Kenapa Minum Teh atau Kopi Terlalu Panas Bisa Berbahaya bagi Kerongkongan Kamu?

Kenapa Minum Teh atau Kopi Terlalu Panas Bisa Berbahaya bagi Kerongkongan Kamu?

Tribun Group – Bayangkan pagi hari yang tenang — kamu duduk sambil menggenggam cangkir kopi atau teh yang baru diseduh, mengambil tegukan pertama saat masih mengepul panas. Rasanya memang nikmat, menenangkan, bahkan seperti ritual wajib sebelum memulai hari. Kebiasaan ini dilakukan oleh ratusan juta orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tapi ada satu pertanyaan yang mungkin belum pernah terlintas di benakmu: apakah suhu minuman yang kamu teguk setiap pagi itu aman untuk kerongkonganmu?

Sebuah penelitian berskala besar yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer memberikan jawaban yang cukup mengejutkan. Studi yang melibatkan lebih dari 977.000 partisipan ini menemukan bahwa orang yang terbiasa minum dalam kondisi “sangat panas” memiliki risiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengalami karsinoma sel skuamosa esofagus — salah satu jenis kanker kerongkongan yang cukup serius — dibandingkan mereka yang memilih minuman hangat. Temuan ini bukan sekadar statistik biasa; ini adalah sinyal penting yang patut kita cermati bersama.

Yang menarik, penelitian tersebut secara tegas menyimpulkan bahwa masalahnya bukan pada jenis minuman yang dikonsumsi — bukan kopi, bukan teh, bukan susu. Faktor utamanya adalah suhu. Artinya, kebiasaan meneguk minuman panas secara berulang setiap hari, tanpa kita sadari, bisa menjadi salah satu kebiasaan yang diam-diam membahayakan kesehatan saluran pencernaan bagian atas kita.

Apa Itu Karsinoma Sel Skuamosa Esofagus?

Sebelum masuk lebih dalam, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan karsinoma sel skuamosa esofagus. Esofagus, atau kerongkongan, adalah saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Dindingnya dilapisi oleh sel-sel skuamosa — sel pipih yang membentuk lapisan pelindung bagian dalam kerongkongan. Ketika sel-sel ini mengalami kerusakan berulang dan kemudian bermutasi secara abnormal, itulah yang bisa berkembang menjadi kanker kerongkongan jenis ini.

Kanker jenis ini memang tidak sepopuler kanker payudara atau kanker paru-paru dalam perbincangan sehari-hari, tetapi tingkat keparahannya tidak bisa diremehkan. Gejalanya sering kali baru terasa ketika kanker sudah berada di stadium lanjut, seperti kesulitan menelan, penurunan berat badan drastis, dan nyeri di dada. Itulah mengapa pencegahan sejak dini, termasuk memperhatikan kebiasaan minum, menjadi sangat penting.

Seberapa Panas “Sangat Panas” Itu?

Dalam penelitian ini, para ilmuwan membagi preferensi suhu minuman ke dalam beberapa kategori. Minuman yang dikategorikan sebagai “sangat panas” berada di kisaran suhu 65 derajat Celsius atau sekitar 149 derajat Fahrenheit. Sementara itu, kategori “panas” berada di angka sekitar 60 derajat Celsius atau 140 derajat Fahrenheit.

Untuk gambaran konkretnya: air mendidih berada di 100 derajat Celsius. Teh atau kopi yang baru diseduh dan langsung dituang biasanya berkisar antara 70–85 derajat Celsius. Jika kamu langsung meminumnya tanpa menunggu, besar kemungkinan suhu yang masuk ke kerongkonganmu jauh melampaui ambang batas 65 derajat Celsius yang disebutkan dalam penelitian tersebut.

Berita Lain  Kenapa Gen Z Lebih Suka Jajan daripada Beli Gadget Saat Self-Reward?

Penting untuk dicatat bahwa suhu dalam penelitian ini tidak diukur secara langsung menggunakan termometer, melainkan berdasarkan laporan para peserta mengenai preferensi mereka. Meski begitu, pola yang ditemukan tetap sangat konsisten dan signifikan secara statistik.

Semakin Panas, Semakin Tinggi Risikonya

Hasil penelitian menunjukkan gradasi risiko yang jelas. Dibandingkan dengan mereka yang memilih minuman hangat, peserta yang terbiasa minum dalam kondisi panas memiliki risiko sekitar dua kali lipat lebih tinggi. Sedangkan mereka yang menyukai minuman sangat panas? Risikonya melonjak hingga tiga kali lipat. Perbedaan yang signifikan hanya dari soal seberapa sabar seseorang menunggu minumannya mendingin.

Mengapa Panas Bisa Merusak Kerongkongan?

Secara ilmiah, mekanisme yang paling banyak dibahas adalah thermal injury atau cedera akibat panas. Ketika cairan bersuhu sangat tinggi melewati kerongkongan secara berulang, jaringan di dinding kerongkongan mengalami kerusakan mikro. Bayangkan kulit tanganmu yang terbakar sedikit setiap hari — lama kelamaan, kulit itu tidak akan sempat pulih sepenuhnya sebelum cedera berikutnya terjadi.

Menurut informasi dari National Library of Medicine, paparan panas berulang pada jaringan kerongkongan dapat memicu peradangan kronis. Peradangan yang berlangsung terus-menerus ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan zat-zat kimia karsinogenik — zat yang berpotensi mendorong mutasi sel menjadi sel kanker. Selain itu, panas juga diduga merusak lapisan pelindung kerongkongan, membuat jaringan di bawahnya menjadi lebih rentan terhadap paparan zat berbahaya lainnya.

Faktor Risiko yang Memperparah Kondisi

Risiko ini tidak berdiri sendiri. Keren Papier, peneliti utama sekaligus ahli epidemiologi nutrisi senior di Oxford Population Health, menjelaskan bahwa hubungan antara minuman panas dan kanker kerongkongan memang sudah lama menjadi perhatian, terutama di Amerika Selatan — di mana kebiasaan minum mate dalam suhu sangat tinggi sudah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker esofagus.

“Yang sebelumnya belum terlalu jelas adalah apakah hubungan tersebut juga berlaku pada suhu minuman panas yang umum dikonsumsi masyarakat di negara-negara Barat,” ujar Papier. Studi ini menjawab pertanyaan tersebut dengan data yang jauh lebih luas dan representatif.

Risiko kanker kerongkongan akibat minuman panas juga dapat menjadi jauh lebih besar ketika seseorang juga memiliki kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol. Kombinasi ketiga faktor ini — suhu tinggi, rokok, dan alkohol — menciptakan kondisi yang sangat tidak bersahabat bagi kesehatan kerongkongan dalam jangka panjang.

Frekuensi Minum Juga Ikut Berperan

Selain soal suhu, penelitian ini juga menemukan bahwa frekuensi konsumsi turut memengaruhi risiko. Peserta yang mengonsumsi enam cangkir minuman atau lebih setiap hari — terlepas dari apakah minumannya panas atau sangat panas — memiliki risiko 71 persen lebih tinggi mengalami karsinoma sel skuamosa esofagus dibandingkan yang minum lebih sedikit.

Berita Lain  Peringatan WHO Mengenai Varian Baru COVID NB.1.8.1

Ini menjadi sinyal penting bagi kamu yang terbiasa minum teh atau kopi berkali-kali dalam sehari. Bukan berarti harus berhenti sama sekali, tapi ada baiknya mulai mempertimbangkan seberapa sering dan seberapa panas minuman yang kamu konsumsi setiap harinya.

Lantas, Apa yang Harus Dilakukan?

Kabar baiknya, kamu tidak perlu berhenti minum kopi atau teh favoritmu. Solusinya jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan: tunggu beberapa menit sebelum meminumnya. Biarkan minumanmu mendingin hingga suhu yang lebih nyaman dan aman — idealnya di bawah 60 derajat Celsius. Kebiasaan kecil ini sudah cukup untuk mengurangi paparan panas berulang pada kerongkonganmu secara signifikan.

Fiona Osgun, kepala informasi kesehatan di Cancer Research UK, mengingatkan bahwa meski temuan soal suhu minuman penting, ada dua langkah yang justru paling krusial untuk mengurangi risiko kanker kerongkongan secara keseluruhan.

“Cara paling penting untuk mengurangi risiko jenis kanker ini adalah tidak merokok dan mengurangi konsumsi alkohol,” tegas Osgun.

Tips Praktis Menikmati Minuman Panas dengan Lebih Aman

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung kamu terapkan. Pertama, biasakan menuang minuman panas ke dalam cangkir dan menunggu setidaknya 3–5 menit sebelum mulai meneguknya. Kedua, hindari meniup minuman lalu langsung meminumnya — meniup memang menurunkan suhu permukaan, tapi bagian dalam minuman tetap sangat panas. Ketiga, gunakan termometer sederhana jika perlu untuk mengetahui suhu minumanmu — ini bukan tindakan berlebihan, melainkan bentuk kesadaran kesehatan. Keempat, batasi konsumsi minuman panas tidak lebih dari lima cangkir per hari jika kamu termasuk peminum berat.

Perspektif yang Perlu Dijaga

Temuan ini bukan untuk membuat kamu paranoid terhadap secangkir teh hangat di pagi hari. Penelitian epidemiologi seperti ini menunjukkan hubungan (korelasi), bukan selalu hubungan sebab-akibat yang mutlak. Ada banyak faktor lain yang berkontribusi pada risiko kanker kerongkongan, mulai dari genetika, gaya hidup, hingga paparan lingkungan.

Namun, mengabaikan temuan dari studi dengan hampir sejuta partisipan ini juga bukan pilihan yang bijak. Ilmu pengetahuan memberi kita informasi untuk membuat keputusan yang lebih baik — dan dalam hal ini, keputusannya sangat mudah dan tidak memerlukan pengorbanan besar: cukup bersabar beberapa menit sebelum meminum minumanmu yang panas.

Kesehatan kerongkonganmu adalah bagian dari kesehatan hidupmu secara keseluruhan. Mulai hari ini, jadikan kebiasaan membiarkan minuman sedikit mendingin sebagai ritual baru yang sama pentingnya dengan menyeduh kopinya itu sendiri. Karena terkadang, satu kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih berdampak daripada perubahan besar yang hanya bertahan seminggu. Sudahkah kamu menunggu minumanmu cukup dingin hari ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *