapisan gambut. Ada catatan kasus di berbagai belahan dunia di mana gambut terbakar selama lebih dari satu tahun tanpa henti. Di Indonesia, kebakaran gambut yang bertahan melewati musim hujan bukan hal yang asing lagi bagi para petugas lapangan.
Apa dampak langsung bagi masyarakat sekitar?
Dampaknya sangat nyata dan langsung dirasakan. Kabut asap yang dihasilkan kebakaran gambut jauh lebih tebal dan beracun dibanding kebakaran hutan biasa karena gambut membakar secara tidak sempurna dan menghasilkan konsentrasi partikel berbahaya yang sangat tinggi. Kualitas udara di wilayah terdampak bisa merosot ke level berbahaya, memaksa sekolah tutup, mengganggu aktivitas ekonomi, dan yang paling serius — mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Masyarakat?
Karhutla bukan semata-mata urusan pemerintah atau petugas pemadam. Kesadaran dan partisipasi masyarakat sangat menentukan. Tidak membakar lahan, melaporkan titik api sejak dini, dan mendukung program pemulihan gambut adalah langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Di level yang lebih luas, mendukung kebijakan tata kelola gambut yang baik dan mengkritisi praktik alih fungsi lahan gambut secara masif juga merupakan bentuk kontribusi nyata.
Karhutla di Kalteng yang kembali meluas setelah sempat mereda oleh hujan adalah pengingat keras bahwa masalah ini jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Api gambut tidak bisa sekadar “disiram” lalu selesai. Diperlukan pemahaman mendalam, strategi jangka panjang, dan komitmen bersama untuk benar-benar menyelesaikan akar masalahnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita peduli — tapi seberapa jauh kepedulian itu diwujudkan dalam tindakan nyata, hari ini juga.
