
Tribun Group – Coba ingat-ingat kembali suasana kelas waktu sekolah dulu. Di dinding depan, tepat di samping papan tulis, hampir pasti ada satu peta dunia besar yang terpampang jelas. Peta itu sudah terasa seperti “kebenaran mutlak” — siapa yang berani mempertanyakannya? Tapi ternyata, peta yang bertahun-tahun kita tatap itu menyimpan masalah yang jauh lebih besar dari sekadar garis batas yang berubah karena konflik wilayah.
Pada September 2026, Majelis Umum PBB mengambil langkah yang cukup mengejutkan: mengesahkan resolusi bertajuk “Correct the Map” — atau secara harfiah, “Perbaiki Peta.” Resolusi ini didukung oleh 164 negara dan diajukan oleh Togo atas nama 54 negara Afrika. Pesannya jelas: peta dunia yang selama ini kita gunakan tidak menggambarkan ukuran wilayah secara akurat, dan sudah saatnya kita beralih ke yang lebih tepat.
Jika kamu belum pernah mendengar soal ini sebelumnya, wajar saja. Masalah ini memang jarang masuk perbincangan sehari-hari. Tapi begitu kamu memahaminya, kamu tidak akan bisa melihat peta dunia dengan cara yang sama lagi. Mari kita bahas dari awal, pelan-pelan.
Apa Itu Proyeksi Mercator dan Mengapa Ia Begitu Dominan?
Proyeksi Mercator adalah sistem untuk “membentangkan” permukaan Bumi yang bulat ke dalam bidang datar dua dimensi. Peta ini pertama kali dibuat oleh kartografer asal Flandria bernama Gerardus Mercator pada tahun 1569. Usianya kini sudah lebih dari 450 tahun — dan selama itu pula ia nyaris menjadi standar tunggal peta dunia di mana-mana.
Tapi perlu dipahami: peta ini awalnya tidak dirancang untuk dipajang di ruang kelas. Mercator menciptakannya khusus untuk kebutuhan navigasi laut. Di era penjelajahan Eropa, para pelaut sangat membutuhkan peta yang membuat garis-garis arah kompas (disebut rhumb lines) tampak lurus. Dengan Mercator, jika kamu menarik garis lurus di peta, sudut arah kompasnya akan tetap konsisten sepanjang perjalanan. Untuk kebutuhan navigasi, ini sangat berguna.
Masalahnya, untuk mempertahankan keakuratan sudut dan bentuk itu, Mercator harus “mengorbankan” sesuatu yang lain: ketepatan ukuran wilayah. Dan pengorbanan ini semakin parah semakin jauh sebuah wilayah dari garis khatulistiwa. Wilayah-wilayah di dekat kutub akan terlihat jauh lebih besar dari ukuran aslinya, sementara wilayah di sekitar ekuator justru “mengecil” secara proporsional.
Distorsi yang Selama Ini Tidak Kita Sadari
Kasus Greenland vs. Afrika
Contoh paling mencolok dari distorsi peta Mercator adalah perbandingan antara Greenland dan Afrika. Di peta yang biasa kita lihat, Greenland tampak hampir sebesar Benua Afrika. Kesannya seolah keduanya bersaing soal luas wilayah. Padahal kenyataannya? Luas Afrika sekitar 30,3 juta kilometer persegi — atau sekitar 14 kali lipat lebih besar dari Greenland yang hanya sekitar 2,17 juta kilometer persegi.
Untuk lebih membayangkan betapa besarnya Afrika, coba pikirkan ini: daratan Afrika cukup untuk menampung Amerika Serikat, China, India, dan sebagian besar negara-negara Eropa secara bersamaan. Afrika adalah benua terbesar kedua di dunia, tapi di peta Mercator ia terlihat seperti “setara” dengan pulau di dekat Kutub Utara. Ini bukan sekadar ketidakakuratan kecil — ini distorsi yang sangat signifikan.
Siapa Lagi yang Terdampak?
Greenland dan Afrika hanya salah satu contoh. Distorsi serupa terjadi di banyak wilayah lain. Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat — yang semuanya berada jauh dari khatulistiwa — tampak jauh lebih besar dari ukuran aslinya di peta Mercator. Sebaliknya, Amerika Latin, Asia Selatan, dan tentu saja Afrika, terlihat lebih kecil dari yang seharusnya.
Eropa bahkan tampak lebih luas ketimbang Amerika Selatan di peta Mercator, padahal dalam kenyataannya Amerika Selatan jauh lebih besar. Jika kamu besar dengan asumsi itu — dan kebanyakan dari kita memang demikian — maka persepsi kita tentang geografi dunia sudah terbentuk di atas fondasi yang keliru sejak dini.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia pun mengalami nasib yang sama, meski kasusnya jarang dibahas secara luas. Luas wilayah Indonesia tercatat sekitar 1,9 juta kilometer persegi, sementara Greenland sekitar 2,17 juta kilometer persegi. Angkanya tidak terlalu jauh berbeda. Namun di peta Mercator, Greenland terlihat berkali-kali lipat lebih besar dibanding kepulauan Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Ini bisa mempengaruhi cara orang — termasuk pelajar Indonesia sendiri — memandang seberapa “besar” negerinya di peta dunia.
Bukan Cuma Soal Peta Dinding Sekolah
Mungkin kamu berpikir: “Ah, itu kan peta di sekolah. Sekarang saya pakai Google Maps, pasti lebih akurat.” Sayangnya, belum tentu. Hampir semua layanan peta digital populer — termasuk Google Maps, Bing Maps, dan OpenStreetMap — menggunakan turunan Mercator yang dikenal sebagai Web Mercator. Alasannya teknis dan praktis: dengan sistem ini, sudut pertemuan antar-jalan di peta tetap presisi seperti di dunia nyata, sehingga navigasi sehari-hari tetap bisa diandalkan.
Menariknya, versi paling awal Google Maps justru tidak memakai Mercator. Hasilnya, jalan-jalan di kota-kota berlintang tinggi seperti Stockholm tidak bertemu pada sudut yang benar di peta, sehingga navigasi jadi membingungkan. Mercator pun dipilih sebagai solusi praktis. Google sudah mulai menambal masalah distorsi ini sejak 2018 — salah satu caranya adalah jika kamu memperkecil tampilan Google Maps di versi desktop hingga level maksimal, Bumi akan tampil sebagai bola, bukan bidang datar. Dalam tampilan itu, Greenland akan terlihat jauh lebih kecil dibanding Afrika, sebagaimana mestinya.
Kritik terhadap proyeksi Mercator sebenarnya sudah lama bergema di kalangan ahli geografi. Mereka sudah bertahun-tahun menyatakan bahwa peta ini tidak layak dipakai sebagai representasi umum dunia, terutama di ruang kelas. Tom Patterson, kartografer yang kelak menciptakan peta alternatifnya, pernah menegaskan: “Kalau memakai peta Mercator sebagai peta dunia di ruang kelas, murid bakal punya pandangan yang benar-benar melenceng soal ukuran negara-negara di dunia.”
Mengenal Equal Earth: Peta Pengganti yang Diusulkan PBB
Resolusi PBB tidak hanya mempersoalkan Mercator, tapi juga secara aktif mendorong penggunaan alternatifnya: peta bernama Equal Earth. Peta ini dibuat oleh Tom Patterson pada tahun 2018 — usianya memang baru belasan tahun jika dibanding Mercator yang sudah empat abad lebih.
Cara kerja Equal Earth berkebalikan dengan Mercator. Alih-alih mempertahankan bentuk dan sudut, Equal Earth memprioritaskan keakuratan perbandingan luas wilayah. Konsekuensinya, bentuk daratan sedikit berubah — tidak sesempurna yang biasa kita lihat — tapi ukurannya proporsional terhadap kenyataan. Tampilannya juga mengikuti lengkung Bumi, sehingga sisi atas dan bawah peta terlihat melengkung, bukan berbentuk kotak persegi panjang seperti Mercator.
Sejumlah lembaga besar sudah lebih dulu mengadopsi Equal Earth. NASA dan National Geographic adalah di antara yang sudah beralih. Bank Dunia pun menyatakan sedang dalam proses meninggalkan Mercator. Ini bukan langkah kecil — ini sinyal bahwa perubahan sedang terjadi, pelan tapi pasti.
Mengapa Amerika Serikat Menolak?
Dari 171 negara yang memberikan suara, hanya Amerika Serikat yang secara terang-terangan menolak resolusi ini. Perwakilan AS menyampaikan pernyataan resmi bahwa PBB sedang mempromosikan agenda ideologis melalui resolusi tersebut. Mereka menilai resolusi semacam ini hanya mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih mendesak, seperti perdamaian dan kesejahteraan global, dan malah membuat kredibilitas PBB semakin merosot.
Enam negara memilih abstain, yaitu Serbia, Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, dan Ukraina. Sementara itu, Uni Afrika menyambut hasil pemungutan suara ini dengan antusias, menyebut resolusi tersebut sebagai dorongan nyata menuju penggunaan peta yang lebih setara di ruang kelas, media, dan lembaga-lembaga internasional.
Perlu dicatat, resolusi ini tidak bersifat mengikat secara hukum. Tidak ada negara atau lembaga yang diwajibkan membuang proyeksi Mercator sepenuhnya. Penggunaannya untuk keperluan navigasi laut dan udara pun tetap dinyatakan sah karena memang untuk itulah peta ini diciptakan.
Apa Artinya Semua Ini Bagi Kita?
Pada akhirnya, perdebatan soal peta ini bukan sekadar urusan teknis kartografi. Ini menyentuh sesuatu yang lebih dalam: bagaimana cara kita memandang dunia, dan siapa yang “terlihat lebih besar” atau “lebih penting” di mata kita sejak kecil. Ketika anak-anak di seluruh dunia tumbuh dengan melihat Afrika yang tampak sekecil Greenland, persepsi bawah sadar soal ukuran, kekuatan, dan relevansi suatu wilayah bisa terbentuk secara keliru.
Perubahan peta bukan hal yang terjadi dalam semalam. Butuh waktu untuk menggeser kebiasaan yang sudah ratusan tahun tertanam. Tapi langkah PBB ini adalah pengakuan resmi bahwa ada yang perlu diperbaiki — dan itu sendiri sudah merupakan kemajuan. Kini pertanyaannya kembali ke kita: apakah kita mau mulai melihat dunia sebagaimana adanya, ataukah terus nyaman dengan peta yang sudah lama kita percaya begitu saja?
