TRIBUN GROUP – Pemilihan presiden Barcelona resmi bergulir setelah Joan Laporta mengajukan pengunduran dirinya awal bulan ini. Meski Laporta berharap dapat kembali menduduki kursi tertinggi di Camp Nou, langkahnya tak akan mudah. Sebab, seorang kandidat lain mulai mencuri perhatian publik dengan strategi kampanye yang emosional dan menusuk langsung ke jantung sejarah klub: Marc Ciria.
Ciria, yang kini menjadi pesaing serius Laporta, memusatkan seluruh kampanyenya pada satu sosok legendaris: Lionel Messi. Ia mengambil manfaat dari hubungan retak antara megabintang Argentina tersebut dengan Laporta pasca-kepergian menyakitkan Messi pada 2021. Dengan terang-terangan, Ciria menjadikan nama Messi sebagai bahan kampanye utamanya untuk merebut hati para anggota klub (socios).
Pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat, tim kampanye Ciria memasang spanduk raksasa bergambar Lionel Messi di pusat kota Barcelona. Spanduk yang terpampang di lokasi strategis itu menampilkan wajah La Pulga dengan tulisan dalam bahasa Katalan, “Ganes de tornar-te a veure”, yang berarti “Tak sabar untuk bertemu denganmu lagi”.
Pemasangan spanduk ini bukan sekadar pajangan biasa. Ciria kemudian menjelaskan maksud di balik aksinya tersebut saat berbicara di kantor pusat Moviment 42, nama partai kampanyenya.
“Kami akan melakukan segalanya dengan baik. Itu yang akan saya katakan kepada Anda. Ini adalah sebuah penghormatan, penghormatan yang tidak diberikan kepadanya ketika ia diusir dari klub dan yang memang pantas ia terima,” kata Ciria seperti dikutip dari Football Espana, Kamis (19/2/2026).
Ia menambahkan, langkah ini adalah bentuk dukungan nyata dari para pendukung yang ingin melihat kembali sang idola. “Kami berharap bisa memenuhi hal itu. Kami berharap semua video yang dikirim oleh anggota dan penggemar di seluruh dunia akan membuat Anda melihat bahwa tidak hanya ada satu suara,” imbuhnya.
Kesalahan Terbesar dalam Sejarah Klub
Bagi Ciria, momen ketika Barcelona membiarkan Messi pergi pada 2021 adalah noda hitam yang tak boleh dilupakan. Ia secara tegas menyebut keputusan tersebut sebagai malapraktik manajerial terbesar dalam sejarah klub.
“Setiap kali kami bertemu para anggota, mereka mengatakan kepada kami bahwa kami harus memberikan segalanya agar Leo Messi kembali. Sejak 2021 kami sudah mengatakan bahwa salah satu kesalahan strategis terbesar dalam sejarah klub adalah melepas Leo Messi,” tutur Ciria penuh penekanan.
Lebih dari sekadar kritik, Ciria menjadikan misi pemulihan hubungan dengan Messi sebagai fondasi kampanyenya. “Dan sejak 2021 pula kami menegaskan perlunya Leo Messi untuk kembali. Penghormatan ini didasarkan pada gairah, emosi, dan keyakinan bahwa kami berada di pihak yang benar.”
Ia menutup pernyataannya dengan sebuah pesan yang menyentuh sisi terdalam para penggemar Barcelona. “Sebagian besar anggota ingin mengembalikan kegembiraan memiliki pemain terbaik dalam sejarah di rumahnya sendiri, dari tempat yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan.”
Duel Emosional Menanti
Dengan strategi kampanye yang mengusung nama Messi, Ciria secara tidak langsung melancarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Joan Laporta. Hubungan Laporta dengan Messi memang tak pernah benar-benar pulih setelah kepergian sang megabintang ke Paris Saint-Germain. Kini, luka itu coba dirawat kembali oleh Ciria untuk meraih simpati.
Pemasangan spanduk raksasa di pusat kota Barcelona menjadi sinyal bahwa pertarungan memperebutkan kursi presiden Barcelona tidak hanya tentang program kerja, tetapi juga tentang siapa yang paling mampu membangkitkan kembali romantisme dan kejayaan era Messi.
Para socios kini dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan kepemimpinan Laporta yang sarat kontroversi, atau memberikan kepercayaan kepada Ciria yang menjanjikan sebuah rekonsiliasi besar dengan masa lalu gemilang klub. Satu hal yang pasti, nama Lionel Messi kembali menjadi pusaran utama dalam dinamika politik Barcelona. (***)
