Tradisi Sebar Apem Yaa Qawiyyu Meriah Lagi, 6,5 Ton Apem Diperebutkan Ribuan Warga di Klaten

Tradisi Sebar Apem Yaa Qawiyyu Meriah Lagi, 6,5 Ton Apem Diperebutkan Ribuan Warga di Klaten

tribungroup.net – Klaten kembali menjadi pusat perhatian masyarakat pada perayaan tradisi Yaa Qawiyyu. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Jatinom untuk mengikuti prosesi penyebaran apem yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Tahun ini, panitia menyiapkan sekitar 6,5 ton apem yang dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari tradisi Saparan.

Tradisi tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya. Kegiatan ini juga menjadi simbol rasa syukur, doa, dan upaya melestarikan warisan leluhur yang masih bertahan hingga sekarang. Selain warga sekitar, wisatawan dari berbagai kota juga datang untuk menyaksikan momen langka tersebut.

Tradisi Berusia Ratusan Tahun Masih Terjaga

Yaa Qawiyyu merupakan tradisi yang berasal dari Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak masa Ki Ageng Gribig, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Ki Ageng Gribig pernah menunaikan ibadah haji. Setelah kembali dari Tanah Suci, beliau membawa oleh-oleh berupa kue apem. Karena jumlahnya terbatas, masyarakat kemudian membuat apem sendiri untuk dibagikan kepada warga.

Sejak saat itu, pembagian apem berkembang menjadi tradisi tahunan yang dikenal sebagai Yaa Qawiyyu. Nama tersebut berasal dari doa berbahasa Arab yang bermakna memohon kekuatan dan keberkahan kepada Allah SWT.

Sebanyak 6,5 Ton Apem Disiapkan

Ribuan Apem Diproduksi Warga Lokal

Pelaksanaan tradisi tahun ini melibatkan masyarakat dari berbagai desa di sekitar Jatinom. Mereka bergotong royong membuat apem selama beberapa hari sebelum acara puncak.

Total sekitar 6,5 ton apem berhasil diproduksi. Jumlah tersebut berasal dari ribuan loyang yang dibuat secara tradisional oleh warga dan pelaku UMKM setempat.

Apem kemudian dikumpulkan di lokasi utama sebelum dibagikan kepada masyarakat melalui prosesi penyebaran dari panggung utama.

Berita Lain  Central Park, Oase Hijau Ikonik yang Menjadi Paru-Paru Kota New York

Panitia menyebut jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam penyelenggaraan tradisi Yaa Qawiyyu beberapa tahun terakhir.

Ribuan Pengunjung Padati Jatinom

Sejak pagi hari, masyarakat telah memenuhi area kompleks Makam Ki Ageng Gribig. Jalan menuju lokasi dipadati peziarah, wisatawan, hingga pecinta budaya.

Saat prosesi penyebaran dimulai, suasana berubah sangat meriah. Ribuan tangan berebut menangkap apem yang dilempar dari atas panggung.

Meski terlihat penuh semangat, panitia bersama aparat keamanan tetap mengatur jalannya acara agar berlangsung aman dan tertib.

Apem Diyakini Membawa Keberkahan

Bagi sebagian masyarakat Jawa, apem dalam tradisi Yaa Qawiyyu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar makanan.

Banyak warga percaya apem menjadi simbol doa, keberkahan, keselamatan, dan harapan memperoleh rezeki yang baik.

Sebagian orang bahkan menyimpan apem tersebut di rumah atau di sawah. Mereka berharap hasil panen menjadi lebih baik dan usaha yang dijalankan semakin lancar.

Namun demikian, tokoh agama setempat terus mengingatkan bahwa apem hanyalah simbol budaya. Keberkahan tetap berasal dari doa kepada Allah SWT, sedangkan tradisi menjadi sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.

Tradisi Menjadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selain memiliki nilai budaya, Yaa Qawiyyu juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Selama penyelenggaraan acara, pedagang makanan, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa parkir memperoleh peningkatan pendapatan.

Hotel, penginapan, dan tempat wisata di sekitar Klaten juga ikut merasakan peningkatan jumlah pengunjung.

Pemerintah daerah melihat tradisi ini sebagai aset budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu, penyelenggaraan Yaa Qawiyyu terus didukung agar dapat berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan Jawa Tengah.

Pelestarian Budaya dan Nilai Gotong Royong

Tradisi Yaa Qawiyyu bukan hanya mempertahankan ritual penyebaran apem. Nilai gotong royong menjadi bagian penting dalam setiap penyelenggaraannya.

Berita Lain  Gudang Berisi 3,37 Ton Narkoba Dibongkar Aparat, Potensi Kerugian Ekonomi Rp4,5 Triliun Berhasil Dicegah

Mulai dari proses pembuatan apem, persiapan lokasi, hingga pelaksanaan acara dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.

Generasi muda juga mulai dilibatkan agar tradisi tersebut tidak terputus oleh perkembangan zaman.

Pelestarian budaya seperti Yaa Qawiyyu dinilai penting karena menjadi identitas masyarakat sekaligus media edukasi mengenai sejarah Islam di tanah Jawa.

Dengan demikian, tradisi ini tidak sekadar menjadi tontonan wisata. Nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan tetap menjadi ruh utama yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Daya Tarik Wisata Budaya yang Terus Berkembang

Setiap tahun, tradisi Yaa Qawiyyu selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Antusiasme masyarakat tidak pernah surut meski penyelenggaraannya telah berlangsung selama ratusan tahun.

Keunikan prosesi penyebaran apem menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk mendapatkan apem. Mereka juga ingin menyaksikan secara langsung perpaduan budaya Jawa dan nilai keislaman yang masih terjaga dengan baik.

Pemerintah Kabupaten Klaten pun terus berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan melalui penataan kawasan, peningkatan fasilitas umum, serta promosi wisata budaya.

Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, tradisi Yaa Qawiyyu diperkirakan akan terus menjadi salah satu ikon budaya paling terkenal di Jawa Tengah. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan leluhur tetap mampu bertahan di tengah perkembangan zaman sekaligus memberikan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *