Sejarah Candi Borobudur: Kisah Kebijaksanaan yang Kembali Ditemukan

Sejarah Candi Borobudur: Kisah Kebijaksanaan yang Kembali Ditemukan

Candi Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia yang berdiri megah di jantung Jawa Tengah. Monumen Buddha terbesar di dunia ini bukan sekadar tumpukan batu tua, tetapi sebuah mahakarya yang menyimpan perjalanan panjang dan misteri yang memikat. Sejarah Candi Borobudur adalah kisah tentang kejayaan sebuah kerajaan, kerumitan arsitektur yang luar biasa, dan kemudian, kelalaian yang panjang sebelum akhirnya bangkit kembali untuk menyapa dunia.

Artikel ini akan mengajak Anda menyusuri lorong waktu, memahami asal-usul, filosofi, dan upaya penyelamatan Borobudur yang mengagumkan.

Candi Borobudur itu seperti sebuah buku batu raksasa yang terbuka. Setiap reliefnya adalah halaman, setiap stupanya adalah bab, dan seluruh strukturnya adalah sebuah narasi agung tentang pencarian pencerahan. Namun, untuk waktu yang sangat lama, “buku” ini tertutup tanah dan hutan, terlupakan. Mari kita buka lembaran pertama sejarahnya.

Asal-Usul dan Masa Pembangunan

Kita tidak bisa memisahkan Candi Borobudur dari kemegahan Kerajaan Mataram Kuno, khususnya di bawah pemerintahan Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana.

Kapan dan Siapa yang Membangun?

Para sejarawan dan arkeolog memperkirakan pembangunan Borobudur dimulai sekitar tahun 750-800 Masehi, pada puncak kejayaan Dinasti Syailendra. Prosesnya berlangsung selama puluhan tahun, mungkin melibatkan beberapa generasi raja, arsitek, dan ribuan pekerja ahli.

Tidak ada prasasti tunggal yang secara gamblang menyebutkan “Raja X membangun Borobudur”. Namun, analisis gaya arsitektur dan beberapa temuan terkait mengarah pada masa pemerintahan Raja Samaratungga. Pembangunannya membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan pengetahuan teknik yang tinggi.

Teknologi dan Arsitektur yang Mengagumkan

Bayangkan, lebih dari 2 juta balok batu andesit disusun tanpa semen! Mereka menggunakan sistem interlock (seperti potongan puzzle) dan gravitasi untuk menyatukan seluruh struktur. Belum lagi, Candi ini dibangun di atas bukit alami yang dimodifikasi.

Yang lebih menakjubkan adalah sistem pengelolaan airnya. Borobudur memiliki lebih dari 100 pancuran berbentuk makara (kepala raksasa) yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air hujan yang sempurna. Tanpa sistem ini, erosi akan menghancurkan candi jauh lebih cepat.

Filosofi Arsitektur

Inilah jiwa dari Candi Borobudur. Bentuknya yang seperti mandala raksasa bukanlah kebetulan. Ia dirancang sebagai representasi alam semesta sekaligus peta spiritual bagi umat Buddha.

Tiga Tingkatan Kosmologi Buddha

Struktur candi secara vertikal dibagi menjadi tiga zona, mencerminkan tiga alam dalam kosmologi Buddha:

  • Kamadhatu (Dunia Hasrat): Bagian terbawah yang tersembunyi. Reliefnya menggambarkan hukum sebab-akibat (karma) dan kehidupan penuh nafsu duniawi. Bagian ini seperti fondasi yang tertimbun, mengajak kita meninggalkan keterikatan.
  • Rupadhatu (Dunia Berwujud): Empat teras berdenah persegi yang kita lihat saat berjalan. Di sini, terdapat 432 arca Buddha di relung terbuka dan sekitar 1.460 panel relief cerita yang memukau. Relief ini seperti komik raksasa yang mengisahkan kehidupan Buddha, ajaran-ajaran, dan kisah kelahiran kembali.
  • Arupadhatu (Dunia Tak Berwujud): Tiga teras bundar di puncak, dengan 72 stupa berlubang (berjaring) yang mengelilingi satu stupa induk terbesar di pusatnya. Stupa berlubang ini melambangkan kebijaksanaan yang sempurna dan tercerahkan. Di sini, tidak ada relief. Semuanya abstrak, melambangkan pelepasan terakhir dari bentuk dan keinginan.

Desain ini adalah sebuah immersive experience zaman kuno. Seorang peziarah harus berjalan sejauh sekitar 5 kilometer, mengelilingi setiap teras, dan “membaca” relief sambil naik secara bertahap. Ini adalah meditasi dalam gerak, sebuah perjalanan fisik yang sekaligus adalah perjalanan batin menuju pencerahan.

Masa Kelalaian dan Penyebab ‘Penghilangan’ Candi

Ini adalah babak kelam dalam sejarah Candi Borobudur. Setelah sekitar 150-200 tahun berdiri megah, candi ini perlahan ditinggalkan.

  • Teori-Teori Penyebab Ditinggalkannya Borobudur
    Pergeseran Kekuasaan dan Agama: Ibu kota kerajaan pindah ke Jawa Timur. Pengaruh Hindu mulai menguat, sementara agama Buddha pelan-pelan surut. Candi Borobudur kehilangan patronase (dukungan) kerajaan.
  • Bencana Alam Letusan Gunung Merapi: Ini adalah teori yang sangat kuat. Abu vulkanik tebal dari letusan besar diperkirakan mengubur dan merusak kawasan ini. Vegetasi cepat tumbuh di atas tanah subur dari abu, akhirnya menyelimuti candi menjadi bukit yang ditutupi hutan.
  • Perubahan Rute Perdagangan: Faktor ekonomi juga berperan. Pusat-pusat kegiatan berpindah, menjadikan kawasan sekitar Borobudur semakin sepi.

Selama berabad-abad, monumen raksasa ini hanya hidup dalam cerita rakyat samar-samar. Lokasinya yang tepat terlupakan. Ia disebut-sebut dalam Babad Tanah Jawi sebagai “gunung patirtan” atau “gunung beratus patung”. Tetapi, tidak ada yang benar-benar tahu di mana dan seperti apa wujudnya.

Era Penemuan Kembali dan Restorasi Besar-Besaran

Kisah kebangkitan Candi Borobudur tak kalah dramatis. Ia melibatkan tokoh-tokoh kunci dari dalam dan luar negeri.

Dari Raffles hingga Cornelius

Pada 1814, Letnan Gubernur Inggris untuk Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik pada sejarah Jawa, mendengar laporan tentang “bukit penuh dengan batu berukir”. Ia mengutus insinyur Belanda, H.C. Cornelius, untuk menyelidiki. Dengan bantuan 200 orang, Cornelius membabat hutan dan menggali tanah. Mereka mulai menyingkapkan kemegahan Borobudur yang tertidur.

Proyek Restorasi Terbesar Abad ke-20

Penemuan awal itu baru permulaan. Candi tetap dalam kondisi memprihatinkan. Batu-batu longsor, erosi parah, dan ancaman runtuh selalu membayangi.

  • Restorasi oleh Theodoor van Erp (1907-1911): Upaya pertama yang serius, namun lebih bersifat tambal sulut.
  • Restorasi Besar UNESCO (1975-1982): Ini adalah proyek penyelamatan yang fenomenal. Dana sebesar 25 juta dolar Amerika dikumpulkan dari 27 negara. Tekniknya revolusioner: seluruh Candi

Borobudur dibongkar! Lebih dari satu juta batu diberi kode, dibersihkan, diperbaiki, dan dipasang kembali di atas pondasi beton baru dengan sistem drainase modern. Proyek raksasa ini membuat Borobudur stabil dan bisa dinikmati generasi mendatang.

Menurut catatan arkeolog yang terlibat, restorasi ini seperti menyusun puzzle raksasa terbesar di dunia. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Keberhasilannya adalah bukti kerja sama internasional yang luar biasa untuk menyelamatkan warisan manusia.

Candi Borobudur Hari Ini dan Tantangan Masa Depan

Kini, Candi Borobudur telah menjadi ikon Indonesia dan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991. Ia bukan lagi monumen mati, tetapi pusat kehidupan: spiritual, budaya, pendidikan, dan pariwisata.

Ancaman dan Upaya Konservasi Terus Menerus

Penyelamatan tidak berhenti di tahun 1982. Ancaman baru muncul:

  • Kerusakan oleh Pengunjung: Sentuhan, pahatan nama, dan naik ke stupa merusak batu.
  • Cuaca Ekstrem: Hujan asam dan erosi angin terus menggerogoti detail relief.
  • Aktivitas Vulkanik: Abu Merapi masih menjadi ancaman periodik yang harus dibersihkan.

Balai Konservasi Borobudur terus bekerja, dari pembersihan rutin, penelitian material, hingga pembatasan akses ke teras tertinggi untuk perlindungan. Edukasi kepada pengunjung adalah kunci utama.

Kesimpulan

Sejarah Candi Borobudur adalah sebuah siklus lengkap: kelahiran, kematian simbolis, dan kelahiran kembali. Ia adalah cermin peradaban Jawa kuno yang visioner, sekaligus peringatan betapa rapuhnya warisan budaya. Setiap kunjungan ke Borobudur seharusnya bukan sekadar berfoto.

Ia adalah kesempatan untuk menghargai perjalanan panjangnya—dari tangan-tangan terampil pematung Syailendra, melalui kelamnya abu vulkanik, hingga kerja keras para restorator modern. Mari kita jaga bersama agar “buku batu” kebijaksanaan ini tetap terbuka untuk dibaca oleh anak cucu kita nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *