Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama: Dari Tradisi untuk Kemajuan Bangsa

Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama: Dari Tradisi untuk Kemajuan Bangsa

Pertanyaan tentang sejarah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, sering kali muncul di benak banyak orang. Apakah NU hanya sekadar perkumpulan ulama? Atau ada misi yang lebih besar di balik pendiriannya? Cerita tentang awal malam 16 Rajab 1344 H, atau bertepatan dengan 31 Januari 1926, di Surabaya bukan sekadar kilas balik romantis. Ia adalah narasi tentang kecerdasan, keberanian, dan visi para kiai yang melihat ancaman terhadap Islam tradisional dan sekaligus ancaman terhadap persatuan bangsa di bawah penjajahan.

Artikel ini akan mengajak Anda menyelami perjalanan panjang NU, memahami akar pemikirannya, dan melihat bagaimana sebuah organisasi yang lahir untuk menjaga tradisi justru menjadi pelopor kemajuan dan demokrasi di Indonesia. Sebagai peneliti sosial keagamaan, saya melihat sejarah NU bukan sebagai artefak mati, melainkan sebagai DNA yang hidup, terus membentuk karakter keislaman dan kebangsaan kita hingga hari ini.

Situasi Dunia Islam dan Hindia Belanda di Awal Abad 20

Untuk memahami mengapa NU berdiri, kita harus mundur sedikit ke masa sebelum 1926. Dunia Islam sedang mengalami gejolak besar.

Guncangan di Tanah Suci dan Bangkitnya Pemikiran Reformis

Pada 1924, Kerajaan Saudi berhasil menguasai Hijaz, termasuk Mekah dan Madinah. Mereka memberlakukan paham Wahabi yang ketat, yang menganggap praktik keagamaan tradisional seperti ziarah kubur, perayaan Maulid Nabi, dan penggunaan ilmu tarekat sebagai bid’ah (sesat). Bagi muslim Nusantara yang bermazhab Syafi’i dan menghormati tradisi, kebijakan baru ini seperti tamparan keras. Ibadah haji yang biasanya menjadi sumber spiritualitas tiba-tiba dipenuhi ketegangan.

Gelombang Modernisme dan Tantangan di Dalam Negeri

Sementara itu, di Hindia Belanda sendiri, muncul kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah (berdiri 1912). Mereka gencar melakukan pemurnian ajaran Islam, menolak taklid (mengikuti tanpa tahu dalil) buta, dan menyerukan ijtihad (penalaran mandiri). Meski memiliki tujuan mulia memajukan umat, cara mereka yang seringkali tegas dianggap oleh banyak kiai pesantren telah menyentuh wilayah praktik keagamaan yang sudah mengakar berabad-abad. Seolah ada dua arus besar yang saling berhadapan: reformasi versus tradisi.

Politik Penjajahan yang Memecah Belah

Pemerintah kolonial Belanda punya politik divide et impera yang jitu. Mereka sengaja memisahkan kelompok “Islam tradisional” dan “Islam modern” agar tidak bersatu melawan penjajah. Dalam situasi seperti ini, kalangan pesantren merasa terjepit. Mereka butuh sebuah wadah resmi untuk membela tradisi keagamaan, menyatukan suara, sekaligus menghadapi penjajah dengan cara yang strategis.

Figur Sentral dan Momen Kelahiran Nahdlatul Ulama

Di tengah gejolak itulah, sekelompok ulama muda berbasis pesantren mengambil inisiatif. Mereka adalah murid-murid dari Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng yang dihormati sebagai guru besar.

Kongres Al-Islam dan Inisiatif Awal

Pada 1924, terjadi Kongres Al-Islam di Surabaya yang dihadiri berbagai organisasi Islam. Dalam kongres itu, perbedaan pendapat antara kalangan tradisi dan modernis semakin nyata. Kelompok pesantren merasa suara mereka kurang didengar. Dari situlah, muncul ide untuk membuat komite khusus bernama “Komite Hijaz”. Tugas komite ini sungguh luar biasa: mengirim delegasi ke Raja Saudi, Ibnu Saud, untuk membela kepentingan umat Islam bermazhab Syafi’i di Mekah. KH. Abdul Wahab Hasbullah, ulama muda yang cerdas dan pemberani, menjadi motor penggeraknya.

Peran Vital KH. M. Hasyim Asy’ari dan Pertemuan di Surabaya

Meski ide brilian datang dari murid-muridnya, KH. M. Hasyim Asy’ari awalnya menolak. Sang kiai khawatir organisasi baru akan memecah belah umat. Namun, setelah didesak dan diyakinkan bahwa organisasi ini justru untuk menyelamatkan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau akhirnya setuju. Momen bersejarah pun terjadi di kediaman KH. Abdul Wahab Hasbullah di Surabaya. Pada 31 Januari 1926, para ulama sepakat mendirikan Nahdlatul Ulama, yang artinya “Kebangkitan Ulama”. Nama ini dipilih dengan penuh harapan: kebangkitan para ulama untuk membangkitkan umat.

Tujuan Pendirian yang Jelas dan Visioner

Dalam anggaran dasarnya, NU menetapkan tujuan yang sangat jelas:

  • Menegakkan syariat Islam berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermazhab (terutama Syafi’i).
  • Melestarikan tradisi Islam yang telah dipraktikkan secara turun-temurun di Nusantara, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
  • Mengatur penyelenggaraan kehidupan umat Islam di bidang agama, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Yang menarik, dari awal NU sudah memiliki semangat kebangsaan. Mereka tidak hanya bicara tentang agama, tetapi juga tentang kemaslahatan umat dan bangsa di tanah airnya sendiri.

Perkembangan Awal dan Peran Strategis NU

Setelah resmi berdiri, NU tidak hanya diam. Organisasi ini langsung bergerak dengan langkah-langkah strategis.

Mengirim Delegasi ke Hijaz dan Diplomasi Internasional

Komite Hijaz, yang menjadi cikal bakal NU, akhirnya berangkat. Meski tidak semua tuntutan mereka dipenuhi Raja Ibnu Saud, diplomasi ini berhasil mencegah pelarangan total terhadap praktik bermazhab Syafi’i. Ini adalah kemenangan diplomatik pertama yang menunjukkan NU bukan organisasi lokal biasa, tetapi memiliki visi internasional.

Membangun Jaringan Pesantren dan Pendidikan

Pondasi terkuat NU adalah pesantren. Organisasi ini dengan cepat menjadi payung besar bagi ribuan pesantren di Jawa dan luar Jawa. Melalui jaringan ini, NU menyebarkan pemikiran Islam yang moderat, toleran, dan berbasis keindonesiaan. Pendidikan bukan hanya tentang fikih dan tauhid, tetapi juga tentang cinta tanah air.

Menjadi Penjaga NKRI dan Panji Demokrasi

Peran politik NU semakin kentara setelah Indonesia merdeka. Saat terjadi pemberontakan DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam, NU tegas berpihak pada Republik Indonesia. Bahkan, milisi rakyat yang diorganisir NU, seperti Barisan Sabilillah dan Hizbullah, menjadi tulang punggung perjuangan. Pada 1955, NU menjadi partai politik dan berhasil menjadi pemenang pemilu pertama. Yang lebih berani, pada 1928, jauh sebelum Sumpah Pemuda, KH. Wahab Hasbullah sudah menggubah lagu “Ya Lal Wathon” yang berisi pujian pada tanah air, menunjukkan nasionalisme yang mengakar kuat.

Kontribusi NU bagi Indonesia Modern

Pengaruh Nahdlatul Ulama bagi Indonesia sangatlah mendalam dan multidimensi.

Pelindung Islam Nusantara yang Moderat

NU berhasil merumuskan Islam yang khas Indonesia: menghormati budaya lokal, toleran terhadap perbedaan, dan menolak radikalisme. Konsep “Islam Nusantara” yang kini banyak dibicarakan, akarnya kuat pada praktik dan pemikiran NU. Mereka membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat tidak harus menolak tradisi lokal seperti selamatan, wayang, atau seni budaya.

Pendorong Pendidikan dan Pemberdayaan Umat

Melalui lembaga pendidikan seperti Ma’arif NU dan ribuan pesantren, NU telah mencetak jutaan anak bangsa. Pesantren tidak hanya mencetak kiai, tetapi juga dokter, guru, seniman, dan politisi. Organisasi ini juga aktif di bidang sosial ekonomi melalui lembaga seperti Lembaga Bahtsul Masail (pengkajian masalah kontemporer) dan Lembaga Amil Zakat NU.

Aktor Penting dalam Konsolidasi Demokrasi

NU memiliki peran sentral dalam setiap fase demokrasi Indonesia. Dari menolak negara Islam, mendukung Pancasila sebagai asas tunggal, hingga menjadi kekuatan penyeimbang yang menjaga toleransi. Tokoh-tokoh NU seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai keislaman dan kebangsaan bisa menyatu dalam kepemimpinan yang humanis dan visioner.

NU Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Jawaban atas Tantangan Zaman

Melihat kembali sejarah panjang Nahdlatul Ulama, saya berpendapat bahwa kelahiran NU adalah sebuah keniscayaan. Ia lahir bukan karena semangat eksklusif, tetapi justru karena kebutuhan untuk melindungi keragaman cara berislam di Nusantara. Para pendirinya adalah para visioner. Mereka memahami bahwa membela tradisi tidak berarti menolak kemajuan. Justru, dengan berpegang pada prinsip “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik), NU bisa tetap relevan.

NU mengajarkan pada kita bahwa identitas keagamaan dan kebangsaan bukanlah dua kutub yang bertentangan. Mereka bisa saling menguatkan. Dari rahim tradisi pesantren yang dianggap “kolot”, justru lahir pemikiran-pemikiran paling progresif tentang demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia di Indonesia.

Jadi, mempelajari sejarah NU bukan hanya untuk mengenang. Tapi untuk memahami DNA bangsa Indonesia sendiri: bagaimana kita merajut keberagaman, menghadapi perubahan, dan membangun peradaban dengan wajah yang ramah dan berakar kokoh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *