Dokumen Epstein Dibuka Lebih Luas: 3 Juta Halaman Baru dan Keterkaitan Nama-Nama Elite

Dokumen Epstein Dibuka Lebih Luas: 3 Juta Halaman Baru dan Keterkaitan Nama-Nama Elite

TRIBUN GROUP – Kasus Jeffrey Epstein kembali mengguncang panggung politik dan hukum Amerika Serikat setelah Departemen Kehakiman AS merilis tambahan sekitar tiga juta halaman dokumen pada 30 Januari 2026. Pengungkapan massal ini, yang disebut sebagai yang terakhir dan paling signifikan, merupakan bagian dari pemenuhan Epstein Files Transparency Act yang disahkan Kongres AS pada November 2025 lalu.

Dokumen-dokumen terbaru, yang meliputi ribuan foto dan rekaman video, semakin membuka tabir jaringan kejahatan seksual yang melibatkan mantan finansial terpidana itu dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell. Rilis ini juga kembali menyoroti sejumlah nama tokoh terkemuka, termasuk mantan Presiden AS Donald Trump dan Bill Clinton.

Dari Penangkapan hingga Bunuh Diri yang Menghentikan Proses Hukum

Jeffrey Epstein, seorang finansial kontroversial dengan jaringan pergaulan elite global, pertama kali ditangkap di New York pada 6 Juli 2019. Ia didakwa melakukan perdagangan seks anak-anak dan konspirasi. Namun, proses hukum yang dinanti-nanti publik terhenti secara tragis pada 10 Agustus 2019, ketika Epstein ditemukan tewas bunuh diri di sel tahanan federal Manhattan saat menunggu persidangan.

Kematiannya bukan hanya menghentikan kemungkinan pengadilan pidana, tetapi justru memicu gelombang tuntutan publik yang lebih besar agar semua dokumen terkait kasusnya dibuka. Tuntutan itulah yang akhirnya mengkristal dalam Epstein Files Transparency Act.

Apa Isi Epstein Files?

Epstein Files adalah kumpulan besar dokumen yang berasal dari dua investigasi kriminal terhadap Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell. Berkas-berkas ini mencakup beragam bukti seperti catatan perjalanan (logbook pesawat pribadi Epstein yang dikenal sebagai “Lolita Express”), transkrip wawancara, email, serta rekaman.

Rilis besar pertama terjadi pada 19 Desember 2025, di mana ratusan ribu halaman dokumen dibuka meski banyak bagian yang masih disensor untuk melindungi identitas korban. Sensor inilah yang menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk anggota parlemen dari kedua partai dan kelompok penyintas, yang menilai transparansi yang dijanjikan undang-undang belum sepenuhnya terwujud.

Berita Lain  BNN Bongkar Pabrik Tembakau Sintetis di Perumahan Tangerang, 3 Tersangka Ditangkap

Nama-Nama Besar dan Transparansi yang Belum Sempurna

Dokumen yang sudah dirilis sejauh ini telah beberapa kali menyebutkan nama-nama tokoh berpengaruh. Mantan Presiden Bill Clinton disebutkan berkaitan dengan perjalanan menggunakan pesawat Epstein. Sementara itu, dalam rilis 30.000 halaman sebelumnya, terungkap bahwa mantan Presiden Donald Trump pernah terbang dengan pesawat Epstein pada tahun 1990-an, meski tidak ada indikasi keterlibatan dalam kejahatan.

Rilis terbaru tiga juta halaman pada akhir Januari 2026 diyakini akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan detail tentang skala operasi Epstein serta lingkaran asosiasinya. Pihak Departemen Kehakiman menyatakan bahwa ini akan menjadi pengungkapan signifikan terakhir, menutup babak panjang proses pembukaan arsip yang dipenuhi kontroversi.

Meski telah dibuka, jalan menuju keadilan penuh bagi para korban masih berliku. Kematian Epstein dan telah dihukumnya Ghislaine Maxwell tidak serta-merta menjawab semua pertanyaan publik tentang sejauh mana kekebalan dan perlindungan yang dinikmati oleh elite dalam sistem tersebut. Epstein Files kini bukan lagi sekadar berkas hukum, melainkan sebuah cermin bagi Amerika Serikat dan dunia tentang kekuasaan, keadilan, dan perjuangan panjang untuk transparansi. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *