TRIBUN GROUP – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berada dalam kondisi kritis. Pergerakan magma di dalam gunung api tersebut dilaporkan tetap tinggi, mengindikasikan potensi erupsi masih mengancam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resminya pada Minggu (4/1), mengungkapkan sejumlah data pengamatan yang menguatkan kondisi tersebut.
“Aktivitas kegempaan menunjukkan adanya pergerakan fluida atau magma yang cukup aktif yang disertai adanya suplai magma. Sehingga potensi terjadinya erupsi masih ada,” tegas Lana Saria.
Data Deformasi dan Seismik Menguatkan Ancaman
Analisis dari instrumen pemantauan menunjukkan tanda-tanda tekanan yang terus terbangun. Pengukuran deformasi dengan tiltmeter mendeteksi terjadinya akumulasi tekanan pada sumbu tangensial (X). Sementara itu, data Global Navigation Satellite System (GNSS) dari dua stasiun pemantau (WLR di barat laut dan NUR di timur laut) masih menunjukkan pola inflasi atau pengembungan tubuh gunung dalam dua pekan terakhir.
Data kegempaan dalam rentang 2-3 Januari 2026 hingga pukul 12.00 WITA juga menunjukkan aktivitas yang signifikan, tercatat:
45 kali tremor non-harmonik
1 kali gempa low frequency
97 kali gempa vulkanik dalam
1 kali gempa tektonik lokal
6 kali gempa tektonik jauh
Hambatan pada Saluran Magma, Energi Terus Terakumulasi
Lana Saria menyoroti kenaikan signifikan gempa vulkanik sejak 31 Desember 2025, meskipun erupsi belum terjadi. Kondisi ini, menurutnya, mengindikasikan adanya hambatan pada saluran magma (conduit) yang menahan material untuk naik ke permukaan.
“Ini dapat mengarah kemungkinan terjadinya pelepasan energi dalam bentuk erupsi apabila tekanan terus meningkat,” jelasnya.
Status Tetap Level IV (Awas), Masyarakat Diimbau Waspada
Berdasarkan seluruh data dan analisis tersebut, Badan Geologi menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki tetap berada pada Level IV (Awas), level tertinggi dalam skala siaga gunung api.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah rawan bahaya (KRB) dan di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan mematuhi semua rekomendasi yang telah dikeluarkan dan tidak mendekati zona berbahaya di sekitar kawah. (***)
