Vietnam Buktikan Klasenya: Tanpa Diaspora, Tanpa Gaduh, Tetap Raja ASEAN di Pentas Asia

Vietnam Buktikan Klasenya: Tanpa Diaspora, Tanpa Gaduh, Tetap Raja ASEAN di Pentas Asia

TRIBUN GROUP – Vietnam kembali menancapkan taringnya sebagai kekuatan sepak bola paling stabil dan terukur di Asia Tenggara. Tim U-23 “Golden Dragons” sukses melangkah ke semifinal Piala Asia U-23 2026 usai menaklukkan Uni Emirat Arab (UAE) dengan skor dramatis 3-2. Prestasi ini tidak hanya sekadar kemenangan, melainkan konfirmasi atas kesuksesan sebuah filosofi jangka panjang yang dijalankan dengan disiplin baja.

Di saat Indonesia, yang sempat melaju ke semifinal edisi 2024, langsung terhempas dan gagal lolos kualifikasi setelah pergantian pelatih, Vietnam justru konsisten berada di puncak. Mereka kini menjadi satu-satunya wakil ASEAN yang bertahan di turnamen elit Asia tersebut dan bersiap menghadapi raksasa Jepang di semifinal.

Estafet Filosofi: Dari Park Hang-seo ke Kim Sang-sik

Kunci kesuksesan Vietnam terletak pada kesinambungan. Setelah era gemilang di bawah Park Hang-seo—yang membawa Vietnam U-23 ke final Piala Asia 2018—federasi sempat bereksperimen dengan pelatih Eropa. Eksperimen itu gagal. Alih-alih memaksakan jalan yang salah, Vietnam dengan cerdik kembali ke akarnya: merekrut pelatih Korea Selatan, Kim Sang-sik.

Keputusan itu terbukti brilian. Kim Sang-sik bukan hanya penerus, ia adalah penyempurna. Dalam waktu singkat, ia telah menghadirkan tiga trofi: Piala AFF 2024, Piala AFF U-23 2025, dan medali emas SEA Games 2025. Ia memahami DNA sepak bola Vietnam: kolektivitas, disiplin taktis, semangat tempur tinggi, dan efisiensi. Di tangannya, Vietnam tidak kehilangan identitas, justru tampil lebih matang.

Pembangunan dari Dalam: Fondasi Kuat Tanpa Diaspora

Yang paling mencengangkan dari kesuksesan Vietnam adalah mereka membangun segalanya dari rumah. Tidak seperti Indonesia yang sangat mengandalkan pemain naturalisasi dan diaspora, seluruh skuad Vietnam dibesarkan dari sistem pembinaan domestik yang rapi dan berkelanjutan.

Berita Lain  Michael Buffer Buka Laga Fluminense vs Chelsea, Gegerkan Stadion

Fakta ini menjadi tamparan keras bagi banyak negara ASEAN yang kerap mencari jalan pintas. Vietnam membuktikan bahwa fondasi yang kokoh—mulai dari akademi usia dini hingga kompetisi domestik—adalah kunci keberlanjutan. Banyak pengamat berandai-andai: betapa menakutkannya Vietnam jika mereka juga memiliki akses ke talenta diaspora seperti negara lain. Dengan fondasi yang sudah ada, tambahan kualitas individu tersebut bisa membuat mereka menjadi calon kuat lolos ke Piala Dunia.

Pelajaran Pahit untuk Tetangga

Keberhasilan Vietnam adalah cermin bagi Indonesia dan negara ASEAN lain. Pesannya jelas: prestasi berkelanjutan bukanlah hasil dari gonta-ganti pelatih asing secara impulsif, melainkan buah dari visi yang konsisten, evaluasi yang jujur, dan kesabaran untuk membangun identitas permainan yang sesuai dengan karakter pemain lokal.

Dari Park Hang-seo ke Kim Sang-sik, Vietnam menunjukkan bahwa estafet kepelatihan yang terjaga filosofinya mampu mengantar sebuah bangsa dari sekadar peserta menjadi penantang serius di kancah Asia. Kini, di semifinal Piala Asia U-23, mereka tidak lagi sekadar membawa bendera ASEAN, tetapi mengibarkan panji sebuah kekuatan sepak bola yang layak disegani. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *