TRIBUN GROUP — Di dunia sepak bola, keputusan sepersekian detik bisa mengubah takdir sebuah klub selama puluhan tahun. Salah satu “what if” terbesar dalam sejarah Premier League nyaris terjadi pada akhir dekade 1990-an, ketika seorang penyerang muda bernama Thierry Henry secara diam-diam menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Manchester United.
Namun, penawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh sosok yang namanya terpahat emas di Old Trafford: Sir Alex Ferguson. Alasan penolakannya, menurut saksi mata, terdengar kejam dan singkat.
Cerita ini diungkapkan oleh Ned Kelly, mantan petugas keamanan pribadi Eric Cantona dan David Beckham, dalam sebuah wawancara dengan beIN Sports pada 2020. Menurut Kelly, sinyal pertama datang dari Jean-Marie Cantona, kakak Eric Cantona, tepat setelah sebuah pertandingan.
“Di tunnel setelah pertandingan, ponsel saya berdering. Kakak Eric, Jean-Marie, berkata, ‘Ned, sampaikan ke Alex (Ferguson) bahwa Thierry Henry ingin datang ke klub,'” kenang Kelly. “Ini terjadi sebelum dia ke Arsenal. Pilihan pertamanya adalah Manchester United.”
Dengan semangat, Kelly pun menyampaikan pesan itu langsung kepada sang bos. Respons Ferguson, menurut Kelly, langsung dan tanpa ampun.
“Dia (Ferguson) berkata, ‘no way, he’s always f injured’ (tidak mungkin, dia selalu cedera) dengan ungkapan bernada keras. Setelah itu dia pergi ke Arsenal, dan selebihnya adalah sejarah,” papar Kelly.
Pilihan yang Berdampak Sejarah
Keputusan Ferguson itu menjadi titik balik monumental. Alih-alih merekrut penyerang Prancis yang saat itu masih berusia 22 tahun dan sedang berjuang di Juventus, United memilih untuk memperkuat sektor lain pada musim panas 1999. Mereka mendatangkan bek Mikael Silvestre dari Inter Milan, serta dua penjaga gawang, Massimo Taibi dan Mark Bosnich. Tak satu pun dari ketiganya yang menjadi pahlawan besar di Old Trafford.
Sementara itu, Henry memilih hijrah ke Arsenal dengan nilai transfer £11 juta. Di bawah asuhan Arsene Wenger, ia menjelma menjadi salah satu penyerang paling mematikan yang pernah disaksikan Premier League. Selama delapan musim, ia mencetak 228 gol (rekor klub), memberikan 104 assist, serta mengantarkan The Gunners meraih dua gelar Premier League dan tiga Piala FA.
Ironisnya, Henry justru menjadi mimpi buruk bagi United, tim yang pernah ia idamkan. Dari 23 penampilan melawan Setan Merah, ia mencetak enam gol dan delapan assist. Penderitaan United berlanjut hingga di kancah Eropa, ketika Henry, yang membela Barcelona, turut mengalahkan mereka dengan skor 2-0 pada final Liga Champions 2009.
Dua Jalur Takdir yang Berbeda
Ferguson, tentu saja, tidak serta-merta salah. Dia tetap sukses membawa United meraih gelar Premier League keenamnya pada musim 1999/2000. Namun, penolakannya terhadap Henry menciptakan salah satu narasi “hampir” paling ikonik dalam rivalitas Inggris.
Bayangkan jika Henry bergabung dengan skuad United yang saat itu baru saja meraih treble (Liga Champions, Premier League, dan Piala FA) dan masih memiliki Dwight Yorke, Andy Cole, serta Ole Gunnar Solskjaer. Dinamika dominasi Inggris pada era 2000-an bisa jadi akan sangat berbeda.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa di balik kesuksesan seorang legenda seperti Thierry Henry di Arsenal, tersimpan jalan takdir alternatif yang hanya terpisah oleh enam kata keras dari seorang raja di Old Trafford. Satu keputusan, satu kalimat, telah mengukir sejarah dua klub raksasa dengan cara yang tak terbayangkan. (***)
