Dusun Adat Sasak Sade Lombok Rampung Dibangun Ulang, Kini Dibidik Jadi Cagar Budaya Resmi

Dusun Adat Sasak Sade Lombok Rampung Dibangun Ulang, Kini Dibidik Jadi Cagar Budaya Resmi

Tribun Group – Ada kabar menarik dari salah satu sudut Lombok Tengah yang selama ini menjadi magnet wisata budaya di Nusa Tenggara Barat. Dusun Adat Sasak Sade, kawasan pemukiman tradisional yang sudah lama dikenal sebagai wajah autentik suku Sasak, baru saja menyelesaikan proses pembangunan ulang secara resmi. Bukan sekadar renovasi biasa — ini adalah upaya serius untuk memastikan warisan leluhur tetap berdiri kokoh di tengah arus modernisasi yang terus menggerus banyak situs budaya di Indonesia.

Desa Sade bukan nama yang asing bagi para pelancong, baik domestik maupun mancanegara. Terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, kawasan ini sudah lama menjadi destinasi wajib yang menawarkan pengalaman langsung mengenal kehidupan masyarakat Sasak — mulai dari arsitektur rumah adat berbahan alami, tradisi menenun kain songket, hingga adat istiadat yang masih dijaga turun-temurun. Kini, setelah proses pembangunan ulang tuntas, babak baru pun dimulai.

Yang membuat kabar ini semakin penting adalah langkah lanjutan yang sedang diupayakan: Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lombok Tengah kini aktif mendorong penetapan kawasan Dusun Adat Sasak Sade sebagai cagar budaya secara resmi. Jika berhasil, status tersebut bukan hanya simbol prestisius, tetapi juga benteng hukum yang melindungi kawasan ini dari ancaman alih fungsi, pembangunan sembarangan, dan kepunahan budaya.

Apa Itu Dusun Adat Sasak Sade dan Mengapa Penting?

Dusun Adat Sasak Sade adalah salah satu dari sedikit permukiman adat di Indonesia yang masih dihuni secara aktif oleh masyarakat dengan cara hidup tradisional. Di sinilah rumah-rumah berbentuk khas dengan dinding anyaman bambu, atap ilalang, dan lantai yang — secara unik — dipoles menggunakan kotoran kerbau masih berdiri dan difungsikan sebagaimana mestinya. Bukan sebagai museum atau replika, melainkan sebagai rumah sungguhan tempat keluarga-keluarga Sasak menjalani kehidupan sehari-hari.

Keunikan inilah yang membuat Sade berbeda dari banyak situs budaya lain. Wisatawan yang datang ke sini tidak sekadar melihat bangunan tua, tetapi benar-benar berinteraksi dengan komunitas yang masih hidup dalam tradisi. Para perempuan Sasak masih bisa dijumpai sedang menenun dengan alat tenun tradisional, menghasilkan kain songket dan tenun ikat yang menjadi kebanggaan NTB. Anak-anak bermain di halaman, dan para tetua masih dengan bangga berbagi cerita tentang asal-usul leluhur mereka.

Namun di balik pesonanya, kawasan seperti Sade menyimpan kerentanan yang nyata. Tanpa perlindungan hukum yang jelas, permukiman adat bisa terancam oleh berbagai tekanan — dari ekspansi properti, perubahan tata ruang, hingga tekanan ekonomi yang mendorong warga untuk meninggalkan cara hidup tradisional mereka. Itulah mengapa upaya pembangunan ulang dan penetapan sebagai cagar budaya menjadi sangat krusial saat ini.

Proses Pembangunan Ulang: Lebih dari Sekadar Perbaikan Fisik

Mengembalikan Autentisitas Arsitektur Sasak

Pembangunan ulang yang baru saja dirampungkan di Dusun Adat Sasak Sade bukan pekerjaan ringan. Proses ini melibatkan pemulihan elemen-elemen arsitektur tradisional yang mungkin selama bertahun-tahun mengalami degradasi — baik akibat usia bangunan, cuaca ekstrem, maupun tekanan sosial yang mendorong warga mengadopsi material bangunan modern. Rumah adat Sasak, yang dikenal dengan sebutan bale, memiliki konstruksi yang sangat spesifik dan tidak bisa sembarangan diganti materialnya tanpa kehilangan nilai autentisitasnya.

Berita Lain  Bikin Geger! Ular Sanca 3 Meter Tiba-Tiba Muncul dari Kloset Rumah Warga Tangerang

Dalam konteks pelestarian budaya, pembangunan ulang yang ideal harus mempertahankan teknik konstruksi asli, menggunakan material lokal yang sama, dan melibatkan para pengrajin atau warga setempat yang memahami tradisi bangunan Sasak. Jika dilakukan dengan benar, hasilnya bukan hanya bangunan yang lebih kuat secara fisik, tetapi juga peneguhan identitas budaya komunitas yang tinggal di dalamnya.

Foto Udara yang Bicara Seribu Kata

Foto udara kawasan Dusun Adat Sasak Sade yang diambil pada akhir Oktober 2026 — diabadikan oleh fotografer ANTARA, Ahmad Subaidi — memperlihatkan betapa tertatanya tata letak bangunan-bangunan adat di kawasan ini. Dari ketinggian, deretan atap ilalang yang khas menciptakan pola yang hampir artistik, menggambarkan sebuah permukiman yang terencana dan teratur, sesuai dengan filosofi hidup masyarakat Sasak yang menjunjung keselarasan dengan alam dan sesama.

Gambaran visual seperti inilah yang juga menjadi argumen kuat mengapa Sade layak mendapatkan status perlindungan resmi. Kawasan ini bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga merupakan bukti hidup tentang bagaimana manusia dan tradisi bisa bertahan berdampingan dengan harmonis di era modern.

Upaya Penetapan Cagar Budaya oleh TACB Lombok Tengah

Apa Peran Tim Ahli Cagar Budaya (TACB)?

Tim Ahli Cagar Budaya atau TACB adalah lembaga yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. TACB bertugas melakukan kajian, penilaian, dan rekomendasi terhadap objek, bangunan, struktur, situs, atau kawasan yang dinilai memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Tanpa rekomendasi dari TACB, sebuah kawasan tidak bisa secara sah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah maupun pusat.

TACB Lombok Tengah yang kini mengupayakan penetapan Dusun Adat Sasak Sade memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Mereka harus memastikan bahwa seluruh proses dokumentasi, kajian historis, dan verifikasi lapangan dilakukan secara komprehensif sebelum rekomendasi resmi diajukan. Proses ini memang membutuhkan waktu, tetapi hasilnya akan memberikan perlindungan hukum yang jauh lebih kuat dan permanen bagi kawasan tersebut.

Manfaat Status Cagar Budaya bagi Desa Sade

Penetapan sebagai cagar budaya membawa sejumlah konsekuensi positif yang sangat signifikan. Pertama, kawasan tersebut mendapatkan perlindungan hukum dari segala bentuk kerusakan, pemugaran tanpa izin, atau alih fungsi yang tidak sesuai. Kedua, ada kemungkinan untuk mendapatkan alokasi anggaran pelestarian dari pemerintah — baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Ketiga, status cagar budaya juga meningkatkan nilai kawasan sebagai destinasi wisata heritage yang terverifikasi secara resmi, yang pada gilirannya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat lokal.

Berita Lain  Mengapa Anak Difabel Bisa Jadi Korban Perundungan Maut di Lingkungan Sendiri?

Bagi warga Desa Sade sendiri, pengakuan resmi ini memiliki nilai yang melampaui aspek ekonomi semata. Ini adalah pengakuan bahwa cara hidup mereka, rumah-rumah mereka, dan tradisi yang mereka jaga selama ratusan tahun memiliki nilai yang diakui oleh negara — sebuah bentuk penghormatan yang tidak ternilai harganya.

Sade dalam Peta Wisata Budaya Lombok

Dusun Adat Sasak Sade selama ini sudah menjadi salah satu destinasi andalan pariwisata Lombok Tengah, terutama bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya di luar rute pantai dan gili yang sudah sangat populer. Lokasinya yang strategis — tidak jauh dari jalur menuju Pantai Kuta Lombok — menjadikannya mudah diakses dan sering dimasukkan dalam paket wisata satu hari oleh agen perjalanan lokal maupun nasional.

Dengan rampungnya pembangunan ulang dan prospek penetapan cagar budaya, Sade berpotensi naik kelas sebagai destinasi wisata heritage premium. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto di depan rumah adat, tetapi juga untuk belajar, memahami, dan menghargai kedalaman budaya Sasak yang masih hidup dan bernapas di sana. Ini adalah jenis pariwisata yang berkelanjutan — yang menguntungkan semua pihak tanpa mengorbankan nilai budaya yang menjadi daya tarik utamanya.

Tantangan ke Depan yang Tidak Bisa Diabaikan

Meski kabar pembangunan ulang yang tuntas dan upaya penetapan cagar budaya ini patut disambut dengan optimisme, tantangan ke depan tetap ada dan tidak boleh diremehkan. Salah satu yang paling krusial adalah bagaimana memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di Sade — bukan hanya gedung dan bangunannya — juga terlindungi dan terdukung secara ekonomi. Pelestarian budaya yang hanya fokus pada fisik bangunan tanpa memperhatikan kesejahteraan komunitasnya tidak akan bertahan lama.

Selain itu, manajemen kunjungan wisata yang terkelola dengan baik juga menjadi penting agar kehadiran turis tidak justru merusak tatanan sosial dan ketenangan hidup warga setempat. Banyak situs budaya di dunia yang justru mengalami degradasi karena overtourism yang tidak terkontrol. Desa Sade perlu belajar dari pengalaman tersebut dan merancang sistem pengelolaan yang bijak sejak dini.

Rampungnya pembangunan ulang Dusun Adat Sasak Sade adalah berita yang menggembirakan, dan langkah TACB Lombok Tengah untuk mendorong penetapan kawasan ini sebagai cagar budaya resmi adalah tindak lanjut yang tepat dan mendesak. Warisan budaya seperti Sade bukan hanya milik warga Lombok atau NTB — ia adalah bagian dari kekayaan peradaban bangsa yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Kini saatnya kita semua, baik pemerintah, masyarakat, maupun wisatawan, memiliki peran dalam memastikan bahwa Desa Sade tidak hanya bertahan, tetapi juga terus hidup dan relevan untuk generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *