Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada anak yang lahap menyantap sayur, sementara yang lain hanya mau makan ayam goreng dan nugget? Atau mengapa si kecil terlihat sangat menikmati brokoli kukus padahal biasanya anak seusianya menghindari sayuran hijau? Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali membuat orang tua penasaran. Ternyata, jawabannya mungkin sudah dimulai sejak Anda mengandung.
Konsep bahwa pola makan anak dapat dipengaruhi sejak dalam kandungan bukanlah mitos belaka. Ini adalah fakta ilmiah yang didukung oleh berbagai penelitian di bidang nutrisi prenatal dan perkembangan janin. Para ahli percaya bahwa periode kehamilan adalah “jendela kesempatan” emas untuk memperkenalkan berbagai rasa kepada calon buah hati .
Memahami Konsep Pemrograman Janin
Sebelum kita membahas lebih jauh, mari pahami dulu konsep penting yang disebut pemrograman janin atau fetal programming. Konsep ini menjelaskan bahwa kondisi dan pengalaman selama di dalam rahim, termasuk nutrisi yang diterima janin, dapat memprogram metabolisme dan preferensi tubuhnya untuk jangka panjang .
Janin memiliki tingkat plastisitas yang tinggi. Artinya, ia mampu menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi pada ibunya, termasuk apa yang diasup oleh ibunya selama mengandung . Penyesuaian ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan sistem saraf dan preferensi rasa.
Bagaimana Janin Mulai Mengenal Rasa Makanan?
Proses ini dimulai lebih awal dari yang Anda bayangkan. Selama dua bulan pertama kehamilan, indra perasa bayi sudah mulai terbentuk. Reseptor pada mulutnya sudah mulai bisa mengenali sensasi rasa seperti manis, asin, pahit, asam, dan umami .
Janin secara alami akan menelan cairan ketuban yang berada di sekeliling mereka. Rasa dari makanan yang ibu konsumsi akan melewati aliran darah dan masuk ke dalam cairan ketuban. Jadi, saat bayi menelan cairan ketuban, itulah pengalaman pertamanya mencicipi berbagai rasa .
Meskipun sistem pencernaan ibu dan anak terpisah, molekul dari makanan ibu tetap bisa masuk ke dalam cairan ketuban. Bukan hanya vitamin dan mineral, tetapi molekul yang memberikan rasa khusus pada makanan juga ikut terbawa. Bayi memang tidak merasakan rasa sekuat yang ibu rasakan, namun indra perasa yang tumpul ini cukup membuatnya bisa mengenali dan “mengingat” rasa-rasa tersebut .
Studi Ilmiah yang Mendukung
Prof. Dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), Ketua Kelompok Kerja Antropometri Kementerian Kesehatan sekaligus Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, menegaskan bahwa janin di dalam kandungan mengonsumsi makanan yang sama dengan yang dimakan oleh ibunya . Beliau menyatakan, “Anda sudah membentuk kebiasaan makan anak sejak kehamilan. Jika ibu tidak pilih-pilih makanan, anak pun tidak akan menjadi picky eater” .
Dampak Pola Makan Ibu terhadap Preferensi Rasa Anak
Kebiasaan makan ibu selama hamil ternyata memiliki korelasi langsung dengan preferensi rasa anak di kemudian hari. Berikut adalah beberapa dampak penting yang perlu Anda ketahui.
1. Pengenalan Rasa Melalui Cairan Ketuban
Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi beraneka ragam makanan selama masa kehamilan. Selain memberikan nutrisi lengkap untuk janin, variasi menu ini secara tidak langsung akan memperkenalkan berbagai rasa pada janin .
Janin yang terbiasa terpapar rasa tertentu melalui cairan ketuban cenderung lebih mudah menerima rasa tersebut saat mulai MPASI nanti. Sebaliknya, ibu yang mengonsumsi makanan kurang bervariasi berpotensi memunculkan perilaku picky eater saat si kecil besar nanti .
2. Paparan Rasa Selama Menyusui
Proses pengenalan rasa tidak berhenti saat bayi lahir. Saat ibu menyusui, apa pun yang ibu makan juga akan memengaruhi rasa ASI . Bayi yang mendapat ASI eksklusif selama enam bulan secara tidak langsung sudah mencicipi berbagai rasa dari makanan yang dikonsumsi ibunya .
Pemberian ASI eksklusif juga turut membentuk pola makan dan pola lapar-kenyang yang teratur untuk si kecil kelak. Kombinasi antara variasi makanan ibu selama hamil dan menyusui dapat membantu menurunkan risiko picky eater di kemudian hari .
3. Pengaruh terhadap Perkembangan Mental Anak
Penelitian terbaru dari Oregon Health & Science University (OHSU) yang dipublikasikan pada Maret 2025 mengungkap temuan menarik. Pola makan ibu hamil di trimester ketiga ternyata berkaitan erat dengan risiko gangguan kesehatan mental pada anak .
Konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti roti putih, sereal manis, dan makanan olahan, berpotensi memicu perubahan emosi dan perilaku bayi. Sebaliknya, makanan rendah IG seperti buah segar, sayuran hijau, dan biji-bijian utuh mendukung kestabilan emosi dan respons bayi terhadap stres .
Trimester Ketiga: Periode Paling Kritis
Para peneliti menemukan bahwa efek signifikan dari pola makan ibu hanya ditemukan pada trimester ketiga, bukan sebelumnya. Fase akhir kehamilan merupakan periode yang sangat sensitif terhadap asupan nutrisi, seiring dengan puncaknya perkembangan otak janin .
Elizabeth Wood, Ph.D., peneliti utama dari OHSU, menegaskan bahwa temuan ini membuka peluang besar untuk edukasi gizi yang lebih terarah. Tindakan pemenuhan nutrisi yang dilakukan tepat waktu, terutama di trimester akhir, dapat menurunkan risiko gangguan perilaku dan emosional sejak dini .
Pengaruh Kondisi Kesehatan Ibu saat Hamil
Selain pola makan, kondisi kesehatan ibu selama hamil juga memengaruhi preferensi makan anak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak picky eater berhubungan dengan sejumlah hal yang terjadi saat kehamilan, seperti ibu yang hamil di usia tua, ibu merokok, dan ibu yang memiliki indeks massa tubuh rendah atau terlalu kurus .
Stres, kecemasan, atau depresi pada ibu hamil bisa meningkatkan kadar hormon stres yang berdampak langsung pada pembentukan otak janin. Akibatnya, anak lebih rentan mengalami masalah perilaku, emosi, hingga kesulitan belajar .
Tips Menerapkan Pola Makan Sehat Selama Kehamilan
Memahami bahwa pola makan anak dipengaruhi sejak dalam kandungan, berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa ibu lakukan selama hamil.
Variasikan Menu Makanan
Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi beraneka ragam makanan, kecuali yang diolah mentah atau setengah matang. Selain memberikan nutrisi lengkap, variasi menu juga memperkenalkan janin pada berbagai rasa .
Cobalah untuk mengeksplorasi berbagai jenis sayuran, buah-buahan, sumber protein, dan karbohidrat. Semakin beragam rasa yang diperkenalkan, semakin besar kemungkinan anak menerima variasi makanan tersebut kelak.
Perhatikan Kualitas dan Kuantitas Makanan
Saat hamil, kebutuhan gizi meningkat khususnya energi, protein, serta berbagai vitamin dan mineral. Ibu harus memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya . Nutrisi seperti zat besi dan omega-3 terbukti dapat mencegah keterlambatan perkembangan dan meningkatkan daya pikir anak .
Batasi Makanan Olahan dan Tinggi Gula
Makanan olahan dan tinggi gula tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan ibu, tetapi juga bagi perkembangan janin. Makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat memicu fluktuasi gula darah yang berdampak pada peradangan dan keseimbangan hormon .
Konsumsi Makanan Rendah Glikemik
Perbanyak konsumsi makanan rendah glikemik seperti buah-buahan segar, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Makanan jenis ini membantu menjaga kestabilan gula darah dan mendukung perkembangan optimal janin .
Rutin Periksa Kehamilan
Pemeriksaan rutin selama kehamilan membantu memantau kondisi ibu dan janin. Dokter dapat memberikan saran nutrisi yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan individual . Jangan ragu untuk berkonsultasi tentang pola makan yang ideal selama hamil.
Peran 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK)
Pemerintah gencar menggaungkan kampanye 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Periode ini dihitung sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun . Seribu hari pertama adalah masa kritis yang menentukan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan .
Pada periode inilah fondasi pola makan anak dibangun. Mulai dari nutrisi prenatal, ASI eksklusif, hingga MPASI yang tepat, semuanya berkontribusi pada pembentukan preferensi rasa dan kebiasaan makan yang sehat.
Kesimpulan
Jadi, benarkah pola makan anak dibentuk saat kehamilan? Jawabannya adalah benar. Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa preferensi rasa dan kebiasaan makan anak mulai terbentuk sejak dalam kandungan melalui cairan ketuban, dan berlanjut melalui ASI setelah lahir.
Ini adalah kabar baik bagi calon orang tua. Anda memiliki kesempatan emas untuk membentuk fondasi pola makan sehat bagi anak sejak dini. Dengan mengonsumsi makanan bergizi dan bervariasi selama hamil, Anda tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik janin, tetapi juga memprogram preferensi rasanya untuk menyukai makanan sehat.
Seperti yang diungkapkan oleh Elinor Sullivan, Ph.D., salah satu peneliti dari OHSU, “Ketika kita melakukan intervensi selama kehamilan, kita bukan hanya memberi manfaat pada ibu dan bayinya, tapi juga pada cucunya kelak. Kita sedang membentuk kesehatan generasi masa depan” .
Mulailah perjalanan pola makan sehat untuk buah hati Anda sejak sekarang, karena investasi terbaik dimulai dari dalam kandungan. (***)
