Indonesia Masuk Daftar? Ini 10 Negara yang Harga Rumahnya Paling Susah Dijangkau Gaji Bulanan

Indonesia Masuk Daftar? Ini 10 Negara yang Harga Rumahnya Paling Susah Dijangkau Gaji Bulanan

Tribun Group – Punya rumah sendiri — kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi jutaan orang di seluruh dunia, mimpi itu terasa semakin jauh. Bayangkan kamu bekerja keras setiap bulan, menabung sedikit demi sedikit, namun harga rumah di sekitar tempat tinggalmu justru naik lebih cepat dari jumlah tabunganmu. Frustrasi? Sudah pasti. Dan ternyata, kamu tidak sendirian dalam situasi ini.

Fenomena ketidakseimbangan antara harga properti dan penghasilan masyarakat bukan lagi masalah satu-dua negara. Ini sudah menjadi krisis global yang menyentuh negara berkembang hingga negara maju sekalipun. Dari Asia Tenggara hingga Eropa Barat, dari Amerika Latin hingga Oseania — jutaan keluarga menghadapi realita yang sama: harga rumah melambung, sementara gaji jalan di tempat.

Yang bikin lebih mengejutkan, Indonesia ternyata masuk dalam daftar negara-negara dengan ketimpangan terbesar antara harga rumah dan pendapatan rata-rata penduduknya. Lalu negara mana saja yang ada di daftar ini, dan apa yang membuat kondisi ini bisa terjadi? Yuk, kita bahas tuntas.

Mengapa Harga Rumah Terus Melambung Jauh dari Jangkauan Gaji?

Sebelum masuk ke daftar negaranya, penting untuk memahami akar masalahnya. Kenapa harga properti bisa naik begitu cepat sampai gaji bulanan terasa tak ada artinya?

Ada beberapa faktor besar yang mendorong fenomena ini. Pertama, inflasi yang terus mengikis daya beli masyarakat — ketika harga barang dan jasa naik, nilai uang yang kamu simpan di rekening justru menyusut. Kedua, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang fluktuatif membuat cicilan bulanan bisa tiba-tiba membengkak. Ketiga, pertumbuhan populasi di kota-kota besar mendorong permintaan properti melebihi pasokan yang tersedia.

Selain itu, ada fenomena yang sering disebut sebagai financialization of housing — di mana rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, tapi menjadi instrumen investasi. Investor besar, baik perorangan maupun institusi, membeli properti dalam jumlah besar untuk disewakan atau dijual kembali, sehingga harga terus terkerek naik sementara ketersediaan unit untuk pembeli pertama semakin terbatas.

10 Negara dengan Harga Rumah Paling Tidak Terjangkau

Berdasarkan berbagai indeks keterjangkauan perumahan global yang membandingkan rasio harga properti terhadap pendapatan tahunan rata-rata penduduk, berikut adalah negara-negara yang menempati posisi teratas dalam daftar krisis keterjangkauan perumahan.

1. Hong Kong

Hong Kong hampir selalu menempati posisi pertama dalam setiap indeks keterjangkauan perumahan global. Harga properti di sana bisa mencapai lebih dari 20 kali lipat pendapatan tahunan rata-rata penduduknya. Lahan yang sangat terbatas ditambah permintaan yang sangat tinggi menjadikan Hong Kong sebagai “kota termahal untuk punya rumah” di dunia.

2. Australia

Sydney dan Melbourne adalah dua kota yang secara konsisten masuk dalam daftar kota paling tidak terjangkau di dunia. Harga rumah di Sydney rata-rata bisa mencapai 10–12 kali pendapatan tahunan rata-rata warganya. Banyak generasi muda Australia yang menyerah dan memilih menyewa seumur hidup.

Berita Lain  Harga Emas Dunia Tertekan, Investor Mulai Waspadai Sinyal Kenaikan Suku Bunga AS

3. Selandia Baru

Seperti Australia, Selandia Baru juga mengalami lonjakan harga properti yang sangat tajam, terutama pasca pandemi. Auckland menjadi salah satu kota paling mahal di dunia relatif terhadap pendapatan penduduknya. Pemerintah Selandia Baru bahkan sempat melarang warga asing membeli properti sebagai upaya menekan harga.

4. Kanada

Toronto dan Vancouver adalah episentrum krisis perumahan Kanada. Harga rumah di kedua kota ini sudah lama melampaui kemampuan beli rata-rata warganya. Banyak pekerja profesional muda memilih pindah ke kota-kota kecil yang lebih terjangkau daripada harus berjuang keras di kota besar.

5. Inggris

London adalah contoh klasik kota yang harga propertinya sudah terputus sepenuhnya dari realita gaji penduduknya. Namun kini fenomena ini sudah merambah ke kota-kota lain di Inggris seperti Bristol dan Manchester. Generasi milenial Inggris bahkan punya julukan sendiri: “Generation Rent” alias generasi yang menyewa selamanya.

6. Singapura

Meskipun Singapura memiliki sistem perumahan publik (HDB) yang cukup terstruktur, harga properti di pasar bebas tetap berada di level yang sangat tinggi. Apartemen mewah di Singapura bisa dibanderol puluhan juta dolar Singapura, jauh melampaui kemampuan rata-rata penduduk biasa.

7. Amerika Serikat

Kota-kota seperti San Francisco, New York, dan Los Angeles sudah lama dikenal sebagai pasar properti yang tidak ramah bagi pembeli pertama. Namun belakangan, kota-kota yang dulunya terjangkau seperti Austin dan Nashville juga mulai mengalami lonjakan harga yang signifikan akibat gelombang urbanisasi pasca pandemi.

8. China

Kota-kota besar di China seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen memiliki rasio harga rumah terhadap pendapatan yang sangat tinggi. Tekanan sosial untuk memiliki properti sebelum menikah membuat permintaan tetap tinggi, meski pemerintah China sudah mulai intervensi keras di pasar properti dalam beberapa tahun terakhir.

9. Israel

Tel Aviv dan beberapa kota besar lainnya di Israel mengalami kenaikan harga properti yang dramatis dalam satu dekade terakhir. Keterbatasan lahan dan pertumbuhan populasi yang pesat menjadi faktor utama, membuat banyak warga Israel harus mengorbankan sebagian besar penghasilannya hanya untuk biaya hunian.

10. Indonesia

Ya, Indonesia memang masuk dalam daftar ini. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, harga properti sudah sangat tidak proporsional dibandingkan rata-rata gaji bulanan masyarakat. Seorang pekerja dengan gaji UMR di Jakarta, misalnya, butuh waktu puluhan tahun hanya untuk mengumpulkan uang muka rumah di lokasi strategis. Ini bukan isu kelas tertentu saja — ini menyentuh hampir semua lapisan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Apa yang Membuat Indonesia Masuk Daftar Ini?

Indonesia menghadapi kombinasi tantangan yang cukup kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan mayoritas pekerja. Upah minimum memang naik setiap tahun, tapi laju kenaikannya jauh tertinggal dibanding apresiasi harga properti, terutama di kawasan perkotaan.

Berita Lain  Purbaya Yudhi Sadewa soal Anjloknya Rupiah: Fundamental Ekonomi Kuat, Pelemahan Dinilai Tak Masuk Akal

Selain itu, regulasi pertanahan yang rumit, keterbatasan infrastruktur di daerah pinggiran, dan spekulasi properti oleh investor membuat pasar perumahan di Indonesia cenderung tidak efisien. Rumah subsidi pemerintah pun kerap berada di lokasi yang jauh dari pusat aktivitas, sehingga banyak calon pembeli yang enggan mengambilnya karena biaya transportasi harian yang tidak kalah memberatkan.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Keterjangkauan Perumahan

Apakah ada solusi nyata untuk masalah ini?

Berbagai negara sudah mencoba beragam pendekatan. Singapura dengan model HDB-nya dianggap sebagai salah satu yang paling berhasil menyediakan hunian terjangkau bagi warganya. Negara-negara Eropa seperti Jerman dan Austria menekan harga sewa melalui regulasi ketat. Indonesia sendiri memiliki program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang menyediakan KPR subsidi bunga rendah, meski jangkauannya masih terbatas.

Apakah generasi muda masih bisa punya rumah?

Tentu bisa, tapi butuh strategi yang lebih matang dibanding generasi sebelumnya. Mulai dari memilih lokasi yang masih berkembang namun potensi aksesnya bagus, memanfaatkan program KPR subsidi, menabung untuk uang muka lebih awal, hingga mempertimbangkan kepemilikan bersama (co-ownership) dengan pasangan atau keluarga.

Apakah harga properti akan terus naik selamanya?

Tidak selalu. Beberapa negara seperti China justru sedang mengalami koreksi harga properti yang cukup dalam. Faktor-faktor seperti penurunan populasi, perubahan pola kerja (remote work), dan intervensi pemerintah bisa memperlambat atau bahkan membalikkan tren kenaikan harga di beberapa pasar.

Langkah Praktis untuk Calon Pembeli Rumah di Tengah Harga yang Melambung

Meski kondisinya tidak mudah, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain: mulai mencicil tabungan uang muka sejak dini meski jumlahnya kecil, manfaatkan program KPR bersubsidi dari pemerintah, pertimbangkan lokasi di luar pusat kota namun tetap aksesibel, dan pelajari betul soal simulasi KPR sebelum mengambil keputusan.

Yang terpenting, jangan biarkan harga properti yang tinggi membuat kamu menyerah sepenuhnya. Perencanaan yang matang dan informasi yang tepat adalah modal paling berharga dalam perjalanan memiliki rumah pertama.

Krisis keterjangkauan perumahan adalah masalah struktural yang tidak akan selesai dalam semalam. Tapi dengan memahami kondisi pasar, mengetahui hak-hak sebagai calon pembeli, dan terus mengikuti perkembangan kebijakan perumahan, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas. Bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang sedang berjuang mewujudkan impian punya rumah — karena informasi yang tepat bisa menjadi langkah pertama yang mengubah segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *