Di Balik Performa Liverpool, Kelleher Soroti Luka Mendalam Pasca-Tragedi Jota

Di Balik Performa Liverpool, Kelleher Soroti Luka Mendalam Pasca-Tragedi Jota

TRIBUN GROUP – Diogo Jota mungkin telah tiada, namun bayang-bayangnya masih membelenggu jiwa para pemain Liverpool. Itulah kesan yang disampaikan oleh mantan kiper Liverpool, Caoimhin Kelleher, yang kini membela Brentford. Dalam wawancara yang menguak sisi paling personal, Kelleher menyatakan bahwa bagi para mantan rekan setimnya di Anfield, musim ini telah kehilangan esensinya sebagai kompetisi sepak bola biasa.

Kelleher, yang membela Liverpool dari 2015 hingga hijrah ke Brentford pada Juni 2025, dengan tegas menyanggah narasi publik yang hanya menilai The Reds dari tabel klasemen, di mana mereka kini tercecer di posisi keenam Premier League.

“Bagi mereka, musim ini lebih soal pribadi dan mental, bukan hal lain,” ujar kiper Republik Irlandia itu kepada The Independent. “Saya merasa agak janggal dan sulit ketika mendengar orang membicarakan pemain Liverpool dan penampilan mereka karena menurut saya, musim ini bahkan tidak penting dari sisi sepak bola bagi mereka.”

Pernyataan itu adalah gema dari duka mendalam yang belum pulih pasca-tragedi musim panas lalu, ketika Diogo Jota meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di usia 28 tahun. Jota, winger Portugal yang mencetak 65 gol untuk Liverpool dan menjadi pilar penting dalam raihan gelar Premier League musim lalu, bukan sekadar rekan tim. Ia adalah sahabat.

“Kepedihan ini bukan hanya soal kehilangan seorang pemain hebat, tapi kehilangan saudara,” lanjut Kelleher, yang mengungkapkan Jota adalah salah satu sahabat terdekatnya di dunia sepak bola melalui unggahan Instagram duka saat itu.

Kelleher mengakui posisinya yang kini sudah di luar klub sedikit memberi jarak secara emosional. “Bagi saya, mungkin sedikit lebih mudah karena sudah menjauh dan tidak berada di lingkungan itu setiap hari. Secara pribadi, keputusan saya pergi untuk bermain secara reguler di tim utama adalah langkah yang tepat, terlepas dari tragedi yang terjadi,” tuturnya.

Berita Lain  Jendela Peluang Terbuka, Carrick Akhirnya Buka Sinyal Penerusan Tugas di MU

Namun, bagi mereka yang masih bertahan di Anfield, beban itu terus menganga. Kelleher merujuk pada momen emosional Andrew Robertson yang hancur karena terus memikirkan Jota saat membawa Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2026, sebuah perasaan yang diamini pelatih Arne Slot yang sejak November lalu mengakui betapa timnya merindukan Jota, baik sebagai pemain maupun pribadi.

Dalam analisis Kelleher, tuntutan publik agar Liverpool “cepat move on” adalah hal yang naif. “Orang-orang berharap semuanya cepat berlalu, tapi menurut saya itu tidak sesederhana itu,” tegasnya.

Ungkapan Kelleher ini bukan sekadar pembelaan, melainkan sebuah lensa untuk melihat musim sulit Liverpool dengan empati. Ini adalah pengakuan bahwa terkadang, di balik statistik dan poin yang tertinggal, ada pertaruhan yang jauh lebih besar: pertaruhan untuk tetap tegak bermain sepak bola sambil mengusung luka kehilangan seorang saudara. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *