Pascabanjir Aceh Utara, Gangguan Kecemasan dan Trauma Ancam Pemulihan Korban

Pascabanjir Aceh Utara, Gangguan Kecemasan dan Trauma Ancam Pemulihan Korban

TRIBUN GROUP – Tim psikolog klinis dari Kementerian Kesehatan RI menemukan mayoritas penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, mengalami tingkat kecemasan berlebihan yang mengganggu aktivitas harian. Temuan ini mengungkap luka psikologis yang mendalam pascabencana, selain kerusakan fisik yang tampak.

Berdasarkan hasil pendampingan psikososial di Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Minggu (11/1), tim mencatat gejala tidak hanya berupa kecemasan, tetapi juga gangguan tidur dan kelelahan fisik yang meluas di kalangan korban dewasa.

“Tim kami memberikan penanganan awal untuk membantu penyintas mengelola stres, meningkatkan rasa aman, serta memperkuat mekanisme koping di tengah situasi pascabencana,” jelas Maidar, Penanggung Jawab Health Emergency Operational Center (HEOC) Kabupaten Aceh Utara, kepada Kompas.com.

Dua Sasaran, Dua Pendekatan

Penanganan difokuskan pada dua kelompok rentan. Untuk penyintas dewasa, dua psikolog, Amelia dan Nasri Zulhadi, memberikan pendampingan individual khusus bagi mereka yang menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Sementara untuk korban anak, pendekatan yang dilakukan lebih khusus. Psikolog anak, Euis Desi Manyang Sari dan Utari, mengidentifikasi trauma pada anak-anak yang tercermin dari lemahnya konsentrasi, mudah teralihkan, serta ketakutan berlebihan saat hujan turun—yang menjadi pemicu ingatan traumatis terhadap banjir.

“Pendekatan trauma healing terhadap anak-anak dilakukan melalui metode bermain dan aktivitas kreatif,” ujar Maidar. Metode ini dirancang agar anak-anak dapat mengekspresikan perasaan secara aman dan nyaman. Melalui observasi selama permainan, tim psikolog dapat mengidentifikasi keluhan dan memberikan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

Efektivitas Intervensi dan Tantangan ke Depan

Intervensi psikologis ini telah menunjukkan tanda-tanda awal keberhasilan. Maidar melaporkan, motivasi anak-anak untuk berinteraksi dan bekerja sama dalam aktivitas kelompok, seperti mewarnai, meningkat setelah mendapatkan pendampingan. Hal ini menjadi indikator penting dalam proses pemulihan psikologis jangka panjang.

Berita Lain  Polri Gelar Perkara dengan Kejagung, Tersangka Kasus Kayu Gelondongan di Banjir Sumatera Segera Ditetapkan

Namun, tantangan masih sangat besar. Maidar menekankan bahwa penanganan psikologis masih sangat dibutuhkan mengingat luasnya wilayah terdampak dan banyaknya jumlah pengungsi di Aceh Utara. “Kami akan berpindah-pindah dari titik pengungsian satu ke titik lainnya,” pungkasnya, menegaskan komitmen tim untuk menjangkau lebih banyak korban.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal rehabilitasi infrastruktur dan bantuan materi, tetapi juga pemulihan kesehatan mental masyarakat yang menjadi fondasi untuk bangkit kembali. Respons cepat tim kesehatan mental diharapkan dapat mencegah gangguan psikologis akut ini berkembang menjadi masalah kronis yang lebih sulit diatasi. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *