Usai Banjir Surut, Warga Aceh Tamiang Bergulat dengan Krisis Air Bersih dan Ancaman Kesehatan

Usai Banjir Surut, Warga Aceh Tamiang Bergulat dengan Krisis Air Bersih dan Ancaman Kesehatan

TRIBUN GROUP – Hampir tiga pekan pasca-banjir besar melanda, kehidupan puluhan ribu warga di Kabupaten Aceh Tamiang masih jauh dari pulih. Di balik bantuan logistik pangan yang mulai terdistribusi, warga kini bergulat dengan persoalan yang lebih mendasar dan mengancam: krisis air bersih, sanitasi yang rusak, serta ancaman wabah penyakit.

Di Kecamatan Karang Baru, salah satu wilayah terdampak parah, genangan mungkin telah surut, namun lumpur tebal masih menyelimuti permukiman dan pondok pesantren. Mulkana, seorang warga setempat, mengakui bantuan kebutuhan pokok seperti beras, mie, minyak goreng, dan telur relatif tercukupi. Namun, fase pemulihan justru menghadirkan tantangan baru yang lebih kompleks.

“Pascabencana, ya? Mungkin ini hari sekitar hari ke-18… Cuma memang yang menjadi permasalahan itu adalah pembersihan pascabanjir,” ujar Mulkana saat ditemui pada Sabtu (13/12/2025).

Sumur Tertimbun, Akses Air Bersih Jadi Barang Langka

Persoalan paling mendesak, menurut Mulkana, adalah minimnya akses terhadap air bersih. Ratusan sumur warga, baik sumur cincin maupun bor, kini tak lagi bisa digunakan karena tertimbun lumpur dan terkontaminasi.

“Karena banyak sumur-sumur kami… itu yang terhalang aksesnya karena tertumpuk lumpur,” keluhnya.

Krisis air ini berimbas langsung pada kehidupan sehari-hari. Aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) menjadi sangat terbatas, memaksa sebagian warga menggunakan cara-cara yang tidak higienis.

“Ditambah lagi, karena kurang air ini tadi, MCK-nya jadi sulit… sebagian warga terpaksa buang air sembarangan,” tutur Mulkana. Kondisi ini secara nyata memperparah ancaman penyakit pascabencana seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan.

Lumpur Berubah Debu, Ancaman Kesehatan Berlapis

Bahaya tidak hanya datang dari air yang kotor, tetapi juga dari lumpur sisa banjir itu sendiri. Saat mengering, material itu berubah menjadi partikel debu halus yang beterbangan di udara.

Berita Lain  MRT, LRT, dan Transjakarta Siap Dukung Car Free Night 2025 dengan Perpanjangan Jam Operasi

“Lumpur ini luar biasa, Pak. Yang lembek susah diinjak, yang keras ditiup angin jadi debu. Dua-duanya itu memang mudarat, ya, memberi dampak yang enggak baik,” jelas Mulkana.

Situasi ini diperburuk oleh terbatasnya pasokan BBM dan listrik yang belum pulih sepenuhnya, yang menghambat operasi pembersihan besar-besaran dan distribusi bantuan logistik pendukung.

Ancaman kesehatan dan lingkungan yang membayangi ini terjadi di tengah luka yang belum kering. “Warga di sini, Pak, karena ini luar biasa dahsyatnya banjir, banyak sekali yang kehilangan rumah,” pungkas Mulkana.

Tantangan pemulihan di Aceh Tamiang kini memasuki fase kritis, di mana bantuan tidak lagi sekadar berupa sembako, tetapi mendesak untuk difokuskan pada penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi darurat, dan upaya kesehatan lingkungan untuk mencegah munculnya wabah lanjutan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *