
Tribun Group – Bayangkan kamu membuka TikTok, lalu tiba-tiba muncul video seorang anak muda yang menunjukkan komputer aneh berbentuk kotak kecil — ada layarnya, ada keyboardnya, tapi tampilannya jauh dari kesan laptop modern yang biasa kamu lihat di iklan. Bodi-nya terbuat dari bahan bekas, kabelnya terlihat, dan desainnya terasa seperti gabungan antara teknologi masa depan dengan estetika mesin tua tahun 80-an. Komentar di bawahnya penuh dengan reaksi kagum: “Ini keren banget, aku mau bikin juga!” Itulah cyberdeck — dan tanpa kamu sadari, tren ini sudah merambah luas di kalangan Gen Z.
Cyberdeck bukan sekadar proyek iseng akhir pekan. Di balik tampilannya yang unik, ada filosofi yang cukup dalam: menolak keseragaman produk pabrik, mengutamakan kreativitas, dan menciptakan perangkat yang benar-benar mencerminkan diri sang pembuatnya. Di era ketika hampir semua laptop terlihat mirip satu sama lain — tipis, ringan, berwarna abu-abu atau silver — cyberdeck hadir sebagai perlawanan yang segar dan personal.
Lalu, sebenarnya apa itu cyberdeck? Dari mana asalnya, dan kenapa justru generasi yang tumbuh bersama iPhone dan AirPods ini malah tertarik merakit komputer dari komponen-komponen yang tidak seragam? Mari kita telusuri bersama.
Apa Itu Cyberdeck dan Dari Mana Asalnya?
Secara sederhana, cyberdeck adalah komputer portabel rakitan yang dibangun sendiri dari berbagai komponen yang sengaja tidak seragam. Berbeda dari laptop konvensional yang semuanya dirancang dan diproduksi oleh satu perusahaan, cyberdeck dirakit secara mandiri — biasanya menggunakan papan komputer single-board seperti Raspberry Pi, dipadukan dengan layar kecil, keyboard, baterai portabel, dan casing yang sering kali dibuat sendiri dari bahan daur ulang atau bahan 3D print.
Setiap cyberdeck tampak berbeda dari yang lain. Itulah poinnya. Tidak ada dua cyberdeck yang benar-benar identik, karena masing-masing mencerminkan selera, kebutuhan, dan kreativitas sang pembuat.
Akar dari Dunia Fiksi Cyberpunk
Menariknya, konsep cyberdeck sebenarnya bukan hal baru. Istilah ini pertama kali muncul dalam novel fiksi ilmiah Neuromancer karya William Gibson yang terbit tahun 1984 — sebuah karya yang dianggap sebagai salah satu fondasi genre cyberpunk. Dalam novel tersebut, cyberdeck adalah perangkat yang digunakan para hacker untuk “menyelami” dunia digital.
Versi modernnya, tentu saja, jauh lebih membumi. Tapi semangat yang mendasarinya masih sama: kebebasan, kontrol penuh atas teknologi, dan estetika yang menggabungkan unsur retro-futuristik dengan fungsi nyata. Komunitas modifikasi komputer atau “hardware modding” di era awal internet juga turut menjadi cikal bakal tren ini sebelum akhirnya meledak kembali di era media sosial.
Mengapa Cyberdeck Begitu Digemari Gen Z?
Ada yang menarik ketika generasi yang lahir di era digital justru berbalik dan memilih untuk merakit sendiri perangkat mereka. Jawabannya bukan soal keterbatasan, melainkan soal pilihan. Gen Z, yang dikenal sangat menghargai individualitas dan autentisitas, menemukan dalam cyberdeck sebuah medium ekspresi diri yang tidak bisa ditawarkan oleh produk-produk mainstream.
Salah satu kreator di TikTok dengan nama pengguna ubeboobey menggambarkan cyberdeck sebagai perangkat yang dibuat agar “unik bagi pemiliknya” dan dirancang untuk “tujuan kamu sendiri.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam: ini bukan tentang membeli sesuatu yang sudah jadi, ini tentang menciptakan sesuatu yang benar-benar milikmu.
Sistem Terbuka yang Bisa Dimodifikasi Sesuka Hati
Salah satu keunggulan terbesar cyberdeck dibandingkan laptop konvensional adalah sifatnya yang open system — sistem terbuka. Komponen-komponennya bisa diganti, diupgrade, atau bahkan dirancang ulang dari awal tanpa harus membuang seluruh perangkat. Ini adalah mimpi bagi siapa pun yang pernah frustrasi karena baterai laptop yang tidak bisa dilepas, atau RAM yang disolder langsung ke motherboard.
Fleksibilitas inilah yang menjadi magnet bagi pengguna muda yang ingin belajar tentang perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) tanpa batasan. Cyberdeck menjadi semacam “laboratorium pribadi” yang bisa terus berkembang seiring kebutuhan penggunanya.
Beragam Fungsi, Satu Perangkat yang Personal
Jangan salah sangka — cyberdeck bukan hanya perangkat pameran estetika. Di tangan yang tepat, ia bisa menjadi alat yang sangat fungsional. Para kreator di berbagai platform media sosial telah menunjukkan beragam kegunaan nyata dari perangkat rakitan ini.
Konsol Gaming Retro hingga Server Pribadi
Sebagian pengguna membangun cyberdeck mereka menjadi konsol gaming retro yang mampu menjalankan game-game dari era 1980-an dan 1990-an. Ada nuansa nostalgia yang kuat di sini — bermain game lawas di perangkat yang tampilannya pun terasa lawas, tapi tetap bertenaga modern di dalamnya.
Sementara itu, sebagian lainnya menggunakan cyberdeck sebagai server pribadi untuk meng-hosting situs web kecil, menyimpan data secara offline, atau bahkan sebagai perangkat “off-grid” yang berisi koleksi buku digital, musik, dan berbagai sumber daya yang bisa diakses tanpa koneksi internet. Bayangkan sebuah perpustakaan pribadi yang bisa kamu bawa ke mana-mana dalam sebuah kotak kecil buatan tanganmu sendiri.
Alat Belajar Coding dan Platform Keamanan Siber
Bagi yang ingin belajar coding, cyberdeck menawarkan lingkungan yang bebas dari gangguan — tidak ada notifikasi media sosial, tidak ada software bloatware. Hanya kamu dan terminal. Komunitas penghobi keamanan siber pun merangkul konsep ini dengan antusias. Cyberdeck bisa berfungsi sebagai platform pengujian keamanan yang portabel, memungkinkan penggunanya bereksperimen dengan berbagai alat tanpa harus mempertaruhkan komputer utama mereka. Laporan dari perusahaan keamanan Eclypsium bahkan menyoroti potensi cyberdeck sebagai perangkat hacking portable yang fleksibel dan efisien.
Lebih dari Sekadar Fungsi: Ini Soal Identitas
Di balik semua kegunaan praktis itu, ada satu hal yang tampaknya menjadi daya tarik terbesar cyberdeck bagi Gen Z: ekspresi diri. Cyberdeck adalah perangkat yang bercerita tentang pembuatnya — material apa yang dipilih, bagaimana tata letaknya, warna apa yang digunakan, dan fungsi apa yang diprioritaskan. Semua itu adalah cerminan dari kepribadian sang kreator.
Reaksi warganet pun membuktikan hal ini. Banyak komentar yang menyebut bahwa mereka selama ini mendambakan teknologi yang benar-benar modular dan personal — bukan produk yang terus-menerus dirancang ulang hanya untuk terlihat lebih tipis atau lebih ringan, tapi kehilangan kemampuan untuk dikontrol sepenuhnya oleh penggunanya.
Antara Hobi dan Komersialisasi
Menariknya, tren ini juga memunculkan perdebatan yang cukup serius di dalam komunitasnya sendiri. Beberapa kreator berpendapat bahwa menjual cyberdeck secara massal justru akan mengkhianati semangat asli dari hobi ini. Begitu cyberdeck diproduksi massal dan dijual di rak toko, ia akan kehilangan esensinya — tidak lagi unik, tidak lagi personal, tidak lagi hasil dari tangan dan pikiran sang pembuat.
Ini adalah perdebatan yang menarik: di satu sisi, popularitas yang lebih luas bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk mencoba. Di sisi lain, komersialisasi bisa menggerus justru hal yang membuatnya spesial dari awal.
Cyberdeck Bukan Pengganti, Tapi Pernyataan
Perlu diluruskan satu hal: cyberdeck bukanlah kompetitor laptop atau PC gaming kelas atas. Performanya tentu tidak sebanding dengan mesin-mesin produksi massal yang dirancang dengan anggaran riset dan pengembangan ratusan juta dolar. Tapi itu memang bukan tujuannya.
Cyberdeck adalah pernyataan. Ia berkata: “Aku tidak ingin teknologi yang sudah diputuskan semuanya oleh orang lain. Aku ingin membuat pilihanku sendiri.” Di dunia yang makin dibanjiri produk-produk yang dirancang untuk tidak bisa diperbaiki, tidak bisa dimodifikasi, dan cepat usang — ada sesuatu yang sangat membebaskan dari sebuah perangkat yang kamu rakit sendiri, kamu pahami sepenuhnya, dan kamu kendalikan seutuhnya.
Jadi, apakah kamu tertarik mencoba merakit cyberdeck pertamamu? Mulai dari Raspberry Pi bekas, sebuah layar kecil, dan sedikit kreativitas — siapa tahu, kamu justru sedang membangun bukan hanya sebuah komputer, tapi sebuah karya yang benar-benar mencerminkan dirimu. Dan di era ketika segalanya terasa serupa, mungkin itulah kemewahan teknologi yang paling berharga.
