
Tribun Group – Bayangkan sebuah provinsi di ujung timur Indonesia yang sudah mampu memenuhi hampir sepertiga kebutuhan listriknya dari sumber energi terbarukan. Bukan sekadar wacana atau target jangka panjang, tapi capaian nyata yang sudah bisa dirasakan hari ini. Itulah potret Sulawesi Utara saat ini — sebuah daerah yang pelan-pelan menjelma menjadi salah satu percontohan transisi energi bersih di Indonesia.
PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengungkap fakta menarik ini dalam Renewable Energy Forum 2026 yang digelar di Manado pada Senin, 10 Agustus 2026. Direktur Proyek dan Operasi Pertamina NRE sekaligus Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Norman Ginting, menyampaikan bahwa energi panas bumi kini telah memasok sekitar 24 persen dari total kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Angka ini bukan sekadar statistik — ini adalah bukti bahwa sumber daya alam bisa dimanfaatkan secara cerdas untuk kemandirian energi.
Lebih jauh, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) di Sulawesi Utara secara keseluruhan telah menyentuh angka 32 persen. Capaian ini menempatkan provinsi tersebut di antara daerah-daerah paling progresif dalam perjalanan Indonesia menuju swasembada energi. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman Sulawesi Utara, dan bagaimana ekosistem energi terbarukan di sana terus dikuatkan?
Panas Bumi sebagai Tulang Punggung Energi Sulawesi Utara
Sulawesi Utara bukan tanpa alasan menjadi pemain kunci dalam peta energi terbarukan nasional. Posisi geografisnya yang berada di Cincin Api Pasifik membuat provinsi ini kaya akan aktivitas panas bumi — sumber energi yang dihasilkan dari panas di dalam perut bumi dan terbukti bersih serta berkelanjutan.
Kontribusi panas bumi sebesar 24 persen terhadap kebutuhan listrik daerah adalah angka yang signifikan. Untuk konteks perbandingan, rata-rata bauran energi terbarukan secara nasional masih terus berjuang untuk menyamai capaian ini. Norman Ginting menegaskan hal tersebut dalam pernyataannya, “Sulawesi Utara menunjukkan bahwa potensi energi terbarukan dapat menjadi kekuatan daerah sekaligus bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.”
Yang menarik, pencapaian ini bukan hanya soal angka, melainkan juga tentang membangun kepercayaan diri daerah. Ketika sebuah provinsi mampu membuktikan bahwa energi terbarukan bisa diandalkan untuk menerangi rumah-rumah warganya, narasi “energi hijau itu mahal dan tidak praktis” pun mulai runtuh dengan sendirinya.
Potensi Energi Terbarukan Lain yang Belum Dioptimalkan
Selain panas bumi, Sulawesi Utara sesungguhnya menyimpan beragam kekayaan energi terbarukan lain yang belum sepenuhnya digarap. Ada energi surya yang melimpah mengingat intensitas matahari di wilayah tropis ini sangat tinggi sepanjang tahun. Ada pula energi angin, energi laut, bioenergi dari bahan organik, dan energi hidro yang memanfaatkan potensi sungai-sungai di pegunungannya.
Diversifikasi sumber energi ini penting untuk menjamin kestabilan pasokan listrik. Panas bumi memang andal karena tersedia 24 jam tanpa bergantung cuaca, tapi menggabungkannya dengan sumber energi lain akan membuat sistem kelistrikan daerah jauh lebih tangguh dan efisien. Inilah arah yang sedang didorong oleh Pertamina NRE bersama berbagai pemangku kepentingan di Sulawesi Utara.
METI Wilayah Sulawesi Utara: Ekosistem Baru untuk Transisi Energi
Salah satu momen penting dalam Renewable Energy Forum 2026 adalah pelantikan pengurus METI Wilayah Sulawesi Utara. Ini bukan sekadar seremoni organisasi — pembentukan kepengurusan daerah ini merupakan bagian dari peta jalan dekade pertama METI 2026–2036, yang secara spesifik menargetkan terwujudnya swasembada energi di seluruh penjuru Indonesia.
Yang membuatnya lebih bermakna, Sulawesi Utara menjadi METI Wilayah pertama di kawasan timur Indonesia. Sebelumnya, jaringan METI sudah hadir di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Jawa Barat. Dengan masuknya Sulawesi Utara, tongkat estafet transisi energi kini mulai bergerak ke wilayah timur yang selama ini sering tertinggal dalam urusan infrastruktur energi.
Peran Strategis METI Wilayah di Lapangan
Lantas, apa yang konkret bisa dilakukan METI Wilayah Sulawesi Utara? Norman Ginting menjabarkan tiga fungsi utama yang diharapkan dari kepengurusan baru ini.
Pertama, advokasi dan sinkronisasi kebijakan. Tidak jarang, proyek energi terbarukan terhambat bukan karena kekurangan teknologi atau modal, melainkan karena regulasi yang belum sinkron antara pusat dan daerah. METI Wilayah bisa menjadi jembatan komunikasi yang memastikan kebijakan berjalan harmonis.
Kedua, menjembatani investor dengan mitra lokal. Banyak investor yang tertarik masuk ke sektor energi terbarukan di Sulawesi Utara, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Di sisi lain, pelaku usaha lokal punya pengetahuan lapangan yang berharga tapi minim akses ke pendanaan. METI Wilayah bisa menjadi ruang pertemuan keduanya sehingga proyek-proyek yang selama ini hanya ada di atas kertas bisa benar-benar terwujud.
Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Transisi energi tidak hanya butuh teknologi dan investasi, tapi juga manusia-manusia terampil yang bisa mengelola dan mengoperasikannya. Program pelatihan, kolaborasi dengan kampus, dan keterlibatan generasi muda menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci yang Sering Terlewat
Baik Norman Ginting maupun Wakil Gubernur Sulawesi Utara, J Victor Mailangkay, sepakat pada satu hal: pengembangan energi terbarukan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat, dan generasi muda adalah prasyarat mutlak agar transisi energi berjalan optimal.
Wakil Gubernur Victor Mailangkay menyambut positif kehadiran METI Wilayah di Sulawesi Utara. Menurutnya, potensi energi terbarukan yang dimiliki daerah ini bukan sekadar soal listrik, tapi bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Ketika investasi energi hijau masuk, lapangan kerja tercipta, dan masyarakat lokal bisa ikut merasakan manfaatnya secara langsung.
Ia juga menekankan peran METI sebagai katalisator pengembangan ide dan kebijakan, sekaligus wadah edukasi bagi mahasiswa yang akan menjadi SDM energi masa depan. Ini penting, karena tanpa ekosistem pendidikan dan pengembangan talenta yang kuat, transisi energi hanya akan jalan di tempat.
Sulawesi Utara sebagai Model bagi Daerah Lain
Pengalaman Sulawesi Utara dalam mengembangkan panas bumi dan energi terbarukan lainnya memiliki nilai yang melampaui batas provinsi. Norman Ginting secara eksplisit menyebutnya sebagai contoh bagaimana daerah bisa berperan aktif dalam mendorong transisi energi nasional.
Artinya, jika sebuah daerah dengan karakteristik geografis tertentu mampu mencapai bauran EBT sebesar 32 persen, daerah-daerah lain dengan potensi serupa tidak punya alasan untuk tidak mengikuti jejaknya. Yang dibutuhkan adalah kombinasi kemauan politik, ekosistem kelembagaan yang solid, dan keterlibatan semua pihak — persis seperti yang sedang dibangun di Sulawesi Utara.
Langkah Nyata yang Bisa Diambil Sekarang
Bagi pembaca yang berada di lingkar pengambilan kebijakan daerah, sektor usaha, maupun dunia akademisi, kisah Sulawesi Utara menawarkan beberapa pelajaran praktis. Identifikasi potensi energi terbarukan spesifik di daerah Anda, bangun kolaborasi dengan organisasi seperti METI yang bisa memfasilitasi pertemuan antara kebutuhan dan solusi, serta dorong keterlibatan generasi muda sejak dini karena merekalah yang akan mewarisi sistem energi yang kita bangun hari ini.
Transisi energi bukan proyek satu instansi atau satu generasi. Seperti yang dikatakan Norman Ginting, “Transisi energi adalah agenda bersama yang membutuhkan kontribusi dari seluruh wilayah dan generasi.” Dan Sulawesi Utara, dengan segala capaian dan semangatnya, sudah membuktikan bahwa langkah pertama itu bisa — dan harus — dimulai dari daerah. Pertanyaannya sekarang: daerah mana yang akan jadi inspirasi berikutnya?
