TRIBUN GROUP – Isu kepergian Lionel Messi dari Camp Nou, yang hingga kini masih menyisakan luka bagi sebagian besar fans Barcelona, kembali mencuat ke permukaan. Menjelang pemilihan presiden klub yang semakin panas, mantan presiden sekaligus kandidat kuat, Joan Laporta, angkat bicara mengenai momen kontroversial dan emosional yang mengiringi hengkangnya La Pulga pada 2021 serta upaya bring him home yang gagal dua tahun kemudian.
Dalam wawancara eksklusif di program Katalan Cafè d’Idees yang disiarkan saluran 2 CAT, Laporta membeberkan versi terbaru dari kisah di balik layar salah satu perpisahan paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola. Ia juga mengomentari warisan abadi sang megabintang Argentina, dikutip dari Football Espana, Selasa (24/2/2026).
“Messi Memilih Miami, dan Itu Harus Dihormati”
Salah satu pertanyaan paling krusial yang dilontarkan kepada Laporta adalah apakah masih ada kemungkinan Messi kembali untuk gantung sepatu di Barcelona. Laporta dengan tegas menjelaskan bahwa peluang itu sebenarnya pernah terbuka pada 2023, saat kontrak Messi dengan Paris Saint-Germain habis.
“Pada saat itu, sudah ada upaya pada 2023. Tetapi, Messi lebih memilih pergi ke Inter Miami karena berbagai alasan,” ungkap Laporta. “Ia membuat keputusan itu, dan itu adalah keputusan yang sangat bisa dihormati.”
Pernyataan ini sekaligus mengklarifikasi spekulasi yang selama ini beredar di kalangan fans. Laporta mengindikasikan bahwa meskipun ada keinginan untuk memulangkan ikon tersebut, faktor personal dan pilihan hidup Messi sendiri yang akhirnya menentukan arah kariernya menuju Amerika Serikat.
Hubungan yang Meregang dan Pengakuan Jujur
Meski dikenal dekat di era kejayaan pertama, Laporta tak memungkiri bahwa hubungannya dengan Messi sempat merenggang pasca kegagalan perpanjangan kontrak pada 2021. Ia menggambarkan situasi saat itu sebagai periode yang sangat sulit, baik secara emosional maupun finansial bagi klub.
“Situasinya tidak sepenuhnya menutup kemungkinan untuk pergi ke PSG. Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan, tetapi saya yakin ia sebenarnya ingin bertahan,” jelas Laporta, merefleksikan momen saat Messi harus berangkat ke Paris dengan menitikkan air mata.
Laporta juga memberikan pengakuan jujur terkait perannya dalam peristiwa tersebut. “Kami sudah mencoba, tetapi kondisi keuangan Barça tidak memungkinkan. Saya yakin dalam hidup selalu ada hal yang bisa dilakukan lebih baik. Semuanya bisa diperbaiki, meskipun saat itu situasinya sangat sulit,” imbuhnya. Pengakuan ini menjadi salah satu pernyataan terkuat dari seorang presiden klub mengenai penyesalan atas kepergian pemain terbesarnya.
Warisan Abadi dan Patung di Camp Nou
Di tengah dinamika politik dan kisruh masa lalu, Laporta tak lupa menyanjung warisan yang ditinggalkan Messi untuk klub. Ia menekankan hubungan timbal balik yang positif antara La Pulga dan Barcelona.
“Messi memberi banyak untuk Barca dan Barca memberi banyak untuk Messi,” ujarnya.
Lebih jauh, Laporta bahkan mengusulkan agar klub memberikan penghormatan tertinggi kepada sang legenda. “Ia pantas mendapatkan laga penghormatan, yang sayangnya tak bisa terwujud karena situasi yang terjadi. Ia adalah pemain yang begitu ikonik, yang terbaik di dunia, sehingga layak mendapat patung di samping Kubala dan Cruyff. Dan kalau mau sekalian, Ronaldinho juga pantas. Tapi Messi adalah yang terbaik,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Flick dan Masa Depan Barcelona
Tak hanya bicara masa lalu, Laporta juga menyinggung situasi terkini klub. Ia mengklaim bahwa pelatih kepala Hansi Flick merasa lebih nyaman jika dirinya tetap menjabat sebagai presiden. “Ia (Flick) datang ke acara peluncuran buku dan semuanya sudah sangat dipahami,” pungkas Laporta, memberikan sinyal bahwa stabilitas di ruang ganti juga bergantung pada hasil kontestasi politik klub.
Dengan pemilihan presiden yang semakin dekat, pernyataan Laporta ini jelas bertujuan untuk merebut hati para pemilih, terutama mereka yang masih berduka atas kepergian Messi. Akankah pengakuan dan visinya tentang masa depan cukup untuk membawanya kembali ke kursi presiden? Keputusan ada di tangan para socios. (***)
