TRIBUN GROUP – Napoli akan menjamu AS Roma pada giornata ke-25 Serie A 2025/2026 di Stadion Diego Armando Maradona, Senin (16/2/2026) dini hari pukul 02.45 WIB. Laga ini bukan sekadar pertarungan tiga poin biasa. Ia adalah Derby del Sole, Derbi Matahari, sebuah nama puitis yang kini menyimpan cerita kelam tentang persahabatan yang berubah menjadi permusuhan abadi .
Dari bertukar bendera menjadi duel penuh emosi. Dari ikatan persaudaraan melawan dominasi Utara menjadi pertarungan yang dikategorikan “high risk”. Inilah kisah tentang bagaimana dua saudara dari Italia selatan berpisah jalan, dan luka yang belum juga sembuh hingga hari ini.
Awal Mula: Satu Lawan di Utara
Untuk memahami Derbi Matahari, kita harus kembali ke masa ketika Roma dan Napoli berada di kubu yang sama. Nama Derby del Sole merujuk pada duel dua kekuatan dari wilayah selatan Italia—negeri yang lebih banyak tersinari matahari dibanding kawasan industri di utara seperti Turin atau Milan . Pada era 1970-an dan 80-an, kedua klub ini bersatu melawan dominasi triad Juventus, AC Milan, dan Inter Milan .
Hubungan mereka sangat harmonis. Suporter Roma dan Napoli sering saling mendukung ketika menghadapi klub utara. Bahkan ada tradisi indah: sebelum pertandingan, kedua kelompok suporter saling bertukar bendera dan bercampur di tribun, merayakan apa yang disebut sebagai gemellaggio (persaudaraan) .
“Erano gemelli, come Romolo e Remo” — mereka bagaikan saudara kembar, seperti Romulus dan Remus, demikian media Italia menggambarkan keakraban itu .
Titik Patah 1987: Gestur Tangan yang Mengubah Segalanya
Namun persahabatan itu runtuh dalam satu malam, 25 Oktober 1987. Di Stadion Olimpico, Roma menjamu Napoli dalam laga yang akan mengubah sejarah .
Napoli datang dengan scudetto pertama mereka tersemat di dada. Pertandingan berjalan sengit. Roma unggul lebih dulu melalui Roberto Pruzzo. Situasi mencekik Napoli ketika dua pemain mereka, Alessandro Renica dan Careca, diusir wasit, menyisakan hanya sembilan pemain di lapangan .
Namun pada menit ke-67, Diego Maradona mengambil tendangan pojok. Giovanni Francini melompat dan menyundul bola masuk ke gawang Roma. Napoli menyamakan kedudukan, 1-1, dengan hanya sembilan pemain. Sebuah momen heroik .
Tapi yang terjadi setelah peluit panjang berbunyi menjadi noda yang tak terhapuskan. Gelandang Napoli, Salvatore Bagni, berjalan melewati Curva Nord—tribun suporter Roma—dan melakukan gesto dell’ombrello, gestur ofensif yang setara dengan acungan jari tengah. Ia melakukannya sebagai respons terhadap hormat ala fasisme yang ditunjukkan beberapa suporter Roma .
“Bagni repeatedly apologized, but peace never returned,” tulis Calciomercato tentang upaya maaf yang tak lagi mempan . Persahabatan 11 tahun hancur dalam sekejap.
Ketegangan meluas ke luar stadion. Suporter Napoli melontarkan ejekan “AVIMM NOV LION NOV LION” — ‘kami punya sembilan singa’—menyinggung masa Koloseum Roma. Suporter Roma membalas dengan nyanyian “Vesuvius” sebagai hinaan terhadap sejarah Napoli . Sejak saat itu, Derby del Sole resmi masuk kategori “high risk”.
Tragedi 2014: Nyawa Melayang di Luar Lapangan
Jika 1987 adalah awal keretakan, maka 2014 adalah titik di mana luka itu berubah menjadi lubang menganga.
Pada 3 Mei 2014, Napoli menghadapi Fiorentina di final Coppa Italia yang digelar di Stadion Olimpico, Roma. Namun sebelum laga dimulai, sekelompok suporter Napoli diserang di kawasan Tor Quinto, Roma. Daniele De Santis, seorang pentolan ultras Roma yang diduga dalam keadaan mabuk, melepaskan tembakan ke arah kerumunan .
Tiga orang tertembak. Ciro Esposito, seorang suporter Napoli, menjadi korban paling parah. Setelah berjuang melawan luka tembaknya selama berminggu-minggu, Esposito meninggal dunia pada 19 Juni 2014 .
“Ibu saya sudah memaafkan orang yang menembaknya, tetapi saya masih belum mengerti apa yang ia lakukan,” kata Antonella, ibu Esposito, dengan hati hancur .
Francesco Totti, kapten AS Roma, menyerukan perdamaian. “Saya berharap apa yang terjadi di Roma tak pernah ada lagi. Roma tak punya hubungan dengan apa yang terjadi dan kota ini harus dihormati,” ujarnya .
Namun luka itu terlalu dalam. Suporter Napoli kemudian membuat spanduk penghormatan untuk Stefano dan Cristian, ayah dan anak fans Roma yang tewas dalam kecelakaan usai laga Liga Champions melawan Bayern Munich. Beberapa upaya rekonsiliasi dilakukan, tetapi nyawa yang telah melayang tak bisa kembali .
Derby yang Tak Lagi Sama
Kini, di tahun 2026, Napoli dan Roma akan kembali bertemu di Stadio Diego Armando Maradona. Nama Derbi Matahari masih digunakan, tetapi maknanya telah berubah selamanya.
Dari persahabatan yang lahir karena kecemburuan terhadap kekayaan utara, dari tradisi bertukar bendera, menjadi duel yang selalu dibayangi oleh potensi kekerasan dan kenangan kelam. Tragedi 2014 memastikan bahwa tidak ada lagi yang namanya gemellaggio di antara mereka.
Sebuah laporan detikcom pada 2015 menggambarkan situasi ini dengan tepat: “Maka, pertandingan Derby del Sole tersebut malah sering dihiasi nada yang keras di antara kedua kesebelasan serta para pendukungnya” .
Dini hari nanti, ketika bola mulai bergulir di Naples, sorak sorai akan terdengar. Tapi di baliknya, ada kenangan tentang gestur Bagni tahun 1987, ada ratapan ibu Ciro Esposito, ada spanduk-spanduk penghormatan, dan ada pertanyaan besar: akankah luka ini benar-benar sembuh? Atau akan terus menjadi bayangan dalam setiap Derby del Sole yang dimainkan?
Satu hal yang pasti: Derby del Sole bukan lagi tentang matahari yang hangat. Ia tentang persahabatan yang mati, dan kenangan yang tak bisa dihidupkan kembali. (***)
