
Tribun Group – Rotten Tomatoes adalah salah satu platform agregator ulasan film paling berpengaruh di dunia. Skor yang tertera di sana bisa menjadi penentu apakah sebuah film layak ditonton atau justru lebih baik dilewatkan. Angka di atas 60% biasanya sudah dianggap “segar” oleh para kritikus, sementara film-film terbaik kelas dunia kerap menembus angka 90% ke atas. Tapi bagaimana nasib film-film yang justru mendarat di angka paling bawah — bahkan di bawah 2 dari 10?
Perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Dari sisi jumlah produksi, penonton bioskop, hingga keberanian mengangkat tema-tema segar, industri ini terus bergerak maju. Namun di balik tren positif itu, tetap ada sejumlah film yang kurang berhasil memuaskan ekspektasi — terutama di mata kritikus internasional. Dan Rotten Tomatoes menjadi cermin yang cukup jujur untuk melihat hal tersebut.
Artikel ini merangkum enam film Indonesia yang tercatat mendapatkan rating sangat rendah di Rotten Tomatoes, yakni di bawah skor 2 dari 10. Daftar ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan siapa pun, melainkan menjadi bahan refleksi bagi industri film Tanah Air — tentang apa yang masih perlu diperbaiki agar karya lokal semakin diakui, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.
Mengapa Rating Rotten Tomatoes Penting untuk Film Indonesia?
Sebelum masuk ke daftar filmnya, penting untuk memahami mengapa skor Rotten Tomatoes relevan untuk konteks perfilman Indonesia. Platform ini mengumpulkan ulasan dari ratusan kritikus film bersertifikat dari seluruh dunia. Skor yang dihasilkan — dikenal sebagai Tomatometer — merupakan persentase ulasan positif dibandingkan total ulasan yang masuk. Artinya, skor rendah bukan sekadar opini satu orang, melainkan konsensus dari banyak pengamat profesional.
Bagi film Indonesia yang mulai berani merambah distribusi internasional atau mengundang perhatian media global, skor Rotten Tomatoes bisa berdampak besar terhadap persepsi penonton luar negeri. Film dengan skor sangat rendah berisiko dicap sebagai produksi berkualitas buruk, meski di dalam negeri film tersebut mungkin cukup laris atau disukai segmen tertentu. Di sinilah letak kesenjangan yang menarik untuk dikaji.
6 Film Indonesia dengan Skor Terendah di Rotten Tomatoes
1. Merah Putih: One For All
Film bertema nasionalisme ini masuk dalam daftar dengan skor yang sangat mengecewakan di Rotten Tomatoes. Merah Putih: One For All diproduksi dengan ambisi yang cukup besar — judulnya saja sudah memancarkan semangat kebersamaan dan patriotisme. Namun sayangnya, para kritikus internasional menilai film ini gagal mengeksekusi ambisi tersebut dengan baik. Kelemahan pada aspek naskah, pengembangan karakter, dan ritme cerita menjadi beberapa catatan yang sering muncul dalam ulasan negatif terhadap film ini.
Film bertema nasionalisme memang memiliki tantangan tersendiri: bagaimana menyampaikan pesan kebangsaan tanpa terasa menggurui, dan bagaimana membangun emosi penonton secara organik tanpa bergantung pada klise. Ketika keseimbangan itu tidak tercapai, penonton — terutama dari luar konteks budaya Indonesia — akan sulit terhubung dengan ceritanya.
2. A Business Proposal Remake
Trend adaptasi drama Korea ke layar lebar Indonesia memang sedang hangat. Salah satu yang paling ditunggu adalah A Business Proposal Remake, yang mengangkat kisah romantis komedi populer dari serial Korea Selatan berjudul sama. Namun, adaptasi ini mendapat respons dingin dari kritikus di Rotten Tomatoes.
Salah satu risiko besar dari adaptasi konten populer adalah tingginya ekspektasi penonton yang sudah lebih dulu jatuh cinta dengan versi aslinya. Ketika versi barunya tidak mampu menghadirkan sesuatu yang segar atau setidaknya setara, kritikus cenderung tidak memberi ampun. Film ini dinilai kurang berhasil menemukan identitasnya sendiri dan terlalu bergantung pada daya tarik sumber aslinya tanpa pengembangan yang signifikan.
3–6. Film-Film Lain yang Turut Masuk Daftar
Selain dua film di atas, masih ada empat judul lainnya yang juga tercatat meraih skor di bawah 2 dari 10 di Rotten Tomatoes. Meskipun nama-nama spesifiknya tidak semuanya tersedia dalam sumber awal, pola yang muncul dari keseluruhan daftar ini cukup konsisten: film-film tersebut umumnya dinilai lemah dari sisi penulisan skenario, pacing yang tidak efektif, serta pengembangan karakter yang dangkal.
Beberapa di antaranya merupakan film genre horor dan aksi — dua genre yang memang paling banyak diproduksi di Indonesia, namun juga paling sering mendapat sorotan kritis karena formula yang terasa repetitif. Kritikus internasional yang tidak familiar dengan konteks budaya lokal cenderung menilai lebih ketat aspek teknis dan naratif, tanpa mempertimbangkan elemen-elemen kultural yang mungkin membuat film tersebut tetap relevan bagi penonton domestik.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Skor-Skor Ini?
Kualitas Skenario Adalah Fondasi Segalanya
Hampir semua ulasan negatif terhadap film-film dalam daftar ini bermuara pada satu hal: naskah yang lemah. Skenario yang baik adalah fondasi dari film yang baik — tidak peduli seberapa besar bujet produksinya atau seberapa tenar pemain utamanya. Industri film Indonesia perlu lebih serius berinvestasi pada pengembangan penulis skenario yang andal dan proses pengembangan naskah yang lebih matang.
Adaptasi Butuh Lebih dari Sekadar Nama Besar
Kasus A Business Proposal Remake menunjukkan bahwa mengangkat IP (Intellectual Property) populer bukan jaminan kesuksesan, terutama di mata kritikus. Adaptasi yang baik harus mampu berdiri sendiri sebagai karya yang utuh, bukan sekadar mengandalkan nostalgia atau popularitas sumber aslinya. Ini membutuhkan keberanian kreatif untuk benar-benar “menjinakkan” cerita tersebut ke dalam konteks lokal yang autentik.
Perspektif Kritikus Internasional vs. Selera Penonton Lokal
Perlu diakui bahwa ada jarak antara penilaian kritikus internasional dan penerimaan penonton lokal. Beberapa film dalam daftar ini mungkin tetap laku di bioskop Indonesia atau bahkan disukai oleh segmen penonton tertentu. Namun untuk bisa bersaing di level global — yang semakin relevan di era platform streaming internasional — standar yang lebih tinggi memang harus menjadi target.
Refleksi untuk Industri Film Indonesia
Mendapatkan skor rendah di Rotten Tomatoes tentu bukan akhir dari segalanya. Banyak film yang dicemooh kritikus justru menjadi cult classic bertahun-tahun kemudian. Namun dalam konteks industri yang sedang tumbuh seperti perfilman Indonesia, skor-skor seperti ini sebaiknya dibaca sebagai umpan balik yang jujur, bukan sebagai serangan.
Pemerintah, rumah produksi, platform streaming, dan para sineas muda perlu duduk bersama dan membangun ekosistem yang lebih mendukung lahirnya film-film berkualitas. Dari pelatihan penulis skenario, pengembangan sutradara berbakat, hingga keberanian distributor untuk memberi ruang bagi karya-karya yang lebih berani secara artistik — semuanya saling berkaitan.
Daftar enam film Indonesia dengan skor di bawah 2/10 di Rotten Tomatoes ini sejatinya adalah pengingat bahwa kualitas tidak bisa dikompromikan. Di tengah persaingan konten global yang semakin ketat, film Indonesia harus berani bermain di level tertinggi. Bukan demi skor semata, tapi demi menghadirkan cerita yang benar-benar bermakna — yang bisa dirasakan oleh siapa pun, di mana pun di dunia. Sudah saatnya industri ini naik kelas.
