TRIBUN GROUP – Status sebagai pemuncak klasemen Premier League rupanya belum cukup melindungi Arsenal dari keraguan besar. Kekalahan dramatis 2-3 dari Manchester United di Emirates Stadium, Minggu (25/1), tidak hanya merenggut tiga poin berharga, tetapi juga memicu pertanyaan kritis tentang kekuatan mental dan kepemimpinan skuad Mikel Arteta.
Mantan kapten legendaris Arsenal, Patrick Vieira, secara tegas menyoroti titik lemah tersebut. “Masih ada pertanyaan tentang kekuatan mental tim ini. Mereka akan sangat kecewa, bukan karena kalah, tetapi karena cara mereka kalah,” ujar Vieira dalam analisisnya untuk Sky Sports, seperti dikutip ESPN.
Kekalahan itu terasa pahit karena Arsenal hampir menyelamatkan satu poin. Setelah tertinggal lebih dulu, Mikel Merino membawa imbang kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-84. Namun, harapan itu runtuh hanya tiga menit berselang setelah Matheus Cunha menjebol gawang Aaron Ramsdale untuk membawa kemenangan bagi Setan Merah.
Ini adalah kekalahan ketiga Arsenal musim ini dan yang membuat mereka kehilangan tujuh poin dalam tiga laga terakhir. Keunggulan mereka di puncak kini menyusut tipis, hanya tersisa empat poin dari Manchester City dan Aston Villa di posisi kedua dan ketiga.
Serangan Tumpul dan Hilangnya Figur Pengangkat Semangat
Vieira tidak hanya menyoroti mentalitas, tetapi juga efektivitas permainan. Ia menilai lini serang Arsenal, khususnya performa Bukayo Saka dan Leandro Trossard, gagal memberikan ancaman yang berarti. Lebih dalam, ia melihat tim kekurangan sosok pemimpin di lapangan yang mampu membangkitkan energi dan keberanian.
“Mereka tidak menciptakan cukup peluang. Arsenal membutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengangkat semangat tim dan membuat pemain bermain dengan energi lebih besar serta berani mengambil risiko,” tegas legenda Prancis itu. Menurutnya, kualitas individu pemain sebenarnya mumpuni, tetapi tidak terkelola dengan baik dalam momen-momen penuh tekanan.
Pandangan serupa datang dari lawan bebuyutannya, mantan kapten Manchester United Roy Keane. Ia melihat gelar “kandidat juara” justru mulai menjadi beban psikologis bagi The Gunners.
“Tekanan ada pada Arsenal. Mereka sedang berada di posisi bagus, tapi tanda-tanda tekanan sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir,” kata Keane. Ia menyarankan satu solusi: “Mereka harus reset, kembali ke dasar, dan mulai menyambut tantangan ini, bukan malah takut menghadapinya.”
Kekalahan ini adalah alarm keras bagi Mikel Arteta dan anak asuhnya. Tantangan terberat mereka saat ini mungkin bukan lagi soal taktik atau teknik, melainkan bagaimana menemukan kembali mental baja dan sosok pemimpin yang dapat membawa mereka bertahan di puncak dalam situasi panas. Jika gagal, mimpi juara yang sudah di depan mata bisa sekali lagi sirna. (***)
