Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak yang tumbuh di tengah keluarga yang tengah berjuang melawan himpitan ekonomi? Bukan sekadar soal tidak bisa membeli mainan baru atau liburan ke luar kota. Dampaknya jauh lebih dalam, melukai masa depan mereka dengan cara yang kadang tidak kasat mata.
Data terbaru dari Kementerian PPN/Bappenas dan UNICEF mengungkap fakta mencengangkan. Hampir empat dari sepuluh anak Indonesia—atau sekitar 29,8 juta jiwa—mengalami deprivasi multidimensi . Mereka tidak mengakses setidaknya dua kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, gizi, atau perumahan layak .
Ini bukan sekadar angka statistik. Ini wajah masa depan bangsa yang tengah berteriak. Mari kita bedah bersama bagaimana kesulitan ekonomi mencengkeram kehidupan anak, dan apa yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai dampaknya.
Memahami Kesulitan Ekonomi
Kesulitan ekonomi sering kita reduksi hanya pada ukuran pendapatan. Padahal, Menteri PPN Rachmat Pambudy mengingatkan bahwa kerentanan anak tidak melulu soal kondisi ekonomi keluarga . Ada risiko-risiko lain yang saling tumpang tindih dan justru memperparah dampaknya.
Saya melihat sendiri bagaimana keluarga yang secara statistik tidak masuk kategori miskin pun bisa mengalami tekanan luar biasa. Biaya hidup di kota besar menggerogoti penghasilan. Orang tua hidup dari gaji ke gaji, tanpa ruang untuk menabung atau berinvestasi untuk masa depan anak .
Ekonomi yang sulit hari ini tidak lagi hanya monopoli mereka yang tidak bekerja. Banyak keluarga kelas menengah yang rentan jatuh miskin hanya karena satu kali krisis atau anggota keluarga jatuh sakit.
Krisis Fertilitas yang Tak Banyak Disadari
Laporan UNFPA 2025 membalikkan asumsi kita tentang tren childfree. Ternyata, 77 persen penduduk Indonesia ingin punya anak lebih dari dua . Masalahnya, mereka merasa tidak mampu secara finansial.
Hassan Mohtashami, Perwakilan UNFPA Indonesia, menegaskan bahwa krisis fertilitas sesungguhnya bukan soal keengganan memiliki anak . Lebih dari 39 persen responden menyebut keterbatasan finansial sebagai penghalang utama .
Dian, seorang wartawan di Jakarta, jujur mengaku hanya mampu punya satu anak. “Secara finansial sudah ngepas. Kami hidup dari gaji ke gaji, untuk menabung saja susah,” ungkapnya .
Inilah ironi modern. Bukan keinginan yang kurang, melainkan kesempatan yang dipersempit oleh situasi ekonomi yang sulit.
Dampak Psikologis pada Anak
Peristiwa tragis di Ngada, NTT, awal 2026 lalu membuka mata kita. Seorang anak SD nekat mengakhiri hidupnya. Anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya dengan tegas menyatakan bahwa kemiskinan berdampak serius pada psikologis anak .
Jangan pernah meremehkan tekanan yang dirasakan anak-anak ini. Mereka mungkin tidak paham istilah inflasi atau PHK, tetapi mereka sangat peka terhadap perubahan emosi orang tua.
Stres Orang Tua Menular pada Anak
Tekanan ekonomi mengubah cara orang tua mengasuh. Psikolog Ririn Nur Abdiah Bahar menjelaskan bahwa stres finansial membuat orang tua mudah marah, cemas, dan depresi .
Emosi yang tidak stabil ini berdampak langsung pada pola asuh. Anak menghadapi pengendalian berlebihan, atau sebaliknya, diabaikan kebutuhan emosionalnya .
Warisan paling berbahaya dari kemiskinan bukanlah kekurangan materi, melainkan luka emosional yang menetap hingga dewasa. Anak-anak yang tumbuh dalam tekanan terus-menerus kehilangan kesempatan membangun fondasi mental yang sehat.
Rasa Malu dan Isolasi Sosial
Coba bayangkan menjadi anak yang tidak punya seragam layak, tidak bisa ikut iuran kelas, atau selalu menolak ajakan teman karena tidak punya uang jajan. Rasa malu ini perlahan mengikis kepercayaan diri mereka.
