Setelah Banjir Melanda, Hotel dan Homestay di Aceh Tengah 'Sepi Tamu', Ancaman Tutup Sementara Mengintai

Setelah Banjir Melanda, Hotel dan Homestay di Aceh Tengah ‘Sepi Tamu’, Ancaman Tutup Sementara Mengintai

TRIBUN GROUP – Sektor pariwisata dan perhotelan di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, mengalami krisis berat pascabanjir dan longsor yang melanda kawasan itu pada 26 November 2025. Sebulan setelah bencana, seluruh hotel di daerah itu tercatat tanpa tamu sama sekali, menciptakan kondisi ‘nihil penjualan’ yang mengancam keberlangsungan usaha.

CEO Sativa Management, Iwan Wahyudi, yang mengelola dua properti hotel dan vila di Aceh Tengah, mengungkapkan betapa parahnya dampak yang dirasakan. “Kami memiliki dua properti hotel dan vila di Aceh Tengah. Tidak ada tamu sama sekali. Nol penjualan kami selama musibah ini,” terang Iwan kepada Kompas.com, Kamis (1/1/2026).

Kondisi tanpa pendapatan selama lebih dari sebulan ini, menurut Iwan, sangat memberatkan karena biaya operasional seperti gaji karyawan dan listrik tetap harus ditanggung. Jika situasi ini bertahan hingga dua bulan ke depan, langkah penutupan sementara menjadi pilihan yang tak terhindarkan. “Kami sabar saja, namanya juga cobaan. Kami berencana, jika kondisi ini terus berlangsung, kami akan tutup sementara waktu,” ujarnya.

Nasib serupa dialami oleh pengusaha homestay. Indra, seorang pengelola homestay di Aceh Tengah, menyatakan bahwa aksesibilitas yang belum pulih sepenuhnya pascabencana menjadi penyebab utama sepinya kunjungan. “Pascabanjir dan longsor, jalanan belum seluruhnya bisa diakses. Karenanya, tidak ada tamu sama sekali. Kami tutup sementara waktu hingga kondisi membaik,” katanya.

Dampak Luas dan Harapan Stimulus Pemerintah

Bencana yang juga melanda Kabupaten Bener Meriah ini telah merusak puluhan homestay, tempat wisata, dan kafe di kawasan yang selama ini mengandalkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Rantai dampaknya kini sampai pada ancaman gulung tikar dan pengangguran di sektor jasa.

Menyikapi situasi ini, para pelaku usaha menaruh harapan besar pada intervensi pemerintah. Mereka mendesak adanya stimulus khusus untuk membantu bisnis di kawasan bencana bangkit dari keterpurukan. “Semoga ke depan ada stimulus dari pemerintah agar bisa bangkit lagi pascabanjir,” pungkas Indra.

Berita Lain  Timnas Indonesia U-20 Kalah Melawan Suriah, Netizen: Karma Karena Pecat STY

Ancaman tutup sementara yang mengintai puluhan hotel dan homestay ini bukan hanya merupakan tanda darurat bagi sektor pariwisata Aceh Tengah, tetapi juga menjadi alarm bagi proses pemulihan ekonomi regional yang masih terhambat satu bulan pascabencana. Kecepatan perbaikan infrastruktur dan kehadiran bantuan stimulus dinilai krusial untuk mencegah lumpuhnya salah satu penyangga ekonomi utama di daerah tersebut. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *