TRIBUN GROUP – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan sedang membahas kemungkinan aksi militer terhadap Iran, menyusul eskalasi brutal penindasan protes besar-besaran yang telah menyebar ke seluruh negara tersebut. Diskusi ini muncul bersamaan dengan ancaman terbuka Presiden Donald Trump di media sosial untuk “membantu” rakyat Iran.
Menurut laporan eksklusif The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat AS, telah terjadi pembicaraan awal mengenai opsi militer, termasuk rencana serangan udara berskala besar terhadap target-target militer Iran tertentu. “Sudah ada diskusi awal mengenai opsi militer, termasuk kemungkinan serangan udara berskala besar terhadap sejumlah target militer Iran,” tulis laporan tersebut, Sabtu (10/1/2026).
Salah satu pejabat menyebut sejumlah situs spesifik telah diidentifikasi sebagai target potensial, meski belum ada kesepakatan final. Pejabat lain menekankan bahwa pembicaraan ini masih bersifat awal dan belum ada pengerahan pasukan atau alat utama, menggolongkannya sebagai bagian dari proses perencanaan rutin untuk berbagai skenario.
Ancaman Terbuka Trump dan Eskalasi di Iran
Pembicaraan di internal Gedung Putih tersebut mendapat penguatan publik dari Presiden Trump. Melalui akun media sosialnya pada Sabtu, Trump menulis, “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”
Pernyataan Trump disampaikan di tengah titik kritis baru dalam gelombang protes di Iran. Tentara Republik Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi menyatakan akan bergabung dengan aparat keamanan untuk menindak demonstran, dalihnya untuk melindungi kepentingan nasional dan infrastruktur strategis. Militer Iran juga menuduh Israel dan “kelompok teroris” sebagai dalang kerusuhan.
Keterlibatan militer aktif menandai eskalasi signifikan dalam pendekatan rezim Teheran. Awalnya dipicu oleh krisis ekonomi akibat sanksi, protes yang kini telah menjalar ke 180 kota itu dengan cepat berubah menjadi tantangan terbuka terhadap sistem teokrasi yang berkuasa puluhan tahun.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Kekerasan yang kian meningkat telah memakan korban jiwa yang signifikan. Menurut Organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA), sedikitnya 65 orang tewas hingga Jumat malam. Angka ini lebih dari dua kali lipat dari 29 korban yang dilaporkan di awal pekan, menunjukkan intensifikasi represi.
Ancaman intervensi AS, meski masih dalam tahap wacana, berpotensi mengubah dinamika regional secara dramatis. Respons Iran dan perkembangan protes dalam negeri akan menjadi faktor penentu apakah pembicaraan di Washington tetap sebatas perencanaan kontinjensi atau berubah menjadi aksi nyata. Dunia internasional kini menanti langkah berikutnya dari Washington dan Teheran, dengan kekhawatiran terhadap potensi konflik terbuka yang baru di Timur Tengah. (***)
