TRIBUN GROUP – Gencatan senjata yang baru berjalan sepuluh hari antara Thailand dan Kamboja kembali retak. Militer Thailand pada Selasa (6/1) pagi menuding pasukan Kamboja melanggar kesepakatan dengan melancarkan serangan mortir ke wilayah perbatasan, yang mengakibatkan satu tentara Thailand tewas.
“Kamboja melanggar gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan resmi tentara Thailand yang dikutip oleh kantor berita AFP.
Menurut keterangan resmi, serangan mortir tersebut menyasar kawasan di Provinsi Ubon Ratchathani, wilayah perbatasan timur Thailand. Satu anggota militer Thailand dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau konfirmasi resmi dari pemerintah atau militer Kamboja terkait insiden dan tuduhan pelanggaran ini.
Kembalinya Ketegangan Usai Masa Tenang Singkat
Insiden ini berpotensi menggagalkan upaya perdamaian yang baru saja dirintis. Kedua negara tetangga yang bersengketa wilayah ini baru saja menyepakati gencatan senjata pada 27 Desember 2025, setelah tiga pekan pertempuran intensif yang memakan puluhan korban jiwa dan memaksa sekitar satu juta warga di kedua sisi perbatasan mengungsi.
Pelanggaran yang dituduhkan hari ini secara langsung mengancam kesepakatan rapuh tersebut dan menebarkan kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik bersenjata skala penuh. Diplomasi darurat kini dinantikan untuk meredakan eskalasi.
Akar Konflik: Perebutan Warisan Sejarah
Ketegangan perbatasan Thailand-Kamboja telah berlangsung puluhan tahun, dengan akar konflik yang dalam terkait klaim historis dan kebanggaan nasional. Pusat perselisihan utama adalah Candi Preah Vihear, sebuah situs Hindu kuno yang menjadi simbol sengketa.
Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) pada 1962 memutuskan candi tersebut berada di wilayah Kamboja, dan keputusan itu ditegaskan kembali pada 2013, Thailand tetap menolak peta demarkasi yang dibuat oleh pihak kolonial Prancis pada 1907. Ketika Kamboja mengajukan candi itu sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2008, krisis politik di Thailand memanas dan memperuncing ketegangan di lapangan.
Thailand secara konsisten menuntut penyelesaian sengketa dilakukan secara bilateral, menolak intervensi mekanisme internasional, sementara perdebatan atas garis batas, termasuk di area kompleks candi Ta Muen Thom, terus berlanjut.
Insiden mortir hari ini bukan hanya sekadar pelanggaran terhadap gencatan senjata, tetapi juga merupakan babak terbaru dari konflik kompleks yang menyangkut sejarah, kedaulatan, dan harga diri bangsa. Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah kedua negara dapat segera meredam ketegangan dan kembali ke meja perundingan sebelum konflik berkembang lebih luas. (***)
