TRIBUN GROUP – 2 Januari 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM secara resmi meningkatkan status Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi Level IV (Awas). Peningkatan status ini berlaku sejak Kamis (1/1/2026), menyusul lonjakan signifikan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resmi Jumat (2/1/2026), mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat dan wisatawan. “Masyarakat dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi, serta 7 kilometer sektoral pada arah barat laut dan timur laut,” tegas Lana. Zona eksklusi ini ditetapkan untuk mengantisipasi potensi bahaya langsung seperti lontaran material piroklastik, awan panas, dan abu vulkanik.
Lana juga meminta masyarakat untuk tetap tenang, namun waspada, serta hanya mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah dan pos pengamatan gunung api. Ia mengingatkan agar warga tidak mudah percaya pada informasi dari sumber yang tidak jelas atau tidak bertanggung jawab.
Waspadai Banjir Lahar dan Hujan Abu
Badan Geologi memberikan peringatan khusus terkait ancaman sekunder. Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di puncak gunung diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. DAS yang perlu diperhatikan antara lain Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Selain itu, warga yang terdampak hujan abu vulkanik diimbau untuk segera menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna melindungi saluran pernapasan dari partikel halus yang berbahaya.
Aktivitas Vulkanik Meningkat Drastis
Keputusan menaikkan status gunung dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) bukan tanpa dasar. Lana Saria menjelaskan, terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang tajam sejak 31 Desember 2025 pukul 00.00 hingga 18.00 WITA. Dalam periode 18 jam tersebut, terekam 122 kali gempa vulkanik dalam.
“Kenaikan gempa ini menunjukkan adanya suplai magma baru yang cukup besar dan bergerak cepat menuju permukaan. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya erupsi,” jelas Lana.
Data seismik dalam rentang 23-31 Desember 2025 juga menunjukkan kegempaan yang kompleks dan intens, dengan ratusan kali tremor non-harmonik dan gempa vulkanik dalam. Pola ini mengindikasikan pergerakan fluida (magma dan gas) di dalam tubuh gunung yang semakin gencar.
Pihak berwenang setempat diharapkan segera mengkoordinasikan langkah-langkah mitigasi, termasuk penyiapan lokasi pengungsian yang aman bagi warga yang tinggal dalam zona bahaya. Masyarakat diharapkan mematuhi seluruh imbauan untuk keselamatan bersama. (***)
