Benarkah Erupsi Gunung Api di Indonesia Dikendalikan HAARP? Ini yang Sebenarnya Terjadi

Benarkah Erupsi Gunung Api di Indonesia Dikendalikan HAARP? Ini yang Sebenarnya Terjadi

Tribun Group – Bayangkan beberapa gunung api di Indonesia tiba-tiba erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan. Bagi sebagian orang, fenomena itu cukup mengejutkan, bahkan menakutkan. Wajar bila muncul pertanyaan: mengapa bisa terjadi serentak? Apakah ada sesuatu di balik ini semua? Pertanyaan-pertanyaan itu memang sangat manusiawi. Namun ketika jawaban yang beredar justru menuding teknologi rahasia milik Amerika Serikat sebagai dalangnya, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya lebih kritis.

Itulah yang terjadi pada akhir Agustus hingga awal September 2026, ketika erupsi sejumlah gunung api di Indonesia menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Bukan sekadar diskusi ilmiah, melainkan sebuah narasi yang jauh lebih dramatis: erupsi itu diklaim sebagai hasil rekayasa HAARP, proyek teknologi milik Amerika Serikat yang selama ini memang sudah sering diseret ke dalam berbagai teori konspirasi. Kali ini, tuduhan itu bahkan datang dari seorang pejabat yang bernaung di bawah Kantor Staf Presiden.

Tentu saja, klaim semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa diperiksa. Kita hidup di era di mana informasi menyebar lebih cepat dari verifikasi fakta. Maka penting sekali untuk memahami apa sebenarnya HAARP itu, seberapa jauh kemampuannya secara ilmiah, dan mengapa tudingan bahwa teknologi ini mampu memicu erupsi gunung api adalah sesuatu yang tidak masuk akal dari sudut pandang ilmu kebumian.

Dari Mana Tudingan Ini Berasal?

Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), membuat pernyataan yang langsung ramai diperbincangkan publik. Melalui akun Instagram pribadinya pada Senin, 7 September 2026, ia menyatakan kecurigaannya bahwa erupsi beberapa gunung api di Indonesia tidak terjadi secara alami, melainkan ada rekayasa dari pihak asing menggunakan teknologi HAARP.

Alasan yang ia kemukakan cukup mengejutkan: erupsi itu terjadi sehari setelah Presiden Prabowo Subianto bertemu dan bersalaman dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok. Ia juga menyinggung bahwa negara-negara seperti China dan Turki pernah mengalami bencana mendadak saat hubungan mereka dengan Amerika Serikat sedang memanas. Dari sanalah ia menarik kesimpulan bahwa HAARP mungkin digunakan sebagai “senjata bencana” terhadap Indonesia.

Yang menarik, Levenia sendiri mengakui bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaimnya. Ia menyebutnya sebagai pandangan pribadi dan spekulasi. Namun di era media sosial, pengakuan kecil semacam itu kerap tenggelam, sementara narasi dramatisnya justru yang paling banyak menyebar. Kompas.com berupaya menghubungi Levenia untuk klarifikasi lebih lanjut, namun hingga kini belum mendapat respons.

Apa Sebenarnya HAARP Itu?

Sebelum membahas apakah HAARP bisa memicu erupsi gunung api, penting untuk meluruskan dulu apa sebenarnya fasilitas ini dan apa yang sebenarnya dikerjakan di sana.

Sejarah Singkat HAARP

HAARP, singkatan dari High-frequency Active Auroral Research Program, adalah proyek kolaborasi antara Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Awalnya, proyek ini memang memiliki tujuan militer, yakni meningkatkan sistem komunikasi dan pengawasan untuk keperluan pertahanan maupun sipil. Fasilitas ini berlokasi di Alaska dan sempat menimbulkan banyak spekulasi karena sifatnya yang tidak terlalu terbuka untuk publik pada masa awalnya.

Berita Lain  Panas Bumi Suplai 24 Persen Listrik Sulawesi Utara, Pertamina NRE Dorong Transisi Energi Daerah

Namun sejak 2015, bangunan HAARP diambil alih oleh Universitas Alaska Fairbanks dan kini berfungsi murni sebagai fasilitas penelitian akademis. Fokus studinya adalah atmosfer bagian atas Bumi, khususnya termosfer dan ionosfer, lapisan atmosfer yang berada jauh di atas awan dan cuaca yang kita rasakan sehari-hari.

Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan HAARP?

Secara teknis, HAARP bekerja dengan memancarkan gelombang radio frekuensi tinggi ke arah ionosfer untuk mempelajari sifat-sifatnya. Penelitian ini berguna untuk memahami bagaimana lapisan ionosfer memengaruhi komunikasi radio jarak jauh dan sinyal satelit. Ini adalah ilmu pengetahuan yang sah dan sudah banyak dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Yang pasti tidak bisa dilakukan oleh HAARP adalah mengendalikan cuaca, membangkitkan gempa bumi, apalagi memicu erupsi gunung api. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan HAARP sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menembus kerak bumi hingga kedalaman puluhan atau ratusan kilometer tempat dinamika magma terjadi. Ini bukan soal keterbatasan teknologi yang bisa diperbaiki di masa depan, melainkan batasan fisika fundamental yang tidak bisa dilanggar.

Penjelasan Ilmiah: Mengapa Erupsi Tidak Bisa Direkayasa

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), memberikan penjelasan yang sangat gamblang soal ini. Dalam pernyataan tertulisnya yang dirilis pada hari yang sama, ia menegaskan bahwa tudingan erupsi gunung api diakibatkan oleh rekayasa teknologi adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal dari sudut pandang ilmu kebumian.

Dari Mana Energi Erupsi Berasal?

Erupsi gunung api bukan sekadar letusan biasa. Ini adalah pelepasan energi endogenik bumi dalam skala yang sangat masif. Prosesnya dimulai jauh di dalam perut bumi, pada dinamika mantel bumi di kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Magma naik karena gaya apung akibat densitasnya yang lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Proses ini disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida di dalam kantong magma.

“Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal,” jelas Daryono. Untuk memberi gambaran, tekanan itu jauh melebihi kemampuan teknologi apa pun yang dibuat manusia saat ini untuk direplikasi atau dimanipulasi dari jarak jauh. Tidak ada gelombang elektromagnetik, tidak ada ledakan buatan, dan tentu saja tidak ada pancaran HAARP yang sanggup menembus kerak bumi sedalam itu untuk mengubah tekanan fluida silikat yang ada di sana.

Erupsi Bersamaan Adalah Fenomena yang Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah

Lalu bagaimana dengan fakta bahwa beberapa gunung api erupsi dalam waktu yang berdekatan? Apakah itu bukan hal yang mencurigakan? Sebenarnya tidak. Indonesia berada di atas Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling intens di dunia. Dengan lebih dari 120 gunung api aktif yang tersebar di seluruh kepulauan, kemungkinan beberapa di antaranya mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu yang berdekatan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini adalah bagian dari dinamika bumi yang sudah berlangsung jutaan tahun, jauh sebelum HAARP bahkan ada dalam pikiran siapa pun.

Berita Lain  Bencana Alam yang Sering Terjadi di Indonesia: Kenali, Waspada, dan Siaga

HAARP dan Panjangnya Daftar Tuduhan Palsu

Yang perlu dipahami adalah bahwa tuduhan terhadap HAARP dalam kasus erupsi gunung api di Indonesia ini bukan yang pertama dan bukan yang satu-satunya. HAARP sudah menjadi semacam “tersangka langganan” dalam berbagai narasi hoaks yang berkaitan dengan bencana alam.

Saat gempa besar melanda Turkiye pada Februari 2023, HAARP langsung dituding sebagai penyebabnya. Narasi serupa muncul kembali ketika terjadi gempa di Rusia pada 29 Juli 2025, di mana Amerika Serikat diklaim menggunakan HAARP untuk mengguncang bumi di wilayah tersebut. Tak hanya gempa, HAARP juga pernah dikambing-hitamkan sebagai penyebab banjir besar dan bahkan fenomena cahaya di langit yang sebenarnya adalah aurora atau efek badai matahari.

Pola ini selalu sama: terjadi bencana besar, HAARP disebut, narasi menyebar di media sosial, dan tidak ada satu pun bukti ilmiah yang pernah muncul untuk mendukung klaim tersebut. Tidak pernah ada penjelasan substansif tentang bagaimana secara fisika gelombang radio yang dipancarkan ke ionosfer bisa berujung pada gempa atau erupsi di kedalaman bumi. Karena memang tidak ada mekanisme ilmiah yang bisa menjelaskannya.

Mengapa Narasi Semacam Ini Berbahaya

Mungkin ada yang berpikir: apa salahnya berspekulasi? Toh itu hanya pendapat pribadi. Masalahnya, ketika spekulasi tanpa dasar ilmiah itu datang dari seseorang yang memegang jabatan publik, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada penjelasan ilmiah, menjadi paranoid terhadap bencana alam yang sebenarnya memang terjadi secara alami, bahkan memunculkan ketegangan geopolitik yang tidak perlu.

Lebih jauh, narasi semacam ini mengalihkan perhatian dari hal yang jauh lebih penting: kesiapsiagaan menghadapi bencana. Indonesia adalah negara dengan risiko bencana vulkanik yang sangat tinggi. Energi yang seharusnya dipakai untuk mempersiapkan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, dan mitigasi bencana, justru terbuang untuk mendebat teori konspirasi yang tidak memiliki fondasi ilmiah.

Pada akhirnya, fakta tidak berubah hanya karena diabaikan. Erupsi gunung api di Indonesia terjadi karena proses geologis yang sudah berlangsung sejak lama dan akan terus berlangsung. HAARP adalah fasilitas penelitian akademis yang tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dinamika bumi sedalam itu. Memahami perbedaan antara spekulasi dan fakta ilmiah bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tapi juga soal keselamatan kita sebagai bangsa yang hidup di atas salah satu kawasan paling aktif secara geologis di dunia. Jadi, sebelum meneruskan narasi berikutnya yang terdengar mengejutkan, tanyakan dulu pada diri sendiri: di mana buktinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *