Dibalik Rekor Pendapatan, Manchester United Krisis Komersial di Balik Layar

Dibalik Rekor Pendapatan, Manchester United Krisis Komersial di Balik Layar

TRIBUN GROUP – Di balik sorotan atas kepelatihan dan performa di lapangan, Manchester United menghadapi badai diam-diam yang mengancam fondasi finansialnya. Laporan keuangan yang mencatat rekor pendapatan sebesar £666.5 juta pada musim 2024/2025 ternyata menyembunyikan tren mengkhawatirkan: memudarnya daya tarik komersial klub raksasa itu di mata sponsor global.

Keprihatinan ini bahkan mengemuka dalam rapat komite eksekutif terbaru di Carrington, yang dihadiri langsung oleh Joel dan Avram Glazer. Menurut laporan eksklusif The Athletic, keluarga pemilik itu menyuarakan kekhawatiran mendalam atas kinerja komersial klub, mendorong CEO INEOS Sport, Jean-Claude Blanc, untuk turun tangan lebih aktif.

Meski angka pendapatan komersial naik menjadi £333.3 juta, realitas di lapangan justru penuh dengan kemunduran. Finis di posisi ke-15 musim lalu memicu klausul penalti dalam kontrak utama dengan Adidas, memotong £10 juta dari nilai kesepakatan tahunan £90 juta karena gagal lolos ke Liga Champions.

Kerugian itu bertambah dengan keputusan Marriott International, raksasa perhotelan dunia, untuk tidak memperpanjang kontrak sponsorship yang berakhir musim panas 2025. Pukulan lain datang dari kekosongan sponsor untuk apparel latihan setelah kontrak dengan Tezos (£24 juta/tahun) berakhir dan belum ada pengganti hingga kini.

“Situasi ini adalah sinyal bahaya. Jika tidak segera dibenahi, MU berisiko menghadapi krisis komersial yang lebih serius,” ujar seorang sumber internal yang dekat dengan manajemen, seperti dikutip dari pertemuan tersebut.

Data Deloitte Money League 2026 mengonfirmasi kemerosotan ini. United terjungkal ke posisi keempat klub dengan pendapatan tertinggi di Inggris, kalah dari Liverpool (£702 juta), Manchester City (£694 juta), dan Arsenal (£690 juta). Ancaman berikutnya sudah menunggu: kontrak sponsor lengan dengan DXC Technology senilai £20 juta per tahun juga akan berakhir musim panas ini.

Berita Lain  Napoli Masih Kejar Garnacho, Tapi Dana Kurang Dana

Di tengah awan kelabu, masih ada secercah harapan. Performa tim di bawah pelatih interim Michael Carrick yang mendorong United ke posisi empat klasemen sementara Premier League membuka peluang kembali ke Liga Champions. Tiket ke kompetisi elit Eropa itu diyakini dapat menjadi penawar bagi sponsor yang mulai ragu.

“MU berada di persimpangan. Kembali ke Liga Champions bukan lagi sekadar ambisi olahraga, tetapi sebuah keharusan komersial untuk memulihkan magnetisme merek mereka di pasar global,” tutur analis keuangan olahraga, Mark Williams.

Tekanan kini berada di pundak Sir Jim Ratcliffe dan INEOS, yang memegang kendali operasional sepak bola. Masa depan finansial Setan Merah bergantung pada dua hal: konsistensi di lapangan hijau dan kemampuan mereka menciptakan narasi baru yang dapat menarik kembali raksasa-raksasa korporat ke Old Trafford. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *