Privilege Menjamin Hidup Bahagia? Fakta dan Mitos yang Perlu Anda Tahu

Privilege Menjamin Hidup Bahagia? Fakta dan Mitos yang Perlu Anda Tahu

Pernahkah Anda melihat seseorang yang tampak memiliki segalanya—wajah rupawan, karier cemerlang, keluarga harmonis, dan tiba-tiba Anda berpikir, “Enak banget hidupnya, pasti bahagia sekali”? Kita sering mengaitkan privilege dengan kebahagiaan. Semakin banyak privilege yang dimiliki seseorang, kita mengira hidupnya pasti semakin bahagia. Tapi, benarkah privilege menjamin hidup bahagia? Atau jangan-jangan ini hanya mitos yang kita percaya begitu saja?

Privilege memang memberikan kemudahan. Ia membuka pintu akses yang mungkin tertutup bagi orang lain . Namun, memiliki banyak privilege tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari masalah, kesedihan, atau kekosongan batin.

Artikel ini akan mengajak Anda menyelami hubungan kompleks antara privilege dan kebahagiaan, serta bagaimana menyikapi privilege dengan bijak.

Memahami Arti Privilege dalam Kehidupan

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu menyamakan persepsi tentang apa itu privilege. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “privilese”, yang berarti hak istimewa . Dalam konteks sosial, privilege adalah keuntungan sosial tertentu, manfaat, atau derajat prestise yang dimiliki seseorang berdasarkan identitas atau kelompok sosialnya .

Privilege membuat hidup seseorang sedikit lebih mudah dibandingkan orang lain yang tidak memiliki keistimewaan serupa . Namun penting dipahami, privilege tidak berarti seseorang tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam hidupnya . Ia hanya memiliki titik awal yang berbeda—dan terkadang lebih menguntungkan—dalam perlombaan kehidupan .

Jenis-jenis privilege sangat beragam. Ada privilege ekonomi, di mana seseorang punya akses lebih pada layanan kesehatan berkualitas atau pendidikan tinggi tanpa perlu pusing memikirkan biaya . Ada privilege gender, misalnya pria yang lebih mudah mendapat promosi karier karena anggapan budaya patriarki . Ada privilege penampilan, di mana orang yang dianggap menarik secara fisik mendapat perlakuan lebih baik dalam pelayanan masyarakat atau pekerjaan . Bahkan ada privilege ras, seperti yang sering dibahas dengan istilah white privilege di masyarakat Barat .

Yang menarik, privilege tidak selalu berbentuk materi. Privilege bisa berupa kesehatan yang baik, keluarga yang suportif, atau bahkan sekadar kesempatan untuk bisa bernapas dengan bebas di tengah pandemi . Sayangnya, privilege jenis ini sering luput dari kesadaran kita.

Hubungan Antara Privilege dan Kebahagiaan

Pertanyaan utamanya: apakah memiliki banyak privilege otomatis membuat seseorang bahagia? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Kemudahan Bukan Jaminan Kebahagiaan

Memang benar, privilege memberikan kemudahan. Orang dengan privilege ekonomi bisa mengakses makanan bergizi, pendidikan terbaik, dan layanan kesehatan prima tanpa rasa cemas . Kemudahan ini tentu mengurangi stres dalam hidup sehari-hari. Tapi, apakah hilangnya stres sama dengan hadirnya kebahagiaan?

Lihatlah kisah Elon Musk, salah satu orang terkaya di dunia yang bertanggung jawab atas kemajuan Tesla dan SpaceX. Di balik pundi-pundi kekayaannya, hidup pribadinya tidak semulus yang dibayangkan. Ia berkali-kali bercerai, hubungannya dengan ayah sangat dingin, dan masa kecilnya penuh perundungan serta kekerasan fisik . Musk bahkan mengalami trauma hampir mati tertabrak truk saat berusia 17 tahun, yang membuatnya menolak keras membangun sepeda motor listrik .

Kisah Musk menunjukkan bahwa memiliki privilege bukan berarti perjalanan hidup seseorang akan terus-menerus bahagia. Privilege berjalan seiringan dengan ekspektasi. Semakin besar privilege seseorang, semakin besar pula ekspektasi yang harus ia penuhi . Bill Gates, Jeff Bezos, maupun Steve Jobs—mereka semua punya masalahnya masing-masing terlepas dari privilege yang mempermudah kesuksesan mereka .

Hidup Itu Sendiri Adalah Privilege

Mungkin kita perlu menggeser cara pandang. Seorang penulis dalam blognya menawarkan perspektif menarik: hidup sendiri sudah merupakan privilege! Kita hidup dengan akal budi, diberi kesempatan menjadi manusia, itu sudah merupakan keistimewaan yang luar biasa .

Jika hidup hanya lurus, semua lancar, tanpa tantangan, mungkin hidup tidak lagi menyenangkan. Sebagai manusia, kita justru senang diberi tantangan, cobaan, dan pengalaman baru. Mencoba keterampilan baru dan menghadapi tantangan adalah kunci memperoleh kebahagiaan dan kepenuhan hidup . Bayangkan jika setiap hari kita hanya menunggu pemberian orang tanpa perlu berjuang—apakah ada rasa kepuasan?

Berita Lain  Cara Memakai Tisu Magic: Panduan Lengkap untuk Hasil Maksimal

Fulfillment atau kepenuhan hidup akan terasa begitu berarti jika dihasilkan melalui perjuangan. Dan diberi kesempatan untuk mampu berjuang, itu sendiri adalah privilege .

Antara Manfaat dan Beban

Memiliki privilege ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memberi kemudahan. Di sisi lain, ia bisa menjadi beban psikologis.

Tekanan untuk Mempertahankan Status

Orang dengan privilege sering menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan statusnya. Anak yang lahir dari keluarga kaya raya mungkin harus berjuang keras memenuhi ekspektasi orang tua agar bisa mempertahankan kekayaan keluarga . Mereka dituntut mendapat nilai tertinggi, kuliah di luar negeri, lulus cepat, lalu mendapat pekerjaan bergengsi dengan gaji besar . Tekanan ini bisa menjadi sumber stres yang menggerogoti kebahagiaan.

Rasa Bersalah dan Stigma Negatif

Di era media sosial saat ini, memiliki privilege kadang justru membuat seseorang merasa bersalah. Istilah privilege kerap digunakan sebagai senjata untuk mengerdilkan perjuangan orang lain . Ketika seseorang dengan privilege berusaha keras meraih mimpinya, tak jarang ia mendapat respons antipati, bukan simpati. Perjuangannya dianggap tidak layak didukung karena dinilai sudah memiliki kemudahan berlebih .

Contoh nyata terjadi di Indonesia saat seorang mahasiswa S2 Universitas Oxford menggalang dana karena kesulitan biaya akibat orang tuanya sakit. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru diolok-olok publik. Banyak yang menganggapnya gegabah kuliah di luar negeri dengan biaya sendiri, dan masalahnya adalah risiko yang harus ia tanggung .

Padahal, memiliki privilege A (kesempatan kuliah di luar negeri) tidak berarti ia juga punya privilege B (dana darurat tak terbatas). Menganalisa privilege dalam realita selalu lebih rumit daripada sekadar menjadikannya bahan pembicaraan di media sosial .

Rasa Tidak Cukup dan Kebiasaan Membandingkan

Paradoks lainnya, orang dengan privilege sering merasa tidak puas karena kebiasaan membandingkan. Mereka melihat ke atas, ke orang-orang yang memiliki lebih banyak privilege, dan merasa dirinya kurang. Padahal, di luar sana banyak orang yang hidup dengan privilege jauh lebih sedikit.

Peribahasa Cina berkata, “Di luar langit masih ada langit, di luar manusia masih ada manusia” . Akan selalu ada orang yang lebih dari kita dalam hal tertentu. Jika kita terus memikirkan keterbatasan dan membandingkan diri dengan mereka yang lebih beruntung, kita tidak akan pernah bisa berbahagia .

Privilege yang Jarang Disadari Tapi Sangat Berharga

Seringkali kita terpaku pada privilege besar yang terlihat kasatmata, seperti uang dan ketenaran. Padahal, ada banyak privilege kecil yang jika disadari dan disyukuri, bisa menjadi sumber kebahagiaan.

Kesehatan Fisik dan Mental

Bisa dibilang, sehat adalah kasta privilege paling tertinggi . Memiliki fisik dan mental yang sehat memungkinkan kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan maksimal. Di masa pandemi, banyak orang harus berjuang bernapas dengan bantuan tabung oksigen . Jika saat ini kita masih bisa menarik napas lega tanpa alat bantu, itu adalah privilege yang patut disyukuri.

Keberadaan Orang-Orang Suportif

Memiliki support system dalam hidup adalah privilege yang tak ternilai harganya . Keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja yang baik dan suportif bisa membuat hidup jauh lebih bermakna. Dukungan mereka di saat kita menghadapi masalah membantu kita melewati masa sulit dengan hati yang lebih kuat .

Kebebasan Menentukan Pilihan

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk membuat keputusan bagi hidupnya sendiri. Seringkali ada campur tangan orang lain dalam menentukan jalan hidup kita . Jika saat ini kita masih bisa memutuskan sendiri seperti apa hidup yang ingin dijalani, hargai dan syukuri privilege tersebut.

Berita Lain  Cara Mengurangi Asupan Gula: Panduan Realistis untuk Hidup Lebih Sehat
Privasi dan Menjadi Diri Sendiri

Orang dengan status selebriti atau publik figur sering kehilangan privasi. Mereka diawasi, dikomentari, dan dinilai setiap saat. Bagi mereka yang hidup “biasa”, privasi yang kita miliki mungkin terasa sepele. Tapi bagi publik figur, memiliki waktu sendiri tanpa sorotan kamera adalah privilege yang sangat didambakan .

Demikian pula dengan kebebasan menjadi diri sendiri. Kita tidak perlu takut akan penilaian orang lain karena kita tahu pandangan kita terhadap diri sendirilah yang paling penting . Ini adalah tingkat kebebasan tertinggi dalam hidup.

Cara Bijak Menyikapi Privilege

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi privilege, baik yang kita miliki maupun yang dimiliki orang lain?

Bagi Pemilik Privilege
  • Pertama, akui keberadaan privilege Anda. Kerendahan hati adalah jalan terbaik memanfaatkan privilege . Akui bahwa privilege adalah modal yang mempermudah Anda menggapai kesuksesan. Jangan hanya menyampaikan retorika “kerja keras” saat menjelaskan kunci kesuksesan Anda kepada orang lain .
  • Kedua, gunakan privilege untuk berdampak positif. Privilege seharusnya menjadi amanah dan peluang untuk memberikan dampak sosial . Jika Anda punya privilege pendidikan, bagikan ilmu Anda. Jika punya privilege networking, buka akses informasi lowongan kerja atau beasiswa untuk mereka yang membutuhkan .
  • Ketiga, jadilah pendengar yang baik. Belajar menempatkan diri di posisi orang lain yang kondisinya tidak sebaik Anda. Observasi, turun langsung dalam aksi sosial, atau dengarkan keluhan mereka yang termarginalkan . Ini membantu Anda memahami kesulitan di luar sana dan mencari pendekatan dukungan yang tepat tanpa terkesan menggurui.
Bagi yang Merasa Kurang Beruntung
  • Pertama, sadari privilege kecil yang Anda miliki. Seperti telah dibahas, privilege tidak selalu tentang uang. Kesehatan, keluarga suportif, atau bahkan kesempatan untuk bisa sekolah adalah privilege yang patut disyukuri .
  • Kedua, fokus pada perjuangan, bukan pada iri. Melihat privilege orang lain secara membabi buta sebagai pelampiasan rasa tidak puas hanya akan meracuni hati . Energi Anda akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk berjuang dengan apa yang Anda miliki.
  • Ketiga, ingatlah bahwa perjuangan memberi makna. Tantangan dan kesulitan dalam hidup justru membuat pencapaian terasa lebih berarti. Orang yang mendapatkan sesuatu tanpa perjuangan mungkin tidak pernah merasakan kepuasan batin yang dalam .

Kesimpulan

Jadi, apakah privilege menjamin hidup bahagia? Jawabannya: tidak serta-merta. Privilege memang memberi kemudahan akses dan mengurangi hambatan eksternal. Tapi kebahagiaan sejati berasal dari dalam diri, dari cara kita memaknai hidup dan merespons apa yang kita miliki.

Kita semua memiliki privilege dalam bentuk dan kadar yang berbeda. Ada yang punya privilege finansial, ada yang punya privilege kesehatan, ada yang punya privilege dukungan keluarga, dan seterusnya. Tidak bijak rasanya menyalahkan privilege orang lain secara membabi buta, atau sebaliknya, menyombongkan privilege yang kita miliki.

Yang terbaik adalah menyadari privilege kita, mensyukurinya, dan menggunakannya sebagai modal untuk berbagi lebih banyak pada sesama. Seperti kata seorang bijak, seseorang memang tidak bisa membantu banyak orang, tapi banyak orang dapat membantu seseorang . Dan ketika kita mampu membantu orang lain dengan privilege yang kita punya, di situlah kebahagiaan sejati seringkali ditemukan.

Pada akhirnya, kunci kebahagiaan bukanlah pada seberapa besar privilege yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kita memandang kehidupan. Semakin bijak kita melihat, semakin kita mampu mengerti bahwa hidup itu sendiri adalah privilege yang luar biasa .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *