Gol Pahit Berulang, Jens Raven Kebobolan Momentum Lagi Bersama Bali United

Gol Pahit Berulang, Jens Raven Kebobolan Momentum Lagi Bersama Bali United

TRIBUN GROUP — Penyerang muda Jens Raven kembali merasakan getirnya ironi sepak bola. Dua gol yang ia cetak di tengah situasi genting dalam sebulan terakhir—pertama untuk Timnas Indonesia U-23, kini untuk Bali United—sama-sama berakhir dengan kekecewaan kolektif, menorehkan narasi antiklimaks dalam awal kariernya.

Pada lanjutan pekan ke-18 BRI Super League 2025/2026, Minggu (25/1/2026) malam, Raven kembali menjadi aktor dalam drama yang pahit. Memasuki babak kedua sebagai pemain pengganti saat Bali United tertinggal 0-2 dari Semen Padang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, ia langsung memberikan dampak. Hanya sembilan menit setelah masuk, Raven membobol gawang lawan dan memicu kebangkitan tim tuan rumah hingga berbalik unggul 3-2.

Namun, keunggulan itu tidak bertahan. Semen Padang menyamakan kedudukan menjadi 3-3, menggagalkan upaya comeback Serdadu Tridatu dan membuat gol perdana Raven musim ini kehilangan cahaya kemenangan.

“Jujur, senang dengan gol yang saya buat. Ini gol pertama saya musim ini. Tapi perasaannya bercampur aduk karena Bali United gagal menang, saya tidak terlalu suka,” ungkap Raven setelah laga, menggemakan rasa getir yang serupa usai dua golnya gagal membawa Timnas U-23 lolos ke semifinal SEA Games 2025 sebulan lalu.

Keputusan Jansen dan Polemik “False Nine”

Absennya striker utama Boris Kopitovic dan belum siapnya rekrutan baru Diego Campos membuka peluang bagi Raven untuk tampil sejak awal. Namun, pelatih Johnny Jansen memilih pendekatan taktis berbeda.

Pelatih asal Belanda itu menerapkan skema false nine dengan menempatkan Thijmen Goppel, Jordy Bruijn, dan Mirza Mustafic di lini depan, sambil menempatkan Kadek Agung Widnyana Putra—yang berposisi alamiah sebagai gelandang tengah—sebagai gelandang bertahan pengganti Tim Receveur yang absen.

Berita Lain  Insiden Langka! Wasit Cedera di Tengah Laga Sampai Harus Diganti

Keputusan itu menuai tanya, terutama setelah Bali United tertinggal dua gol di babak pertama. Namun, Jansen membantah tuduhan kesalahan strategi.

“Kami sudah coba terapkan skema ini sebelumnya. Jordi kami mainkan dengan skema false nine dan berjalan baik. Kadek Agung juga bisa berposisi sebagai pemain nomor enam,” jelas Jansen dalam konferensi pers. Ia menuding masalah utama terletak pada mentalitas, bukan taktik.

“Jadi ini bukan kesalahan strategi. Di babak pertama, kami tekankan bahwa mentalitas pemain tidak bagus untuk mau duel dan memenangkan pola dengan pemain lawan.”

Dua Momen Krusial, Satu Nasib Getir

Nasib Raven seolah berulang. Pada 12 Desember 2025, dua gol telatnya (menit 88 dan 90+4) untuk Timnas U-23 hanya cukup membawa kemenangan 3-1 atas Myanmar, tetapi tidak cukup mengantarkan tim merah-putih lolos dari grup SEA Games karena kalah selisih gol dari Malaysia.

Kini, dalam jersey Bali United, ia kembali mencetak gol penting di menit ke-54 yang sempat membalikkan arus pertandingan, tetapi lagi-lagi tanpa kemenangan di akhir cerita. Gol itu menjadi penyelamat sekaligus pengingat akan peluang yang terlepas.

Hasil imbang ini menjadi pukulan bagi perjalanan kompetisi Bali United, sementara bagi Jens Raven, ini adalah pelajaran kedua dalam sebulan tentang betapa kejamnya sepak bola: sebuah gol krusial tidak selalu berujung pada akhir yang bahagia, dan momentum seringkali lebih sulit dikunci daripada sekadar mencetak angka. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *