Apa Itu Penyakit TB? Mengenal Sakit TB dari Gejala Hingga Pengobatannya

Apa Itu Penyakit TB? Mengenal Sakit TB dari Gejala Hingga Pengobatannya

Sakit TB atau Tuberculosis masih menjadi momok kesehatan global, termasuk di Indonesia. Banyak orang mengenal penyakit ini dengan nama flek paruparu, meski istilah itu kurang tepat. TB sebenarnya adalah penyakit menular serius yang terutama menyerang paruparu, tetapi bisa menyebar ke organ tubuh lain.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan bisa berakibat fatal jika tidak diobati dengan benar. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu penyakit TB, bagaimana penularannya, gejala yang muncul, serta langkah pencegahan dan pengobatannya.

Memahami Dasar Penyakit TB

Mari kita mulai dengan mengenal musuh kita. Apa sebenarnya TB itu?

Definisi dan Penyebab Utama

Penyakit TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini paling sering menyerang organ paru (disebut TB Paru), namun tidak menutup kemungkinan untuk menyerang tulang, kelenjar getah bening, selaput otak, atau organ lainnya (TB Ekstra Paru). Bakteri TB memiliki lapisan lilin yang unik pada dinding selnya, membuatnya bisa bertahan hidup dalam kondisi ekstrem dan kadang “bersembunyi” dari sistem kekebalan tubuh.

Cara Penularan yang Perlu Diwaspadai

TB menular melalui udara. Ketika penderita TB Paru aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, mereka mengeluarkan droplet (percikan dahak) yang mengandung bakteri. Droplet ini bisa terhirup oleh orang di sekitarnya. Perlu digarisbawahi, sakit TB tidak menular melalui sentuhan kulit, berbagi makanan, atau penggunaan peralatan makan yang sama.

Namun, tidak semua orang yang menghirup bakteri TB akan langsung sakit. Menurut dr. Erlina Burhan, Sp.P(K), seorang ahli paru dari RSUP Persahabatan, “Hanya sekitar 10% orang yang terinfeksi bakteri TB akan berkembang menjadi penyakit TB aktif. Sisanya, bakteri akan ‘tertidur’ dalam keadaan TB Laten.”

Gejala Sakit TB yang Harus Anda Kenali

Mengenali gejala sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi dan penularan lebih luas.

Gejala Umum TB Paru
  • Batuk Berkepanjangan: Batuk yang berlangsung lebih dari 23 minggu adalah gejala utama. Awalnya mungkin batuk kering, lalu berkembang menjadi batuk berdahak, bahkan bisa berdarah.
  • Demam Ringan dan Berkeringat di Malam Hari: Demam tidak terlalu tinggi, biasanya muncul sore hingga malam hari, dan disertai keringat yang sangat banyak hingga membasahi pakaian dan seprai.
  • Penurunan Berat Badan dan Nafsu Makan: Penurunan berat badan yang tidak diinginkan dan rasa tidak nafsu makan adalah tanda klasik.
  • Rasa Lemah dan Lesu (Malaise): Tubuh terasa sangat lelah dan tidak bertenaga, bahkan setelah istirahat cukup.
  • Nyeri Dada dan Sesak Napas: Nyeri bisa muncul saat bernapas dalam atau batuk. Sesak napas terjadi jika infeksi sudah cukup luas.
Gejala TB Ekstra Paru

Gejalanya bervariasi tergantung organ yang diserang. Misalnya, pembengkakan kelenjar getah bening di leher untuk TB kelenjar, atau nyeri punggung dan kelainan bentuk tulang belakang untuk TB tulang.

Berita Lain  Manfaat Buah Alpukat Apa Saja? Ternyata Luar Biasa Untukmu!

Peringatan Penting: Jika Anda atau orang terdekat mengalami batuk lebih dari 2 minggu disertai salah satu gejala di atas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan tunda.

Siapa Saja yang Berisiko Tinggi Tertular TB?

Meski bisa menyerang siapa saja, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi.

Faktor Risiko yang Memperbesar Peluang Terinfeksi

  • Kontak Erat dengan Penderita TB Aktif: Tinggal serumah atau sering berinteraksi dalam ruangan tertutup dengan penderita yang belum diobati.
  • Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah: Ini adalah faktor risiko paling besar. Termasuk di dalamnya:
    Orang dengan HIV/AIDS.
  • Pasien diabetes melitus yang tidak terkontrol.
  • Pasien yang menjalani kemoterapi atau menggunakan obat imunosupresan jangka panjang.
  • Lansia dan anakanak.
  • Gizi Buruk: Tubuh yang kekurangan nutrisi sulit melawan infeksi.
  • Kondisi Lingkungan: Ventilasi rumah yang buruk, lembab, dan padat penghuni.
  • Perilaku Hidup: Merokok merusak pertahanan alami paru, sementara konsumsi alkohol berlebihan melemahkan sistem imun secara umum.

Diagnosis: Bagaimana Dokter Mengetahui Seseorang Sakit TB?

Diagnosis TB tidak bisa hanya berdasarkan gejala. Diperlukan pemeriksaan medis.

Pemeriksaan Dahak (Sputum)

Ini adalah pemeriksaan utama untuk mendiagnosis TB Paru. Dahak diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan bakteri TB (pemeriksaan BTA). Biasanya, dahak diambil tiga kali: saat kunjungan pertama (SPS), pagi hari sebelum makan (PAGI), dan saat kunjungan kedua (SPS).

Pemeriksaan Radiologi (Foto Rontgen Dada)

Foto rontgen paru membantu dokter melihat gambaran kelainan di paruparu, seperti bercakbercak atau kavitas (lubang). Namun, foto rontgen saja tidak bisa memastikan TB. Ia harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan dahak.

Tes Cepat Molekuler (TCM)

Tes ini adalah standar diagnosis terbaru yang lebih akurat dan cepat. TCM tidak hanya mendeteksi keberadaan bakteri TB tetapi juga mengetahui apakah bakteri tersebut resisten terhadap obat rifampisin (salah satu obat utama TB) dalam waktu kurang dari 2 jam.

Tes Darah dan Tes Kulit (Mantoux)

Tes ini lebih sering digunakan untuk mendiagnosis TB Laten. Tes Mantoux menyuntikkan protein bakteri TB di bawah kulit lengan. Pembengkakan (indurasi) yang muncul setelah 4872 jam diukur untuk menentukan hasil.

Pengobatan TB: Konsisten Adalah Kunci Kesembuhan

Inilah kabar baiknya: sakit TB bisa disembuhkan total! Syaratnya, pengobatan harus dilakukan dengan benar dan tuntas.

Prinsip Pengobatan TB (DOTS)

Program pengobatan standar global disebut DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Intinya, pasien minum obat secara teratur di bawah pengawasan seorang pengawas minum obat (PMO). PMO bisa petugas kesehatan, keluarga, atau tokoh masyarakat.

Jenis Obat dan Durasi Pengobatan

Pengobatan TB standar memakan waktu minimal 6 bulan, menggunakan kombinasi beberapa obat. Fase awal (2 bulan) intensif dengan 45 obat, dilanjutkan fase lanjutan (4 bulan) dengan 23 obat. Obat TB utama antara lain: Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pyrazinamide (Z), Ethambutol (E), dan Streptomisin.

Ini sangat penting: Jangan pernah berhenti minum obat sendiri meski gejala sudah hilang. Bakteri TB mungkin belum mati seluruhnya. Penghentian dini adalah penyebab utama kegagalan pengobatan dan munculnya TB RO (TB Resisten Obat).

Berita Lain  Cara Memperbanyak Sperma dalam 1 Hari, Ini Tips Ampuh!
Efek Samping Obat dan Cara Mengatasinya

Obat TB bisa menimbulkan efek samping seperti mual, nyeri sendi, kesemutan, atau warna urine menjadi oranye kemerahan (karena Rifampisin). Jangan takut. Semua keluhan harus dilaporkan ke dokter atau petugas kesehatan. Mereka akan membantu mengatasinya, bukan menghentikan pengobatan.

Komplikasi dan Bahaya TB yang Tidak Diobati

Mengabaikan sakit TB bisa berakibat sangat serius.

TB Resisten Obat (TB RO)

Ini adalah kondisi ketika bakteri TB kebal terhadap obat lini pertama. Pengobatan TB RO jauh lebih lama (bisa 20 bulan), lebih mahal, efek samping obat lebih berat, dan angka kesembuhannya lebih rendah. TB RO terjadi terutama karena pengobatan yang tidak tuntas atau tidak teratur.

Kerusakan Permanen pada Paru-Paru

Infeksi yang luas bisa meninggalkan jaringan parut (fibrosis) dan lubang (kavitas) di paru, menyebabkan gangguan pernapasan menetap meski sudah sembuh dari infeksi.

Penyebaran ke Organ Lain (TB Milier)

Bakteri bisa menyebar melalui darah ke seluruh tubuh, menyebabkan TB Milier yang sangat berbahaya dan berpotensi fatal.

Kematian

Tanpa pengobatan yang tepat, sekitar 50% penderita TB aktif akan meninggal dunia.

Pencegahan

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut cara mencegah penularan TB.

Strategi Utama Pencegahan TB

  • Vaksinasi BCG: Vaksin BCG diberikan pada bayi untuk mencegah bentuk TB berat seperti TB Milier dan TB Meningitis. Vaksin ini tidak sepenuhnya mencegah infeksi, tetapi sangat mengurangi risiko komplikasi fatal.
  • Menemukan dan Mengobati Penderita TB Aktif Sampai Sembuh: Ini adalah cara terpenting memutus mata rantai penularan.
  • Pencegahan pada Orang dengan TB Laten: Orang dengan risiko tinggi (seperti kontak erat dengan penderita) yang terdiagnosis TB Laten bisa mendapatkan pengobatan pencegahan (TPT) agar tidak berkembang menjadi TB aktif.

Perilaku Hidup Sehat untuk Mengurangi Risiko

  • Jaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang.
  • Pastikan ventilasi rumah baik. Bukalah jendela agar sinar matahari masuk dan sirkulasi udara lancar.
  • Gunakan masker jika Anda batuk, atau jika harus berinteraksi dengan penderita TB.
  • Tidak meludah sembarangan.
  • Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.

Kesimpulan

Sakit TB bukanlah aib. Ia adalah penyakit infeksi yang butuh penanganan serius dan dukungan dari semua pihak. Kunci utama mengendalikan TB adalah deteksi dini, pengobatan tuntas, dan dukungan lingkungan kepada penderita.

Jika Anda merasa memiliki gejala, jangan ragu dan jangan takut untuk memeriksakan diri. Semakin cepat diobati, semakin besar peluang sembuh total dan semakin kecil risiko menularkan ke orang lain. Ingat, pengobatan TB GRATIS di Puskesmas dan rumah sakit rujukan pemerintah.

Dengan pemahaman yang benar tentang apa itu penyakit TB, kita semua bisa berperan aktif menciptakan Indonesia yang bebas TB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *