Tribungroup.net – Perang di Timur Tengah terus berkobar tanpa tanda-tanda mereda. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang baru rudal dalam operasi yang diberi nama “True Promise Four“ pada Selasa, 10 Maret 2026 waktu setempat — menandai serangan gelombang ke-37 sejak konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pertama kali pecah pada 28 Februari lalu.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh kantor humas IRGC dan dilaporkan oleh media pemerintah Iran, Press TV. Peluncuran rudal terbaru ini disebut sebagai serangan balasan terhadap operasi militer yang terus dilancarkan AS dan Israel di wilayah Iran — sebuah penegasan bahwa Teheran tidak berniat berhenti meski tekanan militer dari dua kekuatan besar itu terus berlangsung.
Angka 37 gelombang serangan dalam rentang kurang dari dua pekan adalah gambaran yang sangat jelas tentang intensitas konflik ini. Rata-rata lebih dari tiga gelombang serangan per hari — sebuah tempo pertempuran yang jarang terjadi dalam konflik modern dan mencerminkan betapa penuhnya eskalasi yang sudah terjadi di kawasan ini.
Operasi True Promise Four: Eskalasi yang Terus Meningkat
Nama yang Membawa Pesan Geopolitik
Penamaan operasi ini bukan tanpa makna. Iran sebelumnya sudah melancarkan True Promise I, II, dan III dalam konteks ketegangan dengan Israel — serangkaian serangan yang sudah dimulai sejak konflik Gaza meledak pada 2023. Masuknya True Promise Four dalam konteks perang langsung dengan AS dan Israel menandai babak baru yang jauh lebih serius dari semua pendahulunya.
Jika True Promise I-III masih bisa dikategorikan sebagai respons terbatas dan terukur, True Promise Four beroperasi dalam konteks yang berbeda: ini bukan lagi gertakan atau demonstrasi kekuatan simbolis. Ini adalah operasi militer aktif dalam perang yang sudah memakan korban jiwa di berbagai pihak, menutup Selat Hormuz, mengguncang pasar energi global, dan mengubah peta geopolitik kawasan secara fundamental.
Konteks: Iran Melawan di Tengah Tekanan Bertubi-tubi
37 Gelombang Serangan, Militer Iran Tetap Beroperasi
Klaim Trump sehari sebelumnya bahwa militer Iran sudah “tidak memiliki apa yang tersisa” — tidak ada angkatan udara, tidak ada angkatan laut, rudal tinggal sedikit — langsung diuji oleh realita di lapangan. Pengumuman gelombang ke-37 ini membuktikan bahwa kapasitas Iran untuk terus meluncurkan rudal belum habis, setidaknya menurut klaim Teheran sendiri.
Ini bukan pertama kalinya pernyataan Trump tentang kondisi militer Iran bertabrakan dengan laporan aktivitas IRGC yang masih berlanjut. Ketegangan antara narasi “perang hampir selesai” dari Washington dan kenyataan serangan yang terus berlangsung dari Teheran adalah salah satu paradoks paling mencolok dari konflik ini.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi sehari sebelumnya sudah menegaskan bahwa Iran tidak akan duduk di meja negosiasi dengan AS — menutup kemungkinan gencatan senjata melalui jalur diplomatik bilateral dalam waktu dekat. Dengan pintu diplomasi tertutup dan serangan yang terus berlanjut dari kedua pihak, satu-satunya yang bisa menghentikan konflik ini tampaknya adalah kehadiran mediator kuat dari luar, seperti yang diisyaratkan oleh pembicaraan telepon Trump-Putin beberapa hari sebelumnya.
Implikasi Global yang Terus Membesar
Setiap gelombang serangan baru yang diumumkan IRGC bukan hanya angka statistik perang. Ia memiliki implikasi langsung terhadap pasar energi global yang masih bergejolak, terhadap keputusan kapal-kapal tanker untuk melintas atau menghindari Selat Hormuz, dan terhadap kalkulasi diplomatik negara-negara di seluruh dunia yang harus memilih posisi dalam konflik yang semakin sulit untuk diabaikan.
Gelombang ke-37 bukan gelombang terakhir — selama tidak ada mekanisme de-eskalasi yang disepakati, angka itu akan terus bertambah. Dan setiap penambahan angka membawa dunia selangkah lebih dekat ke konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang sudah terjadi sejauh ini.
