TRIBUN GROUP – Ghislaine Maxwell, kaki tangan terpidana kasus kejahatan seks Jeffrey Epstein, menolak menjawab setiap pertanyaan dalam kesaksian virtualnya di hadapan Komite Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Senin (9/2). Namun, melalui pengacaranya, ia menyatakan kesediaan untuk berbicara dengan syarat: pengampunan penuh dari Presiden Donald Trump.
Maxwell (64), yang tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara atas perannya dalam jaringan perdagangan seks Epstein, dihadirkan secara daring dari penjara federal di Texas. Sepanjang sidang, mantan sosialita Inggris itu hanya tampak mengenakan seragam narapidana berwarna krem, terus menunduk, dan mengulang satu kalimat yang sama.
“Saya menggunakan hak Amandemen Kelima saya untuk diam,” ucap Maxwell berulang kali, seperti terekam dalam video kesaksian yang dirilis komite. Hak konstitusional tersebut memungkinkan seorang saksi menolak memberi pernyataan yang dapat digunakan untuk menjerat dirinya sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan komite berusaha mengungkap jaringan Epstein lebih dalam, mencakup keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh dan kaya, serta pertanyaan langsung mengenai dugaan keterlibatan Donald Trump dalam aktivitas seksual dengan individu yang dikenalkan Epstein. Namun, karena Maxwell terus bergeming, komite terpaksa menghentikan pemanggilan lebih awal.
Di luar ruang sidang, pengacara Maxwell, David Markus, menyampaikan penawaran yang mengejutkan. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan kliennya siap mengungkap “kebenaran tanpa filter” dengan satu syarat.
“Jika Komite ini dan publik AS benar-benar ingin mendengar kebenaran tentang apa yang terjadi, ada jalan yang mudah: berikan Nyonya Maxwell pengampunan,” kata Markus, seperti dikutip AFP, Selasa (10/2).
Markus juga membela dua mantan presiden yang pernah dikaitkan dengan Epstein, Donald Trump dan Bill Clinton, dengan menyatakan keduanya “tidak bersalah atas kesalahan apa pun.”
“Hanya Nyonya Maxwell yang dapat menjelaskan alasannya, dan publik berhak atas penjelasan itu,” tegas Markus, secara implisit mengaitkan kesediaan kliennya untuk bersaksi dengan pemberian imunitas hukum.
Tawaran ini dipastikan memicu perdebatan politik yang tajam, terlebih di tengah iklim pemilihan presiden yang memanas. Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari Presiden Trump atau Gedung Putih mengenai kemungkinan pemberian pengampunan kepada salah satu narapidana paling terkenal di Amerika Serikat. (***)
