Akhir Tragis Sriwijaya FC: Tim Pertama yang Terdegradasi ke Liga Nusantara

Akhir Tragis Sriwijaya FC: Tim Pertama yang Terdegradasi ke Liga Nusantara

TRIBUN GROUP – Sebuah catatan kelam tertoreh dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sriwijaya FC secara resmi menjadi tim pertama yang dipastikan terdegradasi dari Pegadaian Championship 2025/2026 setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari Sumsel United dalam laga pekan ke-21 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Sabtu (28/2/2026) malam WIB.

Kekalahan tersebut memastikan Elang Andalas harus bermain di Liga Nusantara, kasta ketiga sepak bola Indonesia, pada musim depan. Ini adalah degradasi kedua yang dialami klub berjuluk Laskar Wong Kito tersebut, setelah sebelumnya terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2 pada tahun 2019.

Catatan Buruk Sepanjang Musim

Musim 2025/2026 menjadi mimpi buruk bagi pendukung setia Sriwijaya FC. Dari 21 pertandingan yang telah dijalani, tim kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan ini hanya mampu mengoleksi dua poin hasil dari dua kali imbang. Belum sekali pun mereka merasakan kemenangan sepanjang musim.

Dengan enam laga tersisa, jarak poin dengan tim di atas mereka, Persekat Tegal yang menempati posisi kesembilan, mencapai 20 poin. Secara matematis, mustahil bagi Sriwijaya FC untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Sriwijaya FC pun nyaris dipastikan akan menjadi juru kunci klasemen Grup A Pegadaian Championship 2025/2026, sebuah posisi yang sangat kontras dengan reputasi masa lalu mereka sebagai raksasa sepak bola Indonesia.

Masalah Finansial Akar Kehancuran

Terdegradasinya Sriwijaya FC dari Pegadaian Championship 2025/2026 bukanlah kejutan. Ini adalah puncak dari serangkaian masalah yang membelit klub sepanjang musim. Masalah finansial yang serius menjadi biang keladi utama kehancuran tim berjuluk Elang Andalas ini.

Akibat kesulitan dana, satu per satu pemain hengkang meninggalkan klub. Yang lebih memprihatinkan, Sriwijaya FC beberapa kali harus menjalani laga tandang di luar pulau dengan menggunakan bus darat, bukan pesawat terbang sebagaimana layaknya klub profesional. Kondisi ini jelas mempengaruhi performa tim di lapangan.

Berita Lain  Juventus Tersingkirkan Dari Piala Dunia Antar Klub 2025!

Dari Puncak Kejayaan Menuju Jurang Degradasi

Sriwijaya FC didirikan pada tahun 2004 setelah Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan mengakuisisi lisensi dari Persijatim. Dalam waktu singkat, klub ini menjelma menjadi kekuatan baru yang disegani di kancah sepak bola nasional.

Dua gelar juara Liga Indonesia (2007-2008, 2011-2012) dan tiga gelar Copa Indonesia/Piala Indonesia (2007, 2008, 2010) menjadi bukti kehebatan Sriwijaya FC di era keemasannya. Setiap musim, tim ini dipenuhi pemain bintang, baik asing maupun lokal, yang mampu menghibur puluhan ribu suporter yang memadati Stadion Gelora Sriwijaya.

Namun, pengelolaan klub yang tidak profesional dan terlalu mengandalkan ketokohan serta kepentingan politik membuat Sriwijaya FC perlahan kolaps. Ketika dukungan politik dan finansial menguap, klub raksasa ini tak memiliki fondasi kuat untuk bertahan.

Warisan yang Memudar

Dengan degradasi ini, pertanyaan besar muncul: akankah Sriwijaya FC bisa bangkit kembali? Jika tidak segera dibenahi secara fundamental, bukan tidak mungkin setiap prestasi dan kejayaan yang diraih pada masa silam akan segera dilupakan.

Untuk saat ini, para penggemar setia Sriwijaya FC hanya bisa gigit jari menyaksikan tim kebanggaan mereka terpuruk di dasar klasemen. Musim depan, Elang Andalas harus memulai perjuangan dari level terendah kompetisi profesional Indonesia, Liga Nusantara, dengan segudang pekerjaan rumah yang menanti.

Sejarah kelam ini menjadi pengingat bahwa sepak bola modern tidak bisa hanya mengandalkan gengsi dan kenangan masa lalu. Profesionalisme, manajemen sehat, dan fondasi finansial yang kokoh adalah harga mati untuk bertahan di era sepak bola profesional saat ini. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *