TRIBUN GROUP – Persiapan PSIM Yogyakarta menghadapi laga tandang kontra Persik Kediri pada pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026, Jumat (13/2/2026) mendatang, terganggu oleh ketidakjelasan tempat pertandingan. Hal ini terjadi karena manajemen Persik belum mendapatkan izin penggunaan Stadion Brawijaya dari kepolisian setempat.
Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengakui situasi ini memengaruhi jadwal perjalanan dan ritme persiapan timnya. “Tentu saja karena jika kami harus bermain di tempat lain mungkin kami harus berangkat besok, bukan hari Kamis. Jadi ini memang berpengaruh pada persiapan kami,” ujar Van Gastel usai sesi latihan di Stadion Mandala Krida, Senin (10/2/2026).
Meski demikian, pelatih asal Belanda itu memastikan fokus tim tetap pada pemulihan kondisi dan aspek fisik. “Sejauh ini kami melakukan pemulihan, dan hari ini ada latihan fisik. Sekarang kami sudah tahu taktik kami dan apa yang kami inginkan setelah 20 pertandingan,” sambungnya. Ia menegaskan, waktu yang terbatas karena jadwal padat membuat PSIM tidak bisa melakukan penyesuaian besar-besaran.
Ketika ditanya kemungkinan perubahan rencana taktis menyikapi ketidakpastian ini, Van Gastel menjawab dengan santai, “Mungkin saja. Mungkin ya, mungkin tidak,” ucapnya sambil tertawa kecil. PSIM saat ini menduduki peringkat ketujuh klasemen dengan 31 poin.
Latar Belakang: Trauma Kericuhan 2019
Ketidakjelasan venue ini tidak terlepas dari faktor keamanan yang menyisakan trauma. Persik tidak mendapatkan izin menggunakan markasnya sendiri akibat insiden kericuhan besar antara suporter kedua tim pada 2 September 2019 silam, saat keduanya masih berkompetisi di Liga 2.
Kerusuhan kala itu menyebabkan puluhan korban luka-luka, sebagian besar di bagian kepala akibat lemparan batu. Insiden tersebut, yang melibatkan lemparan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa, masih membayangi dan menjadi pertimbangan utama pihak kepolisian dalam mengeluarkan izin penyelenggaraan pertandingan.
Hingga berita ini diturunkan, lokasi resmi laga PSIM kontra Persik Kediri masih menunggu kepastian dari pihak panitia dan kepolisian. Situasi ini menjadi ujian kedewasaan bagi kedua klub dan suporter, serta menguji kesiapan logistik PSIM dalam menghadapi perubahan dadakan. (***)