Anak-anak dari keluarga kurang mampu cenderung menarik diri dari pergaulan. Mereka membangun tembok isolasi sebagai mekanisme pertahanan, padahal justru ini menghambat keterampilan sosial mereka.
Ketimpangan Pendidikan yang Dimulai Sejak Usia Dini
Banyak orang berpikir dampak kesulitan ekonomi pada pendidikan baru terasa saat anak memasuki bangku sekolah. Asumsi ini keliru. Ketimpangan sudah dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
Stimulasi Dini yang Hilang
Penelitian dari Pusat Studi Pedesaan UGM mengungkap bahwa anak dari keluarga miskin mengalami keterlambatan pertumbuhan kognisi, afeksi, dan psikomotorik . Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena stimulasi yang diterima tidak optimal.
Amelia Maika, konsultan Bank Dunia dari UGM, menjelaskan bahwa orang tua kurang mampu sering tidak punya waktu dan energi membacakan buku, mendongeng, atau bermain bersama anak . Waktu habis untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan dasar.
“Bagaimana mungkin mereka dapat mendongeng bagi anak apabila sebagian besar waktu dipergunakan untuk membanting tulang?” tanya seorang peserta seminar di UGM .
Saya percaya kesenjangan pendidikan bukan dimulai di ruang kelas, tetapi di ruang keluarga. Anak yang sejak lahir akrab dengan buku dan cerita memiliki titik start yang jauh di depan.
Putus Sekolah dan Perkawinan Anak
Data Bappenas menunjukkan hampir 40 persen anak usia 5-6 tahun dari keluarga tidak mampu tidak mengikuti PAUD . Ini fondasi yang hilang.
Dampak berantainya panjang. Penelitian di UGM membuktikan anak kurang mampu berisiko lebih besar tidak naik kelas, putus sekolah, bahkan menikah di usia dini . Kemiskinan memaksa anak-anak kehilangan masa kanak-kanak mereka.
Ancaman di Lingkungan Tempat Tinggal
Jurang antara Desa dan Kota
Kesenjangan geografis sangat mencolok. Anak di perdesaan 46,1 persen mengalami deprivasi multidimensi, jauh di atas perkotaan yang 30,8 persen .
Maluku dan Papua berada dalam situasi paling memprihatinkan. Delapan dari sepuluh anak di sana mengalami deprivasi . Sementara itu, meski persentasenya lebih rendah, jumlah absolut anak terdampak tertinggi justru di Jawa karena populasi yang besar .
Rumah yang Tidak Layak Anak
Hampir sepertiga anak Indonesia tinggal di rumah tanpa toilet layak, air bersih, atau bahan bakar memasak yang memadai .
Ekonomi yang sulit juga menyebabkan krisis perumahan. Data UNFPA mencatat 22 persen keluarga membatasi jumlah anak karena keterbatasan hunian—entah karena tidak punya ruang atau harga rumah yang tak terjangkau .
Saya menilai kebijakan perumahan yang adil bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga investasi jangka panjang pada sumber daya manusia. Anak yang tumbuh di lingkungan kumuh dan tidak sehat tidak akan pernah mencapai potensi optimalnya.
Siklus Kemiskinan Antargenerasi
Inilah bagian paling pahit. Kemiskinan cenderung mewariskan kemiskinan. Anak yang hari ini menderita kekurangan, kelak berisiko besar mengalami nasib serupa saat berkeluarga.
Mereka tumbuh tanpa contoh bagaimana mengelola keuangan, tanpa akses pendidikan berkualitas, tanpa jaringan sosial yang membuka peluang pekerjaan layak. Ekonomi yang sulit hari ini menciptakan pola pikir bertahan hidup, bukan berkembang.
Namun siklus ini bisa diputus. Intervensi yang tepat dan konsisten pada masa anak-anak akan mengubah lintasan hidup mereka secara dramatis.
Bukan Sekadar Bantuan Tunai: Solusi yang Harus Komprehensif
Pendekatan parsial tidak akan pernah cukup. Memberi bantuan tunai tanpa memperbaiki layanan pendidikan dan kesehatan hanya menciptakan ketergantungan.
Rekomendasi dari Analisis Deprivasi
Laporan Bappenas-UNICEF merekomendasikan beberapa langkah strategis .
Pertama, koordinasi lintas kementerian. Perencanaan dan penganggaran harus diselaraskan untuk layanan terintegrasi anak usia dini. Kedua, investasi lintas sektor. Anggaran tidak boleh terkotak-kotak secara sektoral, tetapi terkoordinasi menangani kebutuhan anak yang saling berkaitan.
Ketiga, penguatan efektivitas perlindungan sosial. Program Keluarga Harapan (PKH) perlu tautan lebih kuat antara bantuan tunai dengan akses kesehatan, gizi, dan pendidikan. Keempat, penggunaan data akurat untuk menargetkan anak paling rentan .
Sekolah Rakyat sebagai Jaring Pengaman
Pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat untuk membuka akses pendidikan bagi keluarga miskin ekstrem. Atalia Praratya mengapresiasi langkah ini, tetapi mengingatkan keberhasilannya bergantung pada ketepatan sasaran dan kualitas pendampingan .
Sekolah Rakyat harus lebih dari sekadar gedung dan guru. Ia harus menjadi pusat layanan terpadu yang mendeteksi dini distress pada anak, memberikan pendampingan psikososial, dan memutus rantai putus sekolah.
Peran Keluarga dan Lingkungan Sosial
Negara tidak bisa bekerja sendiri. Keluarga dan komunitas memiliki peran krusial.
Komunikasi yang Jujur dengan Anak
Psikolog Ririn menyarankan orang tua melibatkan anak dalam situasi ekonomi dengan bijak . Bukan membebani mereka dengan keluhan, tetapi menjelaskan dengan bahasa sederhana mengapa harus berhemat atau menunda keinginan.
Anak-anak lebih tangguh dari yang kita kira. Mereka bisa memahami dan menyesuaikan diri jika kita membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kasih.
Lingkungan yang Mendukung
Tekanan ekonomi akan lebih ringan jika ada lingkungan sosial yang suportif. Tetangga yang peduli, keluarga besar yang membantu, atau komunitas yang saling berbagi.
UNFPA menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk membuat keputusan reproduksi secara bebas . Ini membutuhkan investasi pada perumahan terjangkau, pekerjaan layak, cuti melahirkan, dan layanan kesehatan reproduksi yang andal.
Yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini
Membaca tulisan ini, mungkin Anda bertanya: lalu apa yang bisa saya lakukan? Pertanyaan tepat.
Jika Anda orang tua yang tengah berjuang, mulailah dari hal kecil. Bacakan buku meski hanya 10 menit sehari. Dengarkan cerita anak tanpa memotong. Ciptakan rutinitas sederhana yang membuat mereka merasa aman dan dicintai. Nilai-nilai ini tidak butuh biaya mahal.
Jika Anda mampu secara ekonomi, pertimbangkan untuk berbagi. Bisa melalui donasi rutin ke lembaga kredibel, menjadi relawan mengajar, atau sekadar membayarkan uang sekolah tetangga yang kurang mampu.
Jika Anda pembuat kebijakan, pahami bahwa investasi pada anak bukan pengeluaran, melainkan modal pembangunan. Setiap rupiah yang kita belanjakan hari ini untuk gizi, pendidikan, dan perlindungan anak akan kembali berkali-kali lipat saat mereka menjadi dewasa produktif.
Penutup
Kesulitan ekonomi memang pukulan telak bagi tumbuh kembang anak. Ia merampas hak mereka atas pendidikan, kesehatan, dan kebahagiaan. Ia menciptakan luka psikologis yang membekas seumur hidup. Ia memutus impian dan membatasi masa depan.
Namun bukan berarti tidak ada harapan.
Ini bukan tugas pemerintah semata. Ini tanggung jawab kolektif kita sebagai bangsa. Karena anak-anak hari ini adalah Indonesia di masa depan.
Mari kita pastikan bahwa tidak ada satu anak pun yang kehilangan masa kecilnya hanya karena ia lahir di keluarga yang sedang berjuang. Karena sejatinya, martabat seorang anak tidak pernah ditentukan oleh ketebalan dompet orang tuanya.
